Militansi Kaum Muda Katolik

Oleh : Markus Marlon, MSC

Ketika menjelang Paskah atau Natal, setiap paroki menggelar Persiapan Rapat Panitia. “Para pemain” semuanya adalah orang-orang lama (stock lama) dan tak pelak lagi, Orang Muda Katolik (OMK) “hanya” kebagian sebagai “tukang parkir kendaraan” dengan kata-kata indahnya, “untuk pencarian dana”. Itulah kaum muda harapan masa depan Gereja.

Apa itu militansi?

Kalau kita mendengar kata militansi, maka yang muncul dalam benak kita adalah militer yang penuh dengan disiplin, aturan dan latihan perang. Militer juga bisa disamakan dengan fighting, contending, dan combating. Kita bisa menyimak pepatah-pepatah Latin berikut ini. “Militia est vita hominis super terram” – hidup manusia di dunia ini merupakan sebuah perjuangan (Ayb 7:1). Ada lagi, “Militae species amor est” yang berarti cinta itu adalah sejenis pertempuran (kata-kata dari Ovidius, penyair Romawi Kuno).

Memang, hidup itu adalah berjuang – vivere militare. Hal ini berarti secara implisit, orang yang tidak berjuang akan “ketinggalan sepur” – ketinggalan kereta. Para pemuda pada masa mudanya menggunakan energinya untuk berjuang semaksimal mungkin. Untuk itulah Soekarno (1901-1970) pernah berkata, “Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada tanah air dan aku akan menggoncang dunia.” Maka tidak mengherankan jika kaum muda Katolik sering berteriak “Pro ecclesia et patria.” – Demi Gereja dan Negara.

Melirik kiprah pemuda tempo dulu

Apakah terbayang dalam benak kita bahwa pahlawan nasional kita sudah menelorkan ide-ide yang cemerlang di kala mudanya. Kartini (1879-1904) – meski kini disebut sebagai “Ibu Kita Kartini” – meninggal pada usia sangat muda. Bayangkan, betapa mudanya ketika ia berangkat ke dalam ide-ide besar, dengan masterpiece-nya “Door Duisternis Tot Licht” – Dari Gelap Terbitlah Terang. Bung Hatta (1902-1980), belum berumur 30 tahun ketika ia menjadi tokoh perjuangan merintis kemerdekaan. Masa pertempuran untuk kemerdekaan berkecamuk juga menyediakan momentum untuk anak-anak muda. Di tahun 1946, Panglima Divisi Siliwangi adalah seorang pemuda bernama A. H. Nasution (1918-2000), umurnya 28 tahun. Sewaktu Yogyakarta diduduki tentara Belanda, seorang perwira yang berumur 28 tahun juga memimpin serangan umum untuk merebut kota itu. Namanya Soeharto (1921-2006).

Tetapi kita juga harus berbangga sebab para perintis kemerdekaan dan pecinta tanah air adalah “OMK” pada zamannya. Ignatius Slamet Rijadi (1927-1950) sang penggagas berdirinya KOPASSUS; Mgr. Soegijapranata, SJ (1896-1963) penggagas 100% Katolik 100% Indonesia; IJ Kasimo (1900-1986) penggagas program pembangunan pertama sesudah Republik Indonesia merdeka (Kasimo’s plan); Komodor Yos Sudarso (1925-1962); dan Alb. Adi Sucipto (1916-1947).

Bagaimana dengan kita?

Zaman sekarang ini, para pemuda Katolik tidak memiliki “musuh nyata” yakni penjajah (imperialis) seperti yang dialami oleh para perintis kemerdekaan. Namun, perjuangan pemuda Katolik zaman sekarang adalah melawan neo-imperalisme, yakni bentuk-bentuk baru imperalisme yang muncul dalam politik ekonomi dan praktiknya dalam politik kebudayaan. Melalui kebudayaan, maka pengaruh sebuah negara terhadap negara lain akan semakin kuat dan itu menyebabkan negara yang dipengaruhi itu akan semakin lemah dan selanjutnya tidak memiliki kepribadian nasional yang dapat dibanggakan untuk pembangunan kebudayaan sendiri (Yapi Tambayong dalam bukunya yang berjudul Kamus Isme-Isme dalam entri “Imperialisme”).

Sungguh berat tanggungjawab para pemuda Katolik zaman ini. Peribahasa “Dunia tidak selebar daun kelor” kini menjadi kenyataan. Dunia bisa dilipat, bahkan dunia ada dalam genggaman tangan. Perkembangan teknologi tidak terbendung dan para pemuda seolah-olah kemblegan (kejatuhan) informasi yang simpang-siur. Pergaulan menjadi dangkal dan persahabatan semu bisa dilakukan secara virtual atau dunia maya. Dan ini secara tidak langsung memengaruhi kehidupan para pemuda Katolik itu sendiri. Sebagai contoh, OMK mengadakan latihan koor. TIba-tiba ada SMS yang diterima oleh ketua pemuda yang mengatakan bahwa salah satu teman terlambat 30 menit karena ada acara di rumah om-nya. Dengan SMS “keterlambatan” maka seseorang merasa diri dimaafkan oleh komunitasnya dan lain kali boleh berbuat hal yang sama. Inilah yang menjadikan pemuda Katolik easy going dan tidak perlu berjuang dengan kejadian-kejadian yang sepele. Dan masih banyak lagi contoh-contoh serupa dari hal yang sepele hingga hal-hal besar.

Budaya atau kadang-kadang disebut “penyakit” instant atau shortcut, kini banyak dialami oleh pemuda kita. Pemuda Katolik perlu untuk digembleng di kawah candradimuka dengan melewati proses yang panjang dan berliku (the long and winding road). Orang-orang Romawi Kuno telah memberikan kata-kata indah serta motivasi untuk kemajuan para pemuda. Ovidius (43 SM – 17 SM) nama lengkapnya Publius Ovidius Naso, pernah berkata, “Dulcia non meruit, qui non gustavit amara” – yang tidak pernah mengecap kepahitan tidak akan dapat pula menikmati kemanisan. Peribahasa Indonesia yang berbunyi “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” dan “Per ardua ad astra” – bersusah payah untuk sampai bintang, memberi motivasi kepada para pemuda Katolik untuk berani berjuang dan bermental baja. Pemuda Katolik diharapkan menjadi garam dan terang dunia (Mat 5:13). Kebijaksanaan-kebijaksanaan lokal haruslah ditanam sejak dini, yakni cinta kepada budaya sendiri. Dari sana pula, mereka akan mengenal tokoh Gatotkaca yang memiliki “otot kawat, balung wesi” – otot dari kawat dan tulang dari besi.

Goenawan Mohammad dalam catatan pinggirnya mengutip ajran Konghucu atau Confusius (551-479 SM). “Pada umur 15 tahun, aku mengamalkan diri untuk belajar kebijaksanaan. Pada umur 40 tahun, aku tidak lagi punya rasa ragu. Pada umur 60 tahun, tak ada suatu pun di atas bumi yang bisa mengguncangkanku. Pada umur 70 tahun, aku dapat mengikuti imlak hatiku tanpa mengikuti hukum moral.” Usia tua memberikan kesempatan untuk kearifan, begitu Konghucu mengajarkan.

Advertisements

Kemungkinan Mendongkrak Nasionalisme Anak Bangsa

nasinalisme 2Oleh: Drs. Arcadius Benawa, M.Pd

Membangkitkan cinta Tanah Air dalam kondisi masyarakat Indonesia seperti sekarang ini rasanya menjadi maju-mundur. Pasalnya, ketika penulis mengampu mata kuliah “Human Character Behaviour” di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta Utara, dengan topik “Bangsa dan Negara” dan menekankan perlunya kita berbangga dengan bangsa sendiri, serta merta ada mahasiswa yang bertanya dengan nada pesimis. “Bukannya kita tidak mau bangssa dengan bangsa sendiri, Pak, tetapi bagaimana kita akan bangssa dengan bangsa sendiri dengan membeli produk dalam negeri kalau kualitasnya tidak bagus. Bagaimana kita cinta dengan negeri ini dengan setia membayar pajak, Pak, kalau uang pajak tidak jelas alokasi pemanfaatannya bahkan dinikmati oleh oknum pejabatnya?”

Hal itu tidak saja dirasakan oleh mahasiswa. Rupanya jauh hari sebelumnya, Azyumardi Azra (2008: 36) sudah prihatin dengan apa yang bisa ia tengarai. Dikatakannya bahwa berbagai kekerasan  yang mengorbankan nyawa dan harta benda yang marak akhir-akhir ini tidak luput dari bertahannya “kekerasan struktural” (structural violence) baik di bidang politik, ekonomi, militer, teknologi, informasi, maupun sosial-budaya. Akibatnya, perdamaian hakiki tidak pernah berhasil diwujudkan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, Indonesia hanya mampu mengatasi krisis ekonomi dan politik secara relatif sangat lamban. Politik memang kelihatan relatif lebih stabil sejak masa Presiden Megawati Soekarnoputri hingga sekarang, sementara kondisi ekonomi belum sepenuhnya membaik, meski mobil-mobil mewah built up semakin banyak berseliweran di jalan raya khususnya di ibukota ini.

Kehidupan yang sangat kontras yang mengerikan. Kengerian semakin diperparah dengan ancaman disintegrasi sosial dan politik baik secara vertikal maupun horisontal. Benih-benih disintegrasi dan konflik-konflik serta kekerasan sosial masih terus bertumbuh karena berbagai faktor. Belum lagi adanya krisis budaya dan agama, yang makin menunjukkan masyarakat kita sedang dilanda keterpecahan kepribadian (split personality) yang menggejala. Sementara upacara keagamaan diselenggarakan dengan megah dan gegap gempitadan bangunan-bangunan tempat ibadah marak dibangun di mana-mana, namun korupsi dan segala fenomena sosial seperti disebut Azyumardi Azra di atas terus menyeruak. Lalu pertanyaannya adalah bagaimana dalam kondisi karut marut tidak karuan ini kita bisa membangun nasionalisme anak bangsa atau membangkitkan rasa cinta pada Tanah Air?

Menumbuhkan dengan Menggali. Memang kita rasanya bisa larut dalam pesimisme menghadapi karut marut persoalan yang dihadapi bangsa kita, bahkan kita pun bisa apatis karenanya. Akan tetapi, kalau semua bangsa bersikap seperti itu, akan menjadi apa bangsa dan negara ini? Bukankah mantan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang terkenal itu pernah berkata, “Janganlah engkau bertanya apa yang diberikan Negara kepadamu, melainkan bertanyalah apa yang bisa engkau berikan untuk Negaramu?”. Singkatnya, menghadapi kondisi tak ideal itu, yang penting adalah bagaimana kita masing-masing maupun sebagai kelompok menggugat diri untuk dapat lebih berkontribusi bagi terciptanya negeri yang membanggakan sehingga setiap warganya pun memiliki rasa cinta pada bangsa dan negara ini.

Ada sejumlah pengakuan bahwa tidak mudah untuk serta merta memiliki rasa cinta pada bangsa dan negara. Bukan karena tidak ada nasionalisme, melainkan justru karena anak bangsa muak dengan perilaku para elit bangsa yang mestinya menjadi suri tauladan justru menjadi batu sandungan. Maraknya kasus korupsi yang melibatkan para elit bangsa di yudikatif, legislatif, maupun eksekutif. Lemahnya penegakan hukum yang hanya tajam untuk wong cilik dan tumpul untuk para elit bangsa, serta terus berkecamuknya kekerasan dan tingkat kriminalitas di tengah masyarakat, ikut andil dalam kesulitan itu. Tetapi tentu hal itu tidak akan menyelesaikan masalah.

Oleh karena itu, harus ada perubahan mindset. Orang kerapkali berkata, “Tidak mudah menumbuhkan nasionalisme di antara anak bangsa saat ini, karena tidak adanya faktor-faktor yang mendukung itu!” Namun di sisi lain, penulis terinspirasi oleh ungkapan Prof. Dr. Soedijarto, M.A., yang dalam pelbagai kesempatan mengungkapkan bahwa dirinya bisa menjadi seperti sekarang itu tidak luput dari kebaikan Negara yang sempat ia alami. Negara telah membiayai pendidikannya di dalam dan di luar negeri. “Maka, kalau sebagai pejabat negara saya masih korupsi, kok kebangetan betul saya ini,” demikian tegasnya. Lewat ungkapan Prof. Soedijarto itu, poin pentingnya adalah bagaimana Negara melalui para penyelenggara Negara sanggup menumbuhkan rasa hutang budi di antara anak bangsanya, sehingga tidak bisa tidak para anak bangsanya itu terpacu untuk berbuat sesuatu demi kebaikan bangsa dan negaranya.

Pertanyaannya adalah, adakah langkah-langkah konkret seperti itu? Kalau ternyata yang ada justru anak bangsa menjadi sakit hati dengan para penyelenggara negara yang mudah berkelit dalam menatap ketidakbaikannya. Alih-alih menumbuhkan rasa hutang budi kepada para anak bangsa, justru malah melakukan pelbagai penyelewengan demi memperkaya diri sendiri atau kelompoknya. Kalau sudah demikian, kapan anak bangsa akan berbangga dengan bangsanya sendiri?

Belajar dari Negeri Matahari Terbit, Jepang, yang anak bangsanya memiliki nasionalisme tinggi. Hal itu tidak lepas dari integritas para penyelenggara negaranya yang benar-benar membela dan memperjuangkan anak bangsanya. Ketika terjadi tsunami beberapa waktu lalu, kita ingat bagaimana pemerintah setempat langsung membenahi fasilitas umum. Sementara di negeri ini, fasilitas umum sepertinya bukannya dijaga agar berfungsi dengan baik demi hajat hidup segenap warganya, tetapi malah dimanfaatkan sebagai proyek mengeruk uang. Contoh, jalan Pantura yang dijadikan proyek abadi yang semua orang melihat dan merasakan kebaikannya jalan itu hanya beberapa saat sebelum atau pun setelah Lebaran. Setelah itu jalan kembali bopeng-bopeng, yang makin hari makin parah. Demikian pun listrik, hanya TDL-nya yang dinaikkan tetapi servis keberlangsungannya masih pantas dipertanyakan.

Salah satu hal yang membanggakan kita sebagai satu kesatuan anak bangsa tercermin dalam semboyan negara kita, Bhineka Tunggal Ika. Hal ini juga digarisbawahi oleh Anhar Gonggong, sejarawan kondang dari Universitas Indonesia. Dikatakannya, “Dengan keberadaan suku bangsa yang demikian itu (beragama – pen.), maka strategi yang dapat dikembangkan ialah menjadikan keberagaman etnik dengan segala latar budaya masing-masing sebagai milik bersama, sebagai kekayaan bangsa-negara!” (Anhar Gonggong, 2008, h. 68 dalam Refleksi Karakter Bangsa).

Pancasila, Pupuk Subur Nasionalisme. Mendongkrak nasionalisme juga tidak mungkin tanpa membangun karakter bangsa (national character). Menurut Tilaar (2008: 25-26), karakter bangsa itu menyangkut segi etis, yang menjadi milik masyarakat atau bangsa. Maraknya pembicaraan tentang karakter bangsa ditengarai sebagai kondisi masyarakat atau bangsa yang sedang mengalami kehilangan karakter, identitas, atau jatidirinya sebagai bangsa. Lebih rinci, Tilaar mengatakan bahwa karakter bangsa itu tergantung dari beberapa hal, yakni:

  1. 1.      Bahwa masyarakat Indonesia itu bersifat sangat paternalistik. Dalam masyarakat seperti ini, perlu pemimpin yang jujur serta melaksanakan sendiri nilai-nilai yang disepakati bersama seperti nilai-nilai Pancasila. Menarik untuk menyimak filosofi seperti yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantara: Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
  2. Bahwa Pancasila itu telah disepakati dan diakui sebagai nilai-nilai yang harus dihormati untuk mengantar setiap manusia Indonesia di dalam kehidupan bersama. Oleh karena itu, nilai-nilai Pancasila harus dijabarkan di dalam kehidupan sehari-hari dari masing-masing etnis. Dengan demikian, Pancasila akan menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat, bahkan menjadi citra manusia Indonesia. Dengan citra itu, setiap manusia Indonesia akan mempunyai rasa kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Tidak berlebihanlah kalau di tingkat perguruan tinggi kini Pancasila menjadi salah satu matakuliah wajib.
  3. Bahwa mengembangkan kembali nilai-nilai Pancasila sebagai karakter bangsa merupakan landasan kebangunan kembali bangsa Indonesia dari keterpurukan. Untuk itu, Indonesia perlu belajar dari bangsa lain. Cina, misalnya, dapat bangun kembali dengan cepat karena bangsa itu mempunyai landasan yang kuat, yaitu karakter bangsa, sehingga kini Cina menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia yang dasyat justru karena mereka mempertahankan karakter bangsanya yang berdasarkan budaya Cina yang berumur ribuan tahun (Hoffman, 2008).
  4. Bahwa dalam terminologi Myrdal, bangsa dan negara Indonesia masih tergolong bangsa dan negara yang lembek. Untuk itu, perlu adanya seorang pemimpin nasional yang kuat agara dapat menjadi ikon bagi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila. Tak kurang dari Francis Fukuyama (2005) mengatakan bahwa state building dalam rangka pembangunan Indonesia hanya dapat terlaksana apabila kita melaksanakan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan state building yang ditaati oleh semua warga negara, Indonesia pasti dapat dengan cepat keluar dari keterpurukan, sehingga menjadi negara dan bangsa yang membanggakan sehingga bertumbuhlah nasionalisme dan patriotisme. Masing-masing akan merasa malu kalau tidak berkontribusi bagi bangsa dan negaranya.

 

Disadur dari Majalah EDUCARE No. 2 / X / Mei 2013, halaman 38-40.

Kepekaan Sosial Kaum Muda

Romo Benny Susetyo*

Politik kita lebih identik dengan petualangan bagi pelakunya untuk meraih keuntungan individual.

SEMANGAT Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah kemerdekaan dan antipenjajahan. Artinya, dalam peringatan Sumpah Pemuda yang setiap tahun digelar, apakah hal tersebut sudah menjiwai para pemuda Indonesia untuk mengambil bagian dalam berpikir dan berbuat merdeka. Jiwa Sumpah Pemuda adalah nasionalisme dan kebersatuan untuk menolak imperialisme dan segala bentuknya. Pemahaman bahwa imperialisme zaman dahulu berbeda dengan masa sekarang sudah seharusnya menjiwai semangat peringatan Sumpah Pemuda masa kini. Itu berarti makna Sumpah Pemuda masih bisa dipetik sampai hari ini.

Kepekaan Sosial

Kontradiktif bila Sumpah Pemuda terus diperingati setiap tahun tapi tidak melahirkan pemuda yang memiliki kepekaan terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi bangsanya. Permasalahan bangsa saat ini demikian kompleks. Kita tidak lagi berperang untuk membangkitkan kebersatuan melawan penjajah secara fisik, melainkan berperang untuk menegakkan harga diri bangsa yang semakin hari hilang digerus oleh keserakahan dalam bingkai individualisme. Saat kemiskinan bukan menjadi masalah bersama dan sering dipolitisasi oleh kekuasaan demi keuntungan sekelompok orang, saat kebodohan dianggap sebagai fenomena biasa, saat itulah refleksi kepemudaan tidak memiliki banyak arti, kecuali seremoni belaka. Pemuda adalah tulang punggung. Mereka yang akan meneruskan perjalanan bangsa ini. Pemuda adalah agen perubahan. Hal ini penting ditekankan dalam kerangka nasionalisme sebab hakikat Sumpah Pemuda adalah pernyataan sikap cinta Tanah Air. “Satoe” dalam setiap butir sumpah itu merujuk pada kesadaran tentang adanya kesatuan dalam perjuangan untuk memerdekakan bangsa dari ketidakadilan.

Peran Masa Kini

Masih belum maksimalnya peran pemuda dalam kepemimpinan di masa kini harus diakui. Secara positif hal tersebut harus dimaknai dalam konteks refleksi para calon pemimpin politik bangsa ini. Memahami konteks dan fakta politik kekinian, kita semua bisa merasakannya dalam berbagai level kehidupan kita. Kaum muda yang berperan demikian besar dalam merombak struktur kekuasaan negeri ini nyatanya tidak sedikit dari mereka yang mengisi reformasi dengan semangat oportunistik, dan malah tak sadar mengembangkan sikap kepolitikan yang dahulu dibenci. Mereka “tidak gigih” menjaga aura reformasi dengan idealisme untuk membangun habitus kebangsaan yang sehat dan benar-benar bersih dari kolusi, korupsi, dan nepotisme. Ini karena tidak sedikit pula dari mereka yang menjadi bagian dari hal itu dalam berbagai petualangan politiknya.

Tentu saja ini harus direspons sebagai autotokritik bagi kaum muda dalam dunia politik, pun dunia lainnya. Persoalan kita saat ini adalah lemahnya cara pandang yang mampu menggempur pola pikir yang seolah-olah kehidupan hanya akan berjalan bila ditopang dengan uang dan kuasa. Pola pikir ini sering membentuk watak kekuasaan kita dalam wajah yang demikian bengis. Kehidupan rakyat sering dirusak karena pola pikir yang individualistik, dan “mencari selamat sendiri-sendiri”. Kaum muda nyaris kehilangan kemampuan untuk mendobrak semua ini karena setelah mereka masuk dalam lingkaran kekuasaan, justru mereka hanyut.

Cara berpikir, bertindak, dan berelasi dalam dunia politik nyaris stagnan karena tak ada perubahan. Mentalitas reformis, kreatif, dan pengenalan budaya alternatif hanya ada dalam kata-kata dan tak pernah menjelma menjadi tindakan nyata. Dunia politik digadaikan untuk kepentingan “sendiri-sendiri”, bukan untuk kepentingan rakyat semesta. Uang menjadi mahakuasa dalam menentukan berbagai hal yang menguntungkan para pemimpin dan pejabatnya, dan tak jarang bahkan menjadi elemen perusak kehidupan rakyat melalui kebijakan-kebijakan yang bersifat menindas.

Petualangan Politik

Politik kita lebih identik dengan petualangan bagi pelakunya untuk merebut dan meraih keuntungan individual, dan tidak menjadi bagian untuk memperbaiki kehidupan kolektif. Itu nyatanya. Bila kita tidak jeli, fakta ini sering menipu. Dalam dunia politik sering terlontar kata-kata “kesejahteraan rakyat”, namun dalam fakta sesungguhnya intrik untuk keuntungan pribadi lebih mudah dibaca daripada kepentingan rakyat. Semakin bertambah waktu, fenomena ini begitu mudah dimengerti bahkan oleh “rakyat bodoh” sekalipun. Antipati terhadap perilaku politik bersemi di hati rakyat dan sering melahirkan ketidakpercayaan secara massal terhadap berbagai tindakan penguasa, yang positif sekalipun.

Kaum muda memiliki tugas demikian berat dalam situasi sulit ini. Mereka diharapkan menjadi pelopor perubahan nyata. Yang paling utama berkaitan dengan masalah yang dipaparkan di muka adalah bagaimana menata kembali dunia politik kita menjadi media untuk melayani kesejahteran bersama. Tekad itu sebenarnya sudah pernah dikatakan oleh kaum muda dalam sebuah deklarasi untuk menawarkan jalan baru bagi bangsa ini keluar dari kesempitan paradigmatik.

Cara pandang yang sempit dalam melihat permasalahan kebangsaan ini akan membuat putusnya lingkaran kepedulian, sebab yang ada dalam pikiran hanyalah problem individu dan identitas. Saat “identitas” dijadikan bahasa politik, ekonomi, agama, dan pendidikan, bangsa ini akan demikian mudah terpuruk ke dalam sikap reaksioner terhadap perbedaan. Di sinilah dibutuhkan pemikiran yang reflektif dan jujur, serta memiliki ketulusan untuk menata kembali bangsa ini dari berbagai kebuntuan.

Sumpah Pemuda harus dimaknai sebagai momentum bagi kaum muda ini untuk kembali bergerak, dan tampil ke depan mendobrak semua kebuntuan ini. Dibutuhkan sebuah regenerasi yang memiliki visi yang jelas, terukur, bernalar, bertanggung jawab, menjunjung etika, dan moralitas, serta yang utama adalah mengembangkan dunia politik sebagai media untuk memperbaiki kehidupan semua. Yang utama di sini kaum muda harus berani mengadakan perubahan dari dirinya sendiri. Kesempatan memang harus diraih dengan kualitas pribadi yang berintegritas tinggi, bukan semata-mata diminta.

Rasanya sejarah kepemudaan Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dan Syahrir harus dibaca kembali untuk menata kembali visi dan misi kebangsaan dan kerakyatan, serta untuk mengarahkan bagaimana jiwa kaum muda harus berperan positif membangun bangsa ini.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial.

Kaum Muda Meneguhkan Persaudaraan Sejati

Romo Benny Susetyo*

Momen mendidik kaum muda menciptakan perdamaian dan keadilan begitu mendesak.

Idul Fitri merupakan momentum yang baik untuk meneguhkan semangat keberagamaan dalam keberagaman. Momen ini mendidik kaum muda muslim dan Kristen menciptakan perdamaian dan keadilan merupakan, yang merupakan agenda mendesak. Itulah setidaknya kesimpulan dalam pesan akhir Ramadan tahun ini yang dirilis Dewan Kepausan.

Dalam pesan bertajuk mendidik kaum muda Kristen dan muslim untuk keadilan dan perdamaian itu, Vatikan ingin mengingatkan kembali bahwa kekerasan merupakan awal mula lenyapnya perdamaian dan keadilan di muka bumi ini. Kardinal Jean-Louis Tauran dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama Vatikan menegaskan perlunya mendidik kaum muda untuk menyudahi semua bentuk kekerasan di muka bumi ini. Pesan itu menyiratkan suatu persaudaraan sejati di dalam suasana perbedaan. Keberagamaan kita di Nusantara ini meniscayakan perbedaan. Namun, sering kali perbedaan dijadikan alasan untuk melegalkan kekerasan atas nama agama. Itu terjadi karena klaim kebenaran yang lebih ditonjolkan alih-alih mencari persamaan untuk membangun kekuatan.

Kebersamaan dalam Keberagaman
Ada banyak sebab kekerasan di antara para pemeluk agama, misalnya manipulasi agama untuk tujuan politis atau lainnya, diskriminasi atas dasar etnisitas atau identitas religius, atau perpecahan dan ketegangan sosial. Ketidaktahuan, kemiskinan, tertinggal dalam pembangunan, juga merupakan sumber langsung atau tidak langsung untuk kekerasan baik antara maupun dalam komunitas-komunitas religius. Disadari bahwa semangat perayaan Idul Fitri bagi kaum muslim adalah untuk kembali pada kesucian. Momentum ini jelas sangat tepat digunakan untuk membangun tali persaudaraan sebangsa. Dengan kembali pada kefitrian inilah tali persaudaraan akan mudah diwujudkan, sebab manusia akan lahir kembali dalam keadaan suci.

Pesan Vatikan dalam menyambut Idul Fitri kali ini adalah perlunya mendidik kaum muda kristiani dan muslim bersama-sama mengatasi kekerasan antara pemeluk pelbagai agama. Kekerasan antarpemeluk agama dewasa ini merupakan masalah yang begitu hangat dibicarakan, sebab faktanya hal itu terjadi di berbagai belahan dunia. Kita mesti menyadari ini merupakan suatu masalah mendesak. Kekerasan antarpemeluk agama terjadi akibat kesepahaman yang tidak dijadikan sebagai titik tolak untuk membangun persaudaraan sejati, melainkan justru lebih banyak mengedepankan ketidaksepahaman. Kekerasan begitu mudah terjadi karena masalah-masalah sepele yang mengatasnamakan agama.

Di negeri kita, hal itu seperti makan tahu-tempe, seperti sebuah kebiasaan sehari-hari yang tak habis-habis. Kita patut bersedih atas hal ini. Sudah saatnya kita mengangkat kesepahaman atas kebaikan ajaran agama ketimbang menonjolkan perbedaan-perbedaan yang tiddak mungkin disamakan. Kita merasakan pentingnya meneguhkan kembali rasa persaudaraan itu karena ancaman dan tantangan yang ada di hadapan kita untuk ”mengoyak, memudarkan, dan mencerabut” itu sangatlah besar, nyata dan berbahaya. Tidak jarang hubungan persaudaraan antarwarga sebangsa ini dirongrong kepentingan politik, ekonomi, egoisme, dan lainnya.

Persaudaraan Sejati
Persaudaraan sejati akan melahirkan ikatan solidaritas antarwarga di tengah gejolak dunia yang dipenuhi ketegangan. Ketegangan ini kita sadari dipicu tata dunia tidak adil yang berpotensi melahirkan perlawanan. Bentuk perlawanan itu salah satunya adalah ketika orang melakukan tindakan di luar batas-batas kemanusiaan. Wajah dunia tidak lagi damai, tetapi dipenuhi kecurigaan/prasangka.

Pesan Vatikan tahun ini berkaitan erat dengan pesan-pesan sebelumnya, yang intinya bagaimana memperkuat persaudaraan untuk mengatasi masalah kemanusiaan yang semakin menipis. Semuanya bertujuan agar umat Kristen dan muslim terus memperkuat hubungan persaudaraan. Atas nama persaudaraan, akan lebih mudah untuk memperjuangkan tata dunia yang adil dan damai. Hal ini sudah sejalan dengan komitmen Gereja dalam rangka membangun hubungan-hubungan baik di kalangan umat dari berbagai agama, meningkatkan dialog budaya, dan bekerja sama demi keadilan yang lebih besar dan perdamaian abadi.

Pesan itu memang hanyalah sebuah kata-kata, namun disampaikan dari hati yang sangat tulus. Sebagai umat beragama yang beriman, adalah kewajiban semuanya dalam menjadi pionir untuk menjaga perdamaian, hak asasi manusia, dan kebebasan yang menghargai setiap pribadi, sekaligus menjamin semakin kuatnya ikatan-ikatan sosial yang ada. Setiap orang harus memperhatikan saudara dan saudarinya tanpa diskriminasi. Dalam masyarakat kenegaraan tidak seorang pun boleh dikucilkan karena kesukuan, keagamaan, atau karena kekarakteristikan lain mana pun. Bersama-sama, sebagai warga dari pelbagai tradisi agama yang berbeda-beda, kita semua dipanggil untuk menyebarluaskan suatu ajaran yang menghormati semua manusia.

Dalam hal itulah upaya untuk meneguhkan kembali persaudaraan sejati dirasakan sangat penting adanya. Hubungan baik dalam persaudaraan sejati merupakan sikap awal untuk sampai pada hubungan saling pengertian dalam perbedaan. Sikap ini akan bisa mendorong melanjutkan dialog antara umat Katolik dan umat muslim dalam rangka merajut dunia agar lebih adil dan damai. Itu semua didasari keinginan yang tulus untuk mewujudkan tali persaudaraan sejati sesama saudara satu keturunan Bapak Abraham.

Momentum Idul Fitri adalah saat tepat untuk merenda habitus baru dalam membangun dialog kemanusiaan demi tercapainya sebuah tata dunia yang adil. Tata dunia saat ini yang berorientasi materialistik tidak lagi mampu memekarkan nilai-nilai solidaritas, kebersamaan, keadilan, dan penegakan moralitas.  Problem kemanusiaan yang akut inilah yang harus kita hadapi bersama untuk melanjutkan dialog demi menciptakan cita rasa kebersamaan. Kebersamaan ini akan melahirkan saling pengertian dalam kehidupan bersama. Kehidupan bersama ini diharapkan bisa membuktikan bahwa dalam komunitas muslim dan Kristen telah terjalin hubungan yang mendalam. Langkah konkret berikutnya adalah untuk terus melanjutkan dialog kemanusiaan sebagai sebuah jembatan untuk membangun keutamaan bagi dunia.

Persaudaran di antara dua komunitas ini amat dibutuhkan untuk memberikan alternatif bagi peradadan dunia yang saat ini dilanda kerusakan moral. Tandanya, dunia ini tidak lagi menghargai  kehidupan. Kehidupan yang seharusnya memberikan tata dunia yang damai tiba-tiba dirusak kejahatan kemanusiaan. Kita harus bersungguh-sungguh dalam dialog untuk mewujudkan tata dunia yang adil dan bermoral. Dialog sendiri bisa dilakukan dengan cara memperbesar persamaan dan memperkecil perbedaan. Tentu saja, perbedaan adalah indah.

Selamat Idul Fitri, semoga Tuhan memberi hari yang penuh rahmat bagi saudara kami kaum muslim.

*Penulis adalah Rohaniwan, Komisi HAK Konferensi Waligereja Indonesia.

Berharap Terobosan Baru Pemberantasan Korupsi

Korupsi bisa dilakukan oleh siapa pun dalam suatu lingkungan sosial yang buruk.

Jajaran kepemimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah terpilih. Publik berharap mereka bukan orang-orang yang salah menyandang tanggung jawab membersihkan Indonesia dari tikus-tikus koruptor yang kian hari kian banyak bergentayangan. Publik berharap mereka bukanlah orang-orang yang bernyali kecil dalam pemberantasan korupsi di negeri ini.

Suka tidak suka, KPK masih menjadi satu-satunya institusi yang diharapkan untuk menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan. Kendati kritik atas kinerja dan keberhasilannya masih terdengar di mana-mana, semua itu diharapkan bisa mempertegas KPK untuk bersikap tegas kepada semua kasus korupsi, bukan hanya yang dilakukan orang yang sudah tidak berkuasa, melainkan juga justru kepada mereka yang masih kuat dalam kekuasaan.

Makin Membudaya

Kritik dan masukan memang perlu terus disuarakan dengan tujuan agar perbaikan dan kualitas kinerja bisa ditingkatkan. Terhadap usul pembubarannya pun sekiranya belum tepat, mengingat fakta kasus korupsi yang semakin banyak dan justru berkembang ke arah modus-modus baru yang tak terbayangkan.

Korupsi yang sudah makin membudaya dan “biasa” ini bisa dilawan dengan ditumbuhkannya budaya baru. Bukan saja dengan kebencian dan kemuakan massal atas korupsi, tapi juga dengan memperketat pengawasan di seluruh aspek kehidupan dan “menghukum” yang tegas dan berat. Korupsi merupakan tindak pidana. Pihak yang dirugikan bukan satu-dua orang. Seperti sebuah penyakit kronis, pelan-pelan ia akan menggerogoti seluruh sendi kehidupan berbangsa ini. Indonesia akan menjadi negara sangat terbelakang tanpa adanya pemikiran dan tindakan luar biasa untuk menangani penyakit ini. Di sisi lain, penyakit ini sudah sedemikian kronis dan berbahaya. Kehidupan berbangsa selama berpuluh tahun rasanya berjalan di tempat. Indonesia masih menjadi negara tertinggal dalam hal apa pun, dan korupsi menjadi kontributor utama ketertinggalan ini.

Tanpa adanya tindakan yang tegas, akurat, dan bervisi, tinggal sejengkal lagi negara kita terjerumus dalam lubang kegelapan. Ketika harkat dan martabat hukum sudah tak dihargai dan semua bisa dibeli dengan uang, hanya mereka yang kaya–yang jumlahnya sedikit itu– yang mampu memiliki negeri ini. Kemiskinan dan keterbelakangan hanya menjadi mainan dari penguasa yang bisa diperalat untuk meemperkaya diri sendiri. Publik menunggu terobosan-terobosan baru pemberantasan korupsi di negeri ini. Sudah waktunya KPK semaksimal mungkin merealisasikan semua impian itu. Pada siapa pun yang berjuang untuk membersihkan Indonesia dari korupsi, rakyat pasti memberikan dukungan sepenuhnya.

Menjangkiti Generasi Muda

Bahaya terbesar lain tanpa disadari, kegiatan korupsi ini secara sistemik diturunkan dalam generasi baru Indonesia. Mereka terjebak dalam sistem dan budaya politik yang busuk, yang hanya memikirkan bagaimana merampok uang negara yang dianggapnya tak bertuan. Ironis karena pada generasi baru Indonesia sudah tumbuh cara berpikir, “Bila bukan saya yang melakukan, yang lain juga akan melakukan.” Selain itu tumbuh sikap saling melindungi dan permisif terhadap seluruh kegiatan yang berbau korupsi, baik korupsi skala kecil maupun kelas kakap. Generasi muda sebetulnya titian harapan kita untuk memangkas korupsi. Namun bila mereka dibiarkan dalam sistem dan budaya kekuasaan yang buruk, begitu mudah mereka terjerumus dalam lembah korupsi ini.

Kasus akhir-akhir ini membuktikan generasi muda ternyata sudah mulai dijangkiti berbagai kasus dan skandal. Korupsi bisa dilakukan siapa pun dalam suatu lingkungan sosial yang buruk dan sikap hidup yang permisif. Ironisme ini perlu menjadi catatan bagi kepemimpinan baru KPK ini. Ketegasan untuk menghukum tanpa pandang bulu akan mengundang simpati masyarakat untuk memberikan dukungan maksimal. Namun bila KPK juga tidak bisa menguasai diri hidup dalam lingkungan politik kekuasaan yang buruk, harapan hidup bangsa ini sudah tidak bisa ditolong lagi. Bila deal politik lebih menguasai dibandingkan upaya sungguh-sungguh menegakkan keadilan, pemberantasan korupsi pun mempertegas asumsi masyarakat sejauh ini: semuanya hanya pura-pura belaka.

Demokrasi dan keterbukaan hanyalah isapan jempol dan tidak bermakna, karena itu semua hanya dilakukan demi citra diri politik kekuasaan. Bila tidak demikian, pemberantasan korupsi hanya mampu menangkap mereka yang lemah dan tidak berkekuatan. Atas itu semua, KPK hadir untuk memberikan bukti kesungguhan mereka dalam memberantas tikus-tikus koruptor ini. Bukan sekadar untuk deal politik, apalagi sekadar membangun citra sebagai lembaga antikorupsi.

Di masa yang akan datang, kita semua berharap semakin kecil ruang bagi siapa pun untuk melakukan korupsi. KPK perlu mewujudkan impian masyarakat yang ditampilkan dalam beragam kemuakan dan kebencian terhadap tindakan korupsi. Kemuakan terhadap para koruptor yang kadang tersenyum manis mencibir dan melecehkan penegakan hukum Indonesia.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial.