Peran Pemuda dalam Membangun Bangsa

YouthGroupOleh : Yayan M. Royani*

Soekarno berkata, “Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Pidato proklamator pada saat itu tentunya bukanlah pepesan kosong. Dalam sejarah revolusi bangsa ini, pemuda selalu berada di garda depan perubahan sosial. Hal tersebut tidak lepas dari hakikat pemuda dengan seluruh idealismenya. Pemuda merupakan simbol semangat, pantang menyerah, perlawanan, dan patriotisme.

Menengok lebih jauh, selain dengan mengangkat senjata, mereka pun berjuang dengan pena dan diplomasi. Bisa dilihat dari peran mereka dalam mendirikan organisasi-organisasi kemasyarakatan modern pada saat itu. Sebut saja Organisasu Budi Utomo (1908), Jong Sumatera Bons, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, Jong Indonesia, Indonesia Muda, Organisasi Perkumpulan Daerah, dan lain-lain. Dengan semangat membara mereka melakukan perubahan, sehingga memberikan pengaruh kuat bagi terdorongnya seluruh elemen bangsa untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan negeri ini.

Selain simbol inspirasi dan perjuangan pada masanya, para kaum muda juga telah menjadi pelopor persatuan dan kesatuan NKRI. Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 merupakan momentum tidak terbantahkan dari usaha mereka dalam menyatukan bangsa ini. Dengan penuh kesadaran dan kerelaan hati, mereka bersumpah untuk satu hati, satu tujuan mewujudkan mimpi melepaskan diri dari penjajahan dan kolonialisme.

Setelah kemerdekaan diraih, selanjutnya kaum muda tidak lantas berpangku tangan begitu saja. Mereka terus berusaha dengan gigih mempertahankan dan mengisinya dengan berbagai aksi nyata demi kemajuan negara. Peran mereka diperhitungkan tidak hanya dalam dunia perpolitikan praktis, lebih dari itu sejak tahun 1945, bahkan sebelum itu, telah berdiri berbagai komunitas studi di asrama-asrama mahasiswa. Oleh karenanya, tidak mengherankan apabila kritik-kritik cerdas lewat tulisan yang menghiasi berbagai media, merupakan buah karya kaum muda.

Sampai pada masa Orde Baru, di tengah cengkeraman penguasa yang otoriter, kaum muda terus berjuang melepaskan diri dari kolonialisme jilid dua dengan seluruh kesungguhan dan pengorbanan. Berbagai aksi yang dilakukan kaum muda, khususnya mahasiswa, menginspirasi seluruh elemen masyarakat untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang dirampas penguasa korup dan penindas. Sayangnya, fenomena heroisme kaum muda, ternyata harus berakhir seiring dengan runtuhnya rezim diktator tersebut. Di saat kaum muda dihadapkan dengan era reformasi dengan segala perubahan dan kebebasan, mereka berada di persimpangan jalan.

Disorientasi Kaum Muda Masa Kini

Melihat perkembangan saat ini, di mana kemerdekaan dan kebebasan telah diraih, justru kaum muda seakan kehilangan arah dan tujuan. Pesatnya perkembangan dalam segala bidang, khususnya teknologi dan informasi telah memanjakan mereka, sehingga “galau” dalam menentukan apa yang harus mereka capai. Teringat dengan segala keterbatasan yang dimiliki pemuda di masa lalu, toh mereka tetap semangat dan pantang menyerah. Mereka tidak pernah mengalami disorientasi untuk menggapai cita-cita yang mereka impikan.

Dengan telah diraihnya seluruh tujuan besar perjuangan nasional, kaum muda saat ini seakan tidak memiliki motivasi cukup kuat untuk melakukan perubahan yang berarti bagi Indonesia. Pemikiran tersebut tentunya sangat keliru, mengingat permasalahan dan tantangan yang dihadapi bangsa ini jauh lebih kompleks dan berat dibanding era memperjuangkan kemerdekaan.

Tidak hanya tuntutan peran dalam menyikapi permasalahan politik yang bobrok, hukum yang amburadul dan sistem ekonomi yang memiskinkan rakyat, lebih dari itu adalah tugas kaum muda untuk mendewasakan pemikiran dan membangun moral serta mental masyarakat. Dengan kata lain, sesungguhnya mempertahankan dan mengisi kemerdekaan lebih membutuhkan motivasi, semangat dan pengorbanan lebih besar, dibanding saat meraihnya.

Kesalahan dalam mengartikan perjuangan nasional hanya mencapai kemerdekaan dari penjajah secara kasat mata, telah berdampak kepada disorientasi kaum muda dalam mencari bentuk perjuangan/pengabdian untuk bangsanya. Seakan tidak ada common enemy, mereka terlena dengan stabilitas semu, padahal semakin hari problem kebangsaan semakin akut dan sudah berada di ujung tanduk kehancuran. Keadaan tersebut diperparah dengan pola pikir kaum muda yang lebih mementingkan pragmatisme sektoral daripada memikirkan kemaslahatan umum yang lebih luas, akibatnya rasa persatuan dan kesatuan semakin hari semakin terkikis dari hati sanubari mereka.

Kaitannya dengan hal tersebut di atas, terjawab sudah pertanyaan mengapa saat ini kaum muda lebih membutuhkan semangat dan motivasi lebih besar dibanding masa lalu? Oleh karena mereka hidup di zaman yang penuh dengan ketidakpastian, sudah saatnya kaum muda memastikan kehidupan dengan bangkit dan mengambil peran. Dalam upayanya tentu dibutuhkan keyakinan dan usaha besar untuk memastikan bahwa sosok mereka cukup bisa diandalkan untuk melakukan perubahan.

Mencari Stimulus

Secara umum, tantangan yang dihadapi kaum muda saat ini meliputi faktor eksternal dan internal. Kedua faktor tersebut bisa berupa tantangan-tantangan yang berasal dari luar maupun dalam diri kaum muda, termasuk tantangan kaum muda untuk bisa survive dalam ketatnya persaingan dan untuk bisa mempunyai bargaining position sebagai sosok perubahan yang diharapkan. Sementara yang lainnya berkaitan dengan permasalahan mental kaum muda yang saat ini telah mengalami dekadansi moral.

Lebih dalam lagi, faktor eksternal menitikberatkan kepada faktor yang menyebabkan kaum muda teralineasi dari definisi dirinya sendiri. Semakin deras arus globalisasi, semakin kaum muda tidak lagi mengenal identitas pribadi, keluarga, bahkan bangsa dan negaranya. Wujud alineasi tersebut adalah egoisme kaum muda yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dengan dilandaskan pada paham hedonisme yang mengusung filsafat kenikmatan, sehingga keberadaan mereka tidak mempunyai nilai sama sekali bahkan tidak jarang justru menjadi beban masyarakat.

Berdasarkan fakta kekinian, maka tidak banyak ditemukan kaum muda yang masih peduli dengan problem-problem sosial. Mereka lebih banyak disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya pemenuhan kebutuhan personal. Sudah jarang terlihat kaum muda melakukan aktivitas pendampingan, sebagai contoh, advokasi buruh, membela rakyat yang tertindas, dan kegiatan sosial lainnya. Sensitive minority mereka telah hilang seiring dengan lunturnya idealisme pengabdian mereka terhadap masyarakat.

Apabila kondisi seperti di atas tetap dibiarkan, maka kita tinggal menunggu masa suram depan suram negeri ini. Kaum muda terdidik yang mewakili masyarakat menengah (middle class), merupakan penyeimbang dari kebijakan-kebijakan penguasa yang tidak memihak kepada rakyat. Posisinya sebagai agen perubahan, mempunyai tugas berupa pemberdayaan civil society yang dapat terwujud apabila mereka terjun langsung dan berbaur dengan akar rumput. Dalam hal ini, kaum muda bukanlah seorang intelektual yang berada di menara gading.

Tidak lepas dari tanggungjawab terhadap masyarakat dan negara, kaum muda harus mempunyai kapasitas diri yang mumpuni. Mengingat beratnya tantangan pembangunan Indonesia di berbagai bidang, sebut saja ekonomi, sosial dan budaya, maka kemampuan mereka mutlak dibutuhkan. Sehingga apabila kaum muda tidak mendapatkan stimulus untuk secara profesional disiapkan sebagai pengganti generasi tua, niscaya tidak akan ada kesejahteraan di masa yang akan datang. Sebaliknya, harapan bagi bangsa yang gemah ripah loh jinawi menjadi hal yang mustahil terwujud.

Melihat kenyataan tersebut, dibutuhkan peran seluruh elemen untuk membangun kembali kepercayaan generasi muda akan potensinya yang terpendam. Berilah kesempatan kepada mereka untuk bisa menjalankan tugas dan wewenang. Lain dari itu, pembangunan kapasitas diri seorang pemuda merupakan hal yang tidak terpisahkan dari bagaimana masyarakat mempercayai kaum muda. Dalam hal ini, harus terjadi hubungan timbal balik antara pemuda dan generasi sebelumnya berupa proses pengkaderan dan pembekalan yang berkelanjutan. Para pendahulu diharapkan dapat terus mendampingi dan mengarahkan para generasi penerus untuk terus meningkatkan diri, sehingga di masa yang akan datang, mereka lebih baik dari generasi sebelumnya.

Adapun kaitannya dengan faktor internal, maka hal tersebut berhubungan dengan merosotnya mental kaum muda saat ini. Tidak jarang kita melihat berbagai bentuk problem sosial kemasyarakatan diakibatkan oleh perilaku kaum muda yang menyimpang. Dengan potensi yang besar untuk melakukan hal yang negatif, maka dapat menjadi sebaliknya ketika diarahkan kepada hal yang positif. Oleh karenanya, sedapat mungkin kaum muda dapat melampiaskan potensinya kepada hal-hal yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Selanjutnya pemerintah dapat memfasilitasi penyerapan potensi besar tersebut dengan memberinya ruang di berbagai segmen usaha, mau pun yang lain.

Menumbuhkan mental yang sehat tentunya tidak hanya dengan penyaluran potensi dan bimbingan praktis saja, lebih dari itu memerlukan sentuhan spiritual yang baik. Yaitu dengan menumbuhkan kesadaran akan keesaan Tuhan berlandaskan ajaran agama maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Usaha tersebut diharapkan dapat menjadi pondasi yang kokoh bagi terbentuknya mental pemuda yang bersih dan baik. Selanjutnya adalah menumbuhkan kembali rasa nasionalisme kaum muda, dengan harapan patriotisme perjuangan mereka dapat mewarnai kembali semangat persatuan dan kesatuan bangsa ini untuk terus menjadi lebih baik.

 

*Penulis adalah pegiat Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang.

 

Advertisements

Upaya Paus Fransiskus Menghentikan Serangan terhadap Suriah

Vatican PopeLima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB bertemu di New York untuk membahas usulan resolusi PBB untuk Suriah yang diusulkan negara-negara Barat, terutama Prancis. Namun, Rusia tetap bersikeras menentang resolusi yang dianggap sebagai provokasi terhadap sekutunya itu. Pembicaraan selama satu jam berakhir buntu.
Kelima negara anggota DK PBB dijadwalkan bertemu lagi pada Rabu (18/9). Prancis bersikeras agar kesepakatan penyerahan senjata kimia Suriah disertai tindakan kekuatan militer seperti pada Bab VII Piagam PBB.
Rusia menolak mentah-mentah usulan Prancis itu. Dunia berharap agar cara damai dan diplomasi politik dalam menyelesaikan persoalan Suriah. Perang akan menghancurkan keadaban kemanusiaan dan menimbulkan trauma sejarah yang panjang.
Jutaan manusia akan menjadi korban sia-sia maka dibutuhkan sebuah kesadaran bersama bagaimana pun perang bukan cara terbaik. Dalam hal ini, Paus Fransiskus berupaya mencari cara damai bagi Suriah. Lewat upaya–upaya diplomasi untuk melobi negara Eropa dan Amerika Serikat tidak menggunakan senjata menyelesaikan konflik Suriah.
Paus Fransiskus menulis surat kepada para pemimpin G-20 yang saat ini mengadakan KTT di kota St Petersburg, Rusia, menegaskan bahwa intervensi militer untuk mengatasi konflik di Suriah akan “sia-sia”. Paus mendesak mereka untuk mencari solusi diplomatik sebagai ganti dari rencana aksi militer itu.
Dalam surat terbukanya tersebut Paus Fransiskus menulis, “Kepada para pemimpin saat ini, kepada setiap (dari mereka) dan siapa saja, saya mengimbau mereka dengan hati yang tulus untuk membantu mencari cara-cara mengatasi konflik dan mengesampingkan solusi militer yang sia-sia.”
Paus Fransiskus juga mengecam masyarakat internasional karena membiarkan “kepentingan sepihak” telah mencegah mereka untuk mencari solusi. Walau prihatin dengan “pembantaian yang sedang berlangsung” di Suriah, Paus menolak seruan serangan militer terhadap pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Konferensi Waligereja Amerika Serikat juga telah mendesak Presiden Obama dan Kongres untuk tidak menggunakan kekuatan militer di Suriah. “Sebuah pertanyaan moral mendasar adalah akan lebih banyak atau lebih sedikit nyawa dan mata pencaharian yang dihancurkan intervensi militer itu?” tulis Timothy Kardinal Dolan dari New York dan Uskup Richard Pates, yang mewakili para uskup itu, kepada Kongres AS pada Kamis.
Gerakan masyarakat internasional menghentikan Perang sebagai solusi harus dilihat sebagai bentuk solidaritas internasional untuk menciptakan perdamaian sejati.
Hal ini ditegaskan dalam Pacem in Terris Paus Yohanes XXIII yang mengemukakan masalah perdamaian bukan hanya perkara tidak ada perang, melainkan erat terkait keadilan. Apabila masalah kemiskinan dan ketidakadilan tidak diatasi, mustahillah dunia ini dapat mengalami hidup secara damai.
Atas dasar hukum kodrat yang tertulis dalam hati manusia, Paus Yohanes XXIII memikirkan dan mengembangkan tatanan moral untuk menuntun kehidupan manusia menuju perdamaian dalam empat segmen, yakni ketertiban antara manusia, hubungan antarindividu dan negara, hubungan antarnegara, dan komunitas dunia.
Secara progresif, Paus Yohanes XXIII menempatkan hak-hak asasi manusia sebagai yang utama dalam mewujudkan perdamaian di dunia. Beliau juga membuat distingsi antara ajaran ideologi yang palsu dan gerakan-gerakan sejati yang menanggapi masalah sosial dan ekonomi.
Paus Yohanes XXIII menegaskan, ”tidak pernah dunia akan menjadi kediaman damai, selama damai belum menetap di hati semua dan setiap orang, selama tiap orang belum memelihara dalam dirinya tata-tertib yang oleh Allah dikehendaki supaya dilestarikan.” (PT 165).
Pada bagian terakhir beliau berharap dan berdoa, ”Semoga Kristus mengobarkan keinginan semua orang untuk mendobrak palang-perintang yang menceraikan mereka, untuk meneguhkan ikatan-ikatan cinta kasih timbal-balik, untuk belajar saling memahami, dan mengampuni siapa pun yang bersalah kepada mereka. Supaya turunlah damai atas kawanan yang dipercayakan kepada penggembalaan anda, demi kesejahteraan khas mereka yang paling jelata dan paling membutuhkan bantuan serta pembelaan…” (PT 171, 172).
Sikap menjadi dasar Gereja Katolik mengupayakan perdamaian dunia menjadi bagian integral keberimanan. Hal ini selaras dengan konsitusi kita memberikan kewajiban bagi negara untuk mengupayakan perdamaian dunia. Semoga perang bukan lagi cara dilakukan, melainkan bagaimana upaya–upaya di plomasi menciptakan solusi terhadap persoalan yang terjadi di Suriah
*Penulis adalah budayawan.

Setia Bersama Domba

yesus-gembala-domba

Kisah iman ini masih terkait dengan kisah iman yang lalu. Peristiwanya adalah “kecelakaan” yang menimpa rombongan Timin itu. Karena tiga ban bus sebelah kanan, depan, dan belakang pecah, otomatis bus juga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Bus yang kami tumpangi tak cukup hanya mengganti tiga ban, tetapi juga harus mengganti velg yang peyok. Karena itu, rombongan terpaksa menunggu bus pengganti yang akan menjemput ke TKP.

Saat Timin bersama rombongan sedang menunggu bus yang mereka tumpangi diganti bannya, tiba-tiba seorang bapak mendekati Timin. Dia adalah Pak Martin, salah satu umat Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang. Tampaknya, Pak Martin melihat Timin yang sedang berdiri di tepi jalan di dekat bus yang mengalami kecelakaan tunggal tersebut.

“Romo mau ke mana?” Ayo bersama saya?!” sapa Pak Martin. “Saya mau ke Ganjuran bersama rombongan ini,” jawab Timin. “Ayo ikut saya, nanti saya antar ke Ganjuran!”. “Terima kasih, Pak! Saya harus bersama mereka (yakni rombongan perjalanan yang akan pergi ke Ganjuran untuk merayakan Pesta HUT Imamat beberapa Pastor yang telah disebutkan sebelumnya).”

Pak Harsono dan Pak Alamsyah mendesak agar Timin menerima tawaran Pak Martin. “Supaya Romo tidak terlambat mengikuti perayaannya.” Timin tak bergeming. Prinsip yang dipegang Timin sederhana saja. Ia belajar setia menyertai kawanan dombanya yang sedang diserahkan kepadanya untuk disertai, termasuk yang ikut dalam rombongan itu. Maka, ia menolak tawaran Pak Martin dan desakan Pak Harsono dan Pak Alamsyah. “Saya berangkat bersama kalian. Maka, saya akan tetap bersama kalian dalam suka maupun duka!” sahut Timin.

Tawaran untuk bareng dengan rombongan lain juga diterima Timin. Namun, sekali lagi, Timin menolak, dengan alasan dan prinsip yang sama. Biarlah, sebagai seorang imam yang juga disebut pastor, yang artinya gembala, ia belajar setia menyertai domba-dombanya. Mana tega, membiarkan mereka terlantar tanpa gembala dalam keadaan yang tidak pasti menunggu kendaraan lain.

Timin tetap belajar setia bersama dengan umat yang berada dalam rombongan tersebut. Maka, Timin pun tetap setia menunggu bus lain yang akan datang menjemput mereka dan membawa mereka menuju Ganjuran. Meski cukup lama meunggu, semua harus tetap sabar dan setia.

Dalam keadaan itu, yang terngiang dalam benak Timin adalah sabda Sang Gembala, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya untuk domba-dombanya. Orang upahan yang bukan gembala dan bukan juga pemilik domba-domba itu, akan lari meninggalkan domba-domba kalau ia melihat sergala datang.” (Yohanes 10:11-12). Yang dihadapi Timin dan domba-dombanya memang bukan sergala. Dalam situasi itu, Timin belajar setia menyertai domba-dombanya. (Timin)

 

Sumber: Majalah INSPIRASI, Nomor 109 Tahun X September 2013, halaman 3.

Meminta Maaf-dan-Memaafkan

shake hands

Pagi itu, kami meluncur dengan bus menuju Ganjuran dari Kebon Dalem, untuk menghadiri Perayaan Ulang Tahun Imamat para Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang. Romo Suni pesta perak. Romo Hantara dan Romo Riawinarta Pesta 40 Tahun Imamat. Dan Romo Utomo Pesta Emas Imamat.

Kami Pengurus Dewan Harian Paroki St. Fransiskus Xaverius mendapat undangan dari panitia/UNIO KAS. Demi menghormati undangan yang juga sangat terhormat tersebut, maka, dalam Rapat Dewan Harian Paroki St. Fransiskus Xaverius, diputuskan, semua anggota Dewan Harian wajib ikut menghadiri perayaan tersebut. Sengaja kami usulkan menyewa bus pariwisata yang memadahi agar semua menjadi nyaman. Jumlah peserta yang ikut boleh ditambah dengan siapa pun yang berkenan ikut. Diutamakan unsur kaum muda diikutkan dalam rangka panggilan imamat.

Begitulah, karena dalam undangan tertera, acara dimulai pukul 09.00, maka pagi-pagi benar, pukul 04.35 kami sudah berangkat. Sejak mulai perjalanan, Timin sudah merasa tidak nyaman. Pertama, bus yang dipesan “judulnya” tidak sesuai dengan pesanan. Timin pun berkomentar, “Kok bukan yang itu, tetapi yang ini?” Jawaban diberikan, “Sama kok. Ini lebih tinggi!” Timin taat. Apa boleh buat. Kedua, rasa tidak nyaman terasa, sebab cara sopir me-ngegas dan mengerem, sering nyendal dan ngaget. Bahkan, saat toilet-stop, Pak Alamsyah mengeluh, “Pusing. Mabuk!” Timin pun merasakan hal yang sama.

Perjalanan berlanjut. Timin yang duduk persis di belakang sopir memejamkan mata untuk tidur. Namun, tiba-tiba terdengar suara hantaman, dan seakan ada sesuatu yang terseret. Terdengar jeritan pula para penumpang, jufa bus sedikit oleng dan terasa seperti melompati sesuatu. Ternyata bus menabrak pembatas jalan sehingga ketiga ban bagian kanan depan-belakang pecah, bahkan velg-nya penyok.

Kami semua cemas. Jadwal pasti tidak terkejar alias terlambat. Kami menunggu bus pengganti. Sementara menunggu, terdapat hal yang mengharukan. Pak sopir dengan menggunakan mikrofon bus, mengakui bahwa dirinya mengantuk dan terjadilah musibah itu serta memohon maaf kepada kami semua. Timin pun, atas nama rombongan memberikan maaf dan mensyukuri bahwa tidak ada korban (meskipun ada satu penumpang yang terjerembap ke lantai karena tidak mengenakan sabuk pengaman, dan punggung Timin pun terasa sakit karena serasa terbanting saat bus tersebut seperti melompat karena menabrak pembatas jalan tersebut).

Alangkah indahnya bila kita bisa meminta maaf-dan-memaafkan. Saling memaafkan itu undah seperti diajarkan Yesus dalam Matius 18:22, bahwa kita harus mengampuni sampai 70 x 7 kali. Bahkan dalam Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus, kita tidak akan diampuni kalau kita sendiri tidak mau mengampuni orang lain. Memaafkan adalah awal dari sebuah pengampunan. (Timin).

 

Sumber: Majalah INSPIRASI, Nomor 108 Tahun IX Agustus 2013, halaman 3.

Lagi-lagi, Anak Kecil Pemilik Kerajaan Surga

kids

 

Sambil menunggu jemputan umat untuk Perayaan Ekaristi di lingkungan, Timin masuk ke dalam Kapel Adorasi Ekaristi Abadi St. Maria Bunda Sakramen Mahakudus yang berada di kompleks pastoran Kebon Dalem. Sedikitnya sepuluh orang berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus malam itu. Dua di antaranya anak-anak yang berdoa bersama ibunya.

Sang kakak duduk sambil membaca Kitab Suci. Usianya masih SD. Anak itu juga belum menerima komuni pertama, sebab saya hafal, setiap kali mengikuti Perayaan Ekaristi, dia maju menerima “komuni bathuk” alias berkat di dahi. Tentu saja, adiknya lebih kecil lagi.

Sementara sang kakak asyik membaca Kitab Suci, sang adik duduk manis sambil memegang bolpoint dan membuat sesuatu. Sedangkan ibunda mereka asyik berdoa di belakang mereka. Timin bersimpuh di hadapan Sakramen Mahakudus di samping anak kecil yang sedang asyik membuat sesuatu dengan balpointnya di atas secarik kertas.

Selesai berdoa, Timin melirik anak kecil itu. Ternyata, anak itu menggambar sesuatu. Anak itu sesekali mendongakkan wajahnya lalu menunduk dan membuat coretan. Ia menggambar. Yang dia gambar adalah dua pilar yang ada di samping altar utama Kapel Adorasi. Dan di antara pilar-pilar itu ada empat bunga matahari yang mirip monstran tempat Sakramen Mahakudus ditahtakan. Di atas pilar terhadap lima kumbang, tiga awan dan satu matahari dengan garis-garis sinarnya dan pada bulatan matahari terhadap dua mara dan bibir yang melengkung. Di antara kumbang-kumbang terdapat lima lengkung dan garis tampak seperti buku, atau dua pintu jendela. Saya tidak tahu apa maksud dari semua itu. Di sudut kanan atas terdapat tulisan EliA 12.

“Boleh gambarnya buat saya?”, tanya Timin. Anak itu mengangguk. Dan menyerahkan kertas bergambar karyanya itu sambil tersenyum. Setelah itu, dia mengambil kertas kosong lagi entah mau menggambar apa lagi, Timin tidak tahu, karena ia harus segera berangkat ke lingkungan.

Timin bahagia menyaksikan dan mengalami Kerajaan Allah dalam diri anak kecil itu. Ia juga berterima kasih bahwa ibunda anak itu mengajak si kecil berada di Kapel Adorasi Ekaristi Abadi tanpa keributan, di ahening asyik dengan aktivitasnya tanpa mengganggu orang lain nemun berada di ruang kudus di hadapan Sakramen Mahakudus. Luar biasa!

 

Sumber: Majalah INSPIRASI , Nomor 101 Tahun IX Januari 2013 halaman 3.

Saatnya Pemimpin Bertindak

oratorOleh: Benny Susetyo*

“KAMI tidak akan menoleransi setiap tindakan kekerasan oleh kelompok yang mengatasnamakan agama. Kami juga tidak akan membiarkan penodaan tempat ibadah agama apa pun untuk alasan apa pun. Kami juga akan melindungi minoritas dan memastikan tidak ada yang mengalami diskriminasi. Kami juga akan memastikan siapa pun yang melanggar hak yang dimiliki kelompok lain akan menghadapi proses hukum,” kata Presiden SBY.

Menurutnya, pemerintah terus melangkah untuk memastikan semua penganut agama hidup dalam kebebasan beribadah dan juga hidup secara berdampingan dalam persaudaraan. Pernyataan Presiden disampaikan dalam acara penyerahan penghargaan World Statesman Award di New York, Kamis (30/5/2013) malam waktu setempat atau Jumat (31/5/2013) pagi waktu Jakarta. Janji ini sekarang ditunggu publik. Dalam realitasnya, kekerasan seperti gunung es ini bisa dilihat berdasarkan catatan Kontras, sejak SBY memerintah, terjadi lebih dari 500 peristiwa kekerasan. Kekerasan tidak hanya dialami kelompok minoritas seperti Syiah dan Ahmadiyah. Kelompok agama yang diakui pemerintah juga menjadi korban, seperti GKI Yasmin dan Huria Kristen Batak Protestan di Jawa Barat, kelompok penghayatan kepercayaan. Kesannya kekerasan tidak pernah ditindak serta tidak ada politik will dalam mencegah terjadinya kekerasan.

Banyak kontradiksi. Dalam konstitusi yang lebih tinggi, kebebasan umat beragama untuk beribadah dijamin, tapi dalam peraturan di bawahnya terdapat kecenderungan menghambat umat untuk beribadah. Ada pengekangan. Misalnya, dalam konteks rumah ibadah, itu bukanlah soal bagaimana suatu rumah ibadah diserbu bahkan dibakar sekelompok orang yang menjadi persoalan utama. Itu sekadar ekses saja. Jauh lebih penting dipikirkan adalah bagaimana peran pemerintah menjadi mediator, perumus, dan pelaksana kebijakankebijakan yang mengatur pendirian rumah ibadah.

Berbagai aturan dan kebijakan pemerintah dalam pelaksanaannya justru melahirkan umat yang berdampak tidak dewasa memandang umat lain. Tentu bukan umat beragama yang serta-merta harus dipersalahkan dalam kasus ini, melainkan ketidakmampuan pemerintah untuk melihat pluralitas dengan kacamata lebih adil dan menguntungkan bagi semua. Negara gagal memberikan perlindungan dan kesempatan yang adil bagi semua pemeluk agama untuk beribadah sesuai keyakinannya masing-masing. Jika demikian, ada pertanyaan yang sangat menohok: lalu Pancasila untuk apa? Untuk apa para founding fathers merumuskan falsafah bangsa yang demikian berharga dan terhormat itu jika dalam perilaku sehari-hari kita tidak bisa mempraktikkannya dengan sepenuh hati?

Ruang dialog. Walaupun kehidupan sosial politik kita sudah mengalami kebebasan, nyatanya itu belum berimplikasi pada kebebasan asasi warga untuk beribadat. Beribadat adalah hak warga paling asasi dan hanya rezim komunis yang melarangnya. Rezim seperti apakah kita ini ketika membiarkan kekerasan dalam beragama tanpa adanya ruang dialog untuk membicarakan ulang secara lebih manusiawi Pemerintah berkewajiban untuk menjaga, melestarikan, dan meningkatkan kesadaran dan kedewasaan umat terutama dalam pandangannya terhadap umat dan keyakinan beragama yang dianggap `lain’. Pemerintah berkewajiban untuk memberikan pencerahan dan pendewasaan pemikiran umat akan toleransi dan pluralisme. Itulah yang dimaksudkan Pancasila sebagai falsafah. Dengan begitu, kebijakan yang berpeluang menum buhsuburkan antipati terhadap saudara sebangsanya yang lain perlu didudukkan ulang untuk dibahas dan diganti dengan kebijakan yang lebih adil dan mencerahkan. Untuk apakah mempertahankan sesuatu yang dianggap tidak adil?

Pemerintah harus mendengar dan benar-benar mendengar tuntutan seperti ini. Selama ini kekerasan telah menjadi model yang sering dibungkus dengan ornamen keagamaan dan kesukuan. Inilah yang membuat wajah kekerasan semakin hari semakin subur di Bumi Pertiwi ini. Meski kita seharusnya merajut nilai persaudaraan yang secara jelas mengacu pada Pancasila, tapi kian hari Pancasila tidak lagi menjadi tujuan hidup bersama. Pancasila yang seharusnya menjadi perekat kehidupan bangsa tampak semakin hari semakin terkikis oleh kefasikan keagamaan, kedaerahan, dan kesukuan. Pancasila sering diucapkan, tapi sama sekali tak dipahami maknanya.

Sekarang dibutuhkan ketegasan pemimpin untuk mengembalikan kembali roh Pancasila menjadi dasar hidup berbangsa dan bernegara. Negara ini sebenarnya didirikan bagi semua warga negara dan tidak mengenal diskriminasi karena semua ikut berjasa mendirikan negara ini. Ketegasan dibutuhkan untuk mengembalikan kembali martabat agar bangsa ini mampu berdiri tegak pada cita­cita bersama, yakni semangat proklamasi. Semoga para pemimpin menyadari bahwa di pundak merekalah kewajiban harus dijalankan demi keutuhan serta kesejahteraan bangsa.

Inilah yang ditunggu publik, memenuhi janji untuk menindak pelaku kekerasan yang mengatasnamakan apa pun tidak dibenarkan di republik ini. Setiap warga negara berhak mendapatkan jaminan yang sama di mata hukum. Semoga janji bukan sekadar janji, melainkan direalisasikan dalam tindakkan.

 

* Penulis adalah Sekretaris Dewan Nasional Setara.

Kemungkinan Mendongkrak Nasionalisme Anak Bangsa

nasinalisme 2Oleh: Drs. Arcadius Benawa, M.Pd

Membangkitkan cinta Tanah Air dalam kondisi masyarakat Indonesia seperti sekarang ini rasanya menjadi maju-mundur. Pasalnya, ketika penulis mengampu mata kuliah “Human Character Behaviour” di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta Utara, dengan topik “Bangsa dan Negara” dan menekankan perlunya kita berbangga dengan bangsa sendiri, serta merta ada mahasiswa yang bertanya dengan nada pesimis. “Bukannya kita tidak mau bangssa dengan bangsa sendiri, Pak, tetapi bagaimana kita akan bangssa dengan bangsa sendiri dengan membeli produk dalam negeri kalau kualitasnya tidak bagus. Bagaimana kita cinta dengan negeri ini dengan setia membayar pajak, Pak, kalau uang pajak tidak jelas alokasi pemanfaatannya bahkan dinikmati oleh oknum pejabatnya?”

Hal itu tidak saja dirasakan oleh mahasiswa. Rupanya jauh hari sebelumnya, Azyumardi Azra (2008: 36) sudah prihatin dengan apa yang bisa ia tengarai. Dikatakannya bahwa berbagai kekerasan  yang mengorbankan nyawa dan harta benda yang marak akhir-akhir ini tidak luput dari bertahannya “kekerasan struktural” (structural violence) baik di bidang politik, ekonomi, militer, teknologi, informasi, maupun sosial-budaya. Akibatnya, perdamaian hakiki tidak pernah berhasil diwujudkan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, Indonesia hanya mampu mengatasi krisis ekonomi dan politik secara relatif sangat lamban. Politik memang kelihatan relatif lebih stabil sejak masa Presiden Megawati Soekarnoputri hingga sekarang, sementara kondisi ekonomi belum sepenuhnya membaik, meski mobil-mobil mewah built up semakin banyak berseliweran di jalan raya khususnya di ibukota ini.

Kehidupan yang sangat kontras yang mengerikan. Kengerian semakin diperparah dengan ancaman disintegrasi sosial dan politik baik secara vertikal maupun horisontal. Benih-benih disintegrasi dan konflik-konflik serta kekerasan sosial masih terus bertumbuh karena berbagai faktor. Belum lagi adanya krisis budaya dan agama, yang makin menunjukkan masyarakat kita sedang dilanda keterpecahan kepribadian (split personality) yang menggejala. Sementara upacara keagamaan diselenggarakan dengan megah dan gegap gempitadan bangunan-bangunan tempat ibadah marak dibangun di mana-mana, namun korupsi dan segala fenomena sosial seperti disebut Azyumardi Azra di atas terus menyeruak. Lalu pertanyaannya adalah bagaimana dalam kondisi karut marut tidak karuan ini kita bisa membangun nasionalisme anak bangsa atau membangkitkan rasa cinta pada Tanah Air?

Menumbuhkan dengan Menggali. Memang kita rasanya bisa larut dalam pesimisme menghadapi karut marut persoalan yang dihadapi bangsa kita, bahkan kita pun bisa apatis karenanya. Akan tetapi, kalau semua bangsa bersikap seperti itu, akan menjadi apa bangsa dan negara ini? Bukankah mantan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang terkenal itu pernah berkata, “Janganlah engkau bertanya apa yang diberikan Negara kepadamu, melainkan bertanyalah apa yang bisa engkau berikan untuk Negaramu?”. Singkatnya, menghadapi kondisi tak ideal itu, yang penting adalah bagaimana kita masing-masing maupun sebagai kelompok menggugat diri untuk dapat lebih berkontribusi bagi terciptanya negeri yang membanggakan sehingga setiap warganya pun memiliki rasa cinta pada bangsa dan negara ini.

Ada sejumlah pengakuan bahwa tidak mudah untuk serta merta memiliki rasa cinta pada bangsa dan negara. Bukan karena tidak ada nasionalisme, melainkan justru karena anak bangsa muak dengan perilaku para elit bangsa yang mestinya menjadi suri tauladan justru menjadi batu sandungan. Maraknya kasus korupsi yang melibatkan para elit bangsa di yudikatif, legislatif, maupun eksekutif. Lemahnya penegakan hukum yang hanya tajam untuk wong cilik dan tumpul untuk para elit bangsa, serta terus berkecamuknya kekerasan dan tingkat kriminalitas di tengah masyarakat, ikut andil dalam kesulitan itu. Tetapi tentu hal itu tidak akan menyelesaikan masalah.

Oleh karena itu, harus ada perubahan mindset. Orang kerapkali berkata, “Tidak mudah menumbuhkan nasionalisme di antara anak bangsa saat ini, karena tidak adanya faktor-faktor yang mendukung itu!” Namun di sisi lain, penulis terinspirasi oleh ungkapan Prof. Dr. Soedijarto, M.A., yang dalam pelbagai kesempatan mengungkapkan bahwa dirinya bisa menjadi seperti sekarang itu tidak luput dari kebaikan Negara yang sempat ia alami. Negara telah membiayai pendidikannya di dalam dan di luar negeri. “Maka, kalau sebagai pejabat negara saya masih korupsi, kok kebangetan betul saya ini,” demikian tegasnya. Lewat ungkapan Prof. Soedijarto itu, poin pentingnya adalah bagaimana Negara melalui para penyelenggara Negara sanggup menumbuhkan rasa hutang budi di antara anak bangsanya, sehingga tidak bisa tidak para anak bangsanya itu terpacu untuk berbuat sesuatu demi kebaikan bangsa dan negaranya.

Pertanyaannya adalah, adakah langkah-langkah konkret seperti itu? Kalau ternyata yang ada justru anak bangsa menjadi sakit hati dengan para penyelenggara negara yang mudah berkelit dalam menatap ketidakbaikannya. Alih-alih menumbuhkan rasa hutang budi kepada para anak bangsa, justru malah melakukan pelbagai penyelewengan demi memperkaya diri sendiri atau kelompoknya. Kalau sudah demikian, kapan anak bangsa akan berbangga dengan bangsanya sendiri?

Belajar dari Negeri Matahari Terbit, Jepang, yang anak bangsanya memiliki nasionalisme tinggi. Hal itu tidak lepas dari integritas para penyelenggara negaranya yang benar-benar membela dan memperjuangkan anak bangsanya. Ketika terjadi tsunami beberapa waktu lalu, kita ingat bagaimana pemerintah setempat langsung membenahi fasilitas umum. Sementara di negeri ini, fasilitas umum sepertinya bukannya dijaga agar berfungsi dengan baik demi hajat hidup segenap warganya, tetapi malah dimanfaatkan sebagai proyek mengeruk uang. Contoh, jalan Pantura yang dijadikan proyek abadi yang semua orang melihat dan merasakan kebaikannya jalan itu hanya beberapa saat sebelum atau pun setelah Lebaran. Setelah itu jalan kembali bopeng-bopeng, yang makin hari makin parah. Demikian pun listrik, hanya TDL-nya yang dinaikkan tetapi servis keberlangsungannya masih pantas dipertanyakan.

Salah satu hal yang membanggakan kita sebagai satu kesatuan anak bangsa tercermin dalam semboyan negara kita, Bhineka Tunggal Ika. Hal ini juga digarisbawahi oleh Anhar Gonggong, sejarawan kondang dari Universitas Indonesia. Dikatakannya, “Dengan keberadaan suku bangsa yang demikian itu (beragama – pen.), maka strategi yang dapat dikembangkan ialah menjadikan keberagaman etnik dengan segala latar budaya masing-masing sebagai milik bersama, sebagai kekayaan bangsa-negara!” (Anhar Gonggong, 2008, h. 68 dalam Refleksi Karakter Bangsa).

Pancasila, Pupuk Subur Nasionalisme. Mendongkrak nasionalisme juga tidak mungkin tanpa membangun karakter bangsa (national character). Menurut Tilaar (2008: 25-26), karakter bangsa itu menyangkut segi etis, yang menjadi milik masyarakat atau bangsa. Maraknya pembicaraan tentang karakter bangsa ditengarai sebagai kondisi masyarakat atau bangsa yang sedang mengalami kehilangan karakter, identitas, atau jatidirinya sebagai bangsa. Lebih rinci, Tilaar mengatakan bahwa karakter bangsa itu tergantung dari beberapa hal, yakni:

  1. 1.      Bahwa masyarakat Indonesia itu bersifat sangat paternalistik. Dalam masyarakat seperti ini, perlu pemimpin yang jujur serta melaksanakan sendiri nilai-nilai yang disepakati bersama seperti nilai-nilai Pancasila. Menarik untuk menyimak filosofi seperti yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantara: Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
  2. Bahwa Pancasila itu telah disepakati dan diakui sebagai nilai-nilai yang harus dihormati untuk mengantar setiap manusia Indonesia di dalam kehidupan bersama. Oleh karena itu, nilai-nilai Pancasila harus dijabarkan di dalam kehidupan sehari-hari dari masing-masing etnis. Dengan demikian, Pancasila akan menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat, bahkan menjadi citra manusia Indonesia. Dengan citra itu, setiap manusia Indonesia akan mempunyai rasa kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Tidak berlebihanlah kalau di tingkat perguruan tinggi kini Pancasila menjadi salah satu matakuliah wajib.
  3. Bahwa mengembangkan kembali nilai-nilai Pancasila sebagai karakter bangsa merupakan landasan kebangunan kembali bangsa Indonesia dari keterpurukan. Untuk itu, Indonesia perlu belajar dari bangsa lain. Cina, misalnya, dapat bangun kembali dengan cepat karena bangsa itu mempunyai landasan yang kuat, yaitu karakter bangsa, sehingga kini Cina menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia yang dasyat justru karena mereka mempertahankan karakter bangsanya yang berdasarkan budaya Cina yang berumur ribuan tahun (Hoffman, 2008).
  4. Bahwa dalam terminologi Myrdal, bangsa dan negara Indonesia masih tergolong bangsa dan negara yang lembek. Untuk itu, perlu adanya seorang pemimpin nasional yang kuat agara dapat menjadi ikon bagi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila. Tak kurang dari Francis Fukuyama (2005) mengatakan bahwa state building dalam rangka pembangunan Indonesia hanya dapat terlaksana apabila kita melaksanakan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan state building yang ditaati oleh semua warga negara, Indonesia pasti dapat dengan cepat keluar dari keterpurukan, sehingga menjadi negara dan bangsa yang membanggakan sehingga bertumbuhlah nasionalisme dan patriotisme. Masing-masing akan merasa malu kalau tidak berkontribusi bagi bangsa dan negaranya.

 

Disadur dari Majalah EDUCARE No. 2 / X / Mei 2013, halaman 38-40.