Pendidikan Berbasis Pluralisme

funny

Courtesy: kantorberitapendidikan.net

Oleh : Yohanes Sutarto

Ada persoalan krusial yang masih seringkali muncul pada bangsa yang kini memasuki usianya yang ke-67 ini adalah persoalan pluralisme. Kekerasan berlatarbelakang suku, agama, ras, antargolongan/kelompok (SARA), yang tidak jarang menimbulkan jatuhnya korban, bahkan mengancam disintegrasi bangsa adalah indikasi jelas tentang masih adanya persoalan bangsa yang hingga kini belum terselesaikan secara tuntas. Jika pluralisme tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin itu akan menjadi persoalan abadi.

Pengelolaan pluralisme ini bukan saja menyangkut penataan pluralisme itu sendiri secara benar, seperti mencegah munculnya konflik dalam keanekaragaman yang mengancam keutuhan dan kemajuan bangsa, tetapi yang paling penting adalah membangun dan mengembangkan pluralisme dengan postur tubuhnya yang pas sesuai dengan format republik ini. Salah satu media yang paling penting dalam pembangunan adalah media pendidikan. Karena, pendidikan merupakan media pencerdasan anak-anak bangsa untuk membangun masa depan bangsa dan negara.

Satu hal yang perlu dicatat bahwa gagalnya pembangunan masa depan bangsa di bidang apapun, terutama karena gagalnya paradigma pendidikan berbasis pluralisme itu. Jika kita ingin mencapai perikehidupan bangsa yang berkeadilan dan damai, yang menghargai pluralisme, maka hal itu mesti dimulai dari anak didik.

Paradigma Pendidikan

Pendidikan harus ditempatkan pada garda paling depan dalam mendekonstruksi teologi pluralisme dengan membuat metodologi pendidikan yang tepat untuk mendukungnya. Konstruksi pendidikan di masa lalu yang berbasiskan penyeragaman identitas budaya bangsa, misalnya harus dikaji dan mesti disesuaikan dengan paradigma pendidikan yang berbasis pluralisme bangsa.

Kegagalan masa lalu dalam menggagas dan mengimplementasikan paradigma pendidikan yang tidak berbasis pluralisme tersebut dapat terlihat lewat berbagai distorsi yang muncul ke permukaan. Distorsi pertama, dimengerti sebagai sebuah doktrin yang senantiasa dijadikan pembenar bagi terjadinya konflik antaragama yang tak jarang didekati secara represif. Fenomena eksklusivisme masih sangat kental mewarnai kurikulum pendidikan agama di sekolah yang dilakukan melalui “pencucian otak” anak didik secara sistematis. Para pendidik pun seperti tidak berdaya dalam menghadapi kenyataan yang eksklusif itu.

Perbedaan teologis yang substansial dari setiap agama tidak dihormati secara proporsional dalam kurikulum dan praktik pendidikan. Nilai-nilai agamis seperti kebenaran dan perdamaian tidak diperjuangkan untuk menata pluralisme dengan cara menghormati perbedaan-perbedaan yang ada, dan persoalan pluralisme diselesaikan secara elegan, tetapi sayangnya semua masalah yang muncul kerap diendapkan dengan cara-cara yang hanya ibarat menyimpan bom waktu yang kemudian meledak dalam aneka kekerasan berlatar agama dan etnis seperti yang terjadi pada awal reformasi, bahkan hingga sekarang.

Kedua, materi pelajaran yang diajarkan di sekolah yang membenarkan apa yang diyakini benar dan menghakimi apa yang diyakini salah. Kebenaran yang satu dimutlakkan untuk yang lainnya. Peserta didik tidak diberi ruang cukup untuk menguji kebenaran lainnya seperti kebenaran teologis yang ada pada agama lainnya. Akhirnya, peserta didik menjadi kurang kritis terhadap setiap masalah dan aneka macam nilai yang ada dan tidak kreatif dalam mengelola hidup.

Lebih dari itu, praksis pendidikan yang indoktrinatif juga kerap mendominasi kesadaran peserta didik. Tidak disadari, itu tidak lebih merupakan suatu praktik penindasan terselubung, sistem pendidikan itu tidak mengarahkan peserta didik kepada cinta akan kehidupan dan/atau terhadap segala sesuatu yang berkembang, tetapi lebih kepada segala yang bersifat mekanis, sehingga mereka menghadapi hidup ini secara mekanis pula.

Pendidikan adalah suatu proses sosial, sehingga pendidikan sebaiknya dipahami juga sebagai proses humanisasi; yaitu usaha agar seluruh sikap dan perilaku serta aneka kegiatan seseorang bersifat manusiawi. Di situ pula pendidikan dikatakan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya lahir batin, dengan karakter dan watak kebangsaan yang kuat dan bersifat plural, sehingga dari situ peserta didik dapat diarahkan untuk lebih tahu dalam menghargai dan menghormati aneka macam nilai dalam masyarakat seperti nilai pluralisme.

Perubahan Paradigma

Tidak ada jalan yang lebih tepat selain bahwa realitas plural-kemajemukan kita harus mendapat perhatian yang memadai dalam dunia pendidikan kita. Sebagai contoh, pendidikan agama tidak boleh disejajarkan sebagai bagian dari usaha seseorang untuk memonopoli Tuhan dan kebenaran, dan dengan sendirina menghakimi orang lain yang berbeda agama atau keyakinan dengannya. Akibatnya, realitas plural kehidupan agama kurang berfungsi sebagai tali pengikat persatuan bangsa yang berdiri berlandaskan pada Pancasila yang mengagungkan pluralisme itu.

Karena itu, pendidikan kita harus dikembangkan kepada ranah pluralisme untuk merangsang daya pikir dan kreativitas anak didik serta kepada realitas dinamika masyarakat, bukannya menciptakan menara gading yang tercerabut dari akar kehidupan masyarakat yang plural. Sistem pendidikan, metode, dan cara belajar-mengajar pun harus diarahkan kepada pembentukan pola pikir dinamik, kreatif, dan pluralis bagi peserta didik agar dalam diri mereka tumbuh semangat toleransi dan saling menghormati.

Dalam hal ini, untuk mengubah paradigma dan metodologi pendidikan yang tegas, bahkan radikal dari para pemegang kebijakan negara, yaitu dengan mengubah secara fundamental pendidikan sebagai subyek dinamika realitas kehidupan masyarakat, sehingga peserta didik dapat memahami dan mengelola realitas pluralisme bangsa secara tepat. (Disadur dari makalah Rudyono Darsono, Jakarta).

 

Disadur dari Buletin Ditjen Bimas Katolik Edisi XXVIII, Mei-Agustus 2012, halaman 13-14.

Pendidikan Pluralitas Membangun Komitmen dalam Perbedaan

pluralisme

Courtesy: sosbud.kompasiana.com

Oleh : Yohanes Sutarto

Pendidikan pluralitas dimaksudkan untuk mencapai kemampuan hidup berdasarkan keharusan-keharusan dan tatanan yang lahir dari kenyataan pluralitas yang ada dalam suatu masyarakat. Pendidikan pluralitas membimbing masyarakat menerima kenyataan pluralitas yang ada dalam masyarakat secara ikhlas, agar masyarakat kemudian mengembangkan cara hidup sesuai dengan tuntutan pluralitas itu. Sementara itu, untuk bisa membangun komitmen dalam perbedaan, diperlukan kedewasaan. Pada saat masyarakat bisa menerima kenyataan pluralitas dan bisa menerima perbedaan-perbedaan yang ada secara ikhlas, maka bisa disebut masyarakat yang dewasa.

Dalam kehidupan bermasyarakat dimungkinkan kedewasaan itu harus terus diaktualisasikan, hal ini karena setiap masyarakat ada dalam zaman yang berbeda dengan tantangan yang berbeda pula. Selama suatu masyarakat memahami zamannya, dan mampu menjawab tantangan yang ada, maka masyarakat itu akan mampu mencapai kehidupan bermasyarakat yang dewasa. Tetapi manakala zaman berubah, sementara masyarakat masih tetap dengan pola pikir atau paradigma kehidupan bermasyarakat yang lama, maka masyarakat itu akan kehilangan kedewasaannya. Oleh karena itu, masyarakat harus dinamis dan memahami perubahan zaman, agar mampu menyesuaikan diri dengan tantangan-tantangan baru.

Dalam setiap masyarakat yang pluralis selalu terdapat sejumlah prasangka. Kelompok yang satu mempunyai prasangka terhadap kelompok lain yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, kemampuan mengelola prasangka akan menjadi faktor yang sangat menentukan, apakah suatu masyarakat yang pluralis akan mampu berkembang dan mencapai kemajuan dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan konstruktif yang terdapat dalam pluralitas itu, ataukah masyarakat tadi akan terkoyak-koyak dan akhirnya hancur oleh kekuatan-kekuatan destruktif yang terdapat dalam pluralitas itu.

Dalam Injil yang ditulis oleh Markus pada bab 9:38-40 menceritakan dialog antara Tuhan Yesus dengan Yohanes. Kata Yohanes, “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Tetapi kata Yesus, “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” Dari ayat ini ditunjukkan bahwa dari suku, agama, ras, golongan, atau kelompok apapun kalau memang dia berbuat baik kepada siapa saja, berarti dia ada di pihak kita, karena selaras dengan ajaran Yesus. Di sinilah kita diajarkan bahwa Yesus sangat menghargai dan mengakui akan pluralitas.

Pada akhirnya, “Pendidikan Pluraliras” bertujuan menyadarkan masyarakat akan prasangka-prasangka yang ada dalam diri mereka masing-masing, dan menanamkan benih-benih kemampuan mengelola atau mengendalikan prasangka-prasangka tadi untuk membangun komitmen dalam perbedaan. Hal ini akan dapat dicapai dengan mengenali keindahan serta potensi-potensi untuk hidup harmonis dan kreatif dalam masyarakat yang pluralis. Jadi, dasar yang dapat dipakai untuk melandasi pendidikan pluralitas adalah realitas objektif bangsa Indonesia yang beraneka ragam dan keharusan mengelola keanekaragaman tersebut secara harmonis dan kreatif, sehingga keanekaragaman bangsa Indonesia menjadi sesuatu yang indah pada waktunya. (Dari berbagai sumber).

 

Disadur dari: Buletin Ditjen Bimas Katolik, Edisi XXVIII, Mei – Agustus 2012, halaman 10.

Magnis Suseno dan Orang-Orang Telantar

courtesy: kompas.com

courtesy: kompas.com

Oleh Agus Sudibyo*

Hukum selalu tampil sebagai janji tentang kesetaraan dan keadilan. Esensi dari tatanan hukum adalah jaminan untuk mensterilkan kekerasan dan pemaksaan dalam tata kehidupan bersama. Namun, dalam praktiknya, negara sering menghadapi keadaan luar biasa, mendesak atau darurat yang menjadi alasan untuk pemberlakuan hukum secara parsial, inkonsisten, bahkan bertolak belakang dengan esensi dasarnya.

Alih-alih menciptakan keadilan, hukum dalam penegakannya justru sering membiarkan diskriminasi dan kekerasan oleh aparat ataupun kelompok-kelompok dominan. Hukum tidak secara konsisten menjamin hak dan kebebasan warga negara, dan tanpa banyak disadarai telah melahirkan fenomena homo sacer. Orang-orang yang terikat untuk menaati hukum, terintegrasi ke dalam tatanan, tetapi selalu luput dari perlindungan hukum. Warga negara yang kehilang esensi kewarganegaraan karena senantiasa terpapar aksi kekerasan kelompok-kelompok yang lebih kuat tanpa keseriusan negara untuk mencegahnya. Hukum sering menangguhkan dirinya ketika dibutuhkan kaum lemah dan terlantar.

Pemikiran inilah yang kurang lebih mendasari reaksi penolakan rohaniwan dan guru besar filsafat Franz Magnis-Suseno terhadap rencana Appeal of Conscience Foundation (ACF) memberi penghargaan kepada Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono atas keberhasilan menciptakan toleransi beragama di Indonesia. Di dalam suratnya kepada ACF yang kemudian tersebar ke berbagai kalangan, Magnis-Suseno menganggp rencana ini justru melemahkan reputasi ACF karena tidak sungguh-sungguh mempertimbangkan situasi nyata di Indonesia.

Hukum dan Kekerasan

Magnis Suseno secara gamblang menyebut kenyataan sulitnya umat Kristen di Indonesia untuk mendapatkan izin pembangunan rumah ibadah, meningkatnya frekuensi penutupan paksa terhadap gereja-gereja, munculnya berbagai peraturan yang mempersulit kaum minoritas untuk beribadah, serta aneka tindakan intoleransi di tingkat akar rumput. Magnis Suseno mempersoalkan kekerasan yang terus dibiarkan terjadi terhadap kelompok yang dianggap sesat atau menyimpang. Selama 8,5 tahun belakangan, pemerintah juga dianggapnya telah menghindari tanggungjawab atas meningkatnya kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah dan Syiah di berbagai tempat.

Magnis Suseno mempertanyakan motivasi ACF memberikan penghargaan kepada Presiden SBY, yang menurutnya telah gagal menunjukkan ketegasan dalam melindungi kaum minoritas dan menindak kelompok-kelompok yang menyebarkan sikap intoleran dengan kekerasan.

Kekerasan dan ketidakadilan sebagaimana disebutkan Magnis Suseno, di satu sisi menunjukkan absennya hukum ketika dibutuhkan untuk melindungi orang-orang tertindas. Kekerasan dan ketidakadilan itu masuk kategori pelanggaran hukum. Namun, di saat yang sama, hukum juga mendasari kekerasan dan ketidakadilan itu. Hal ini terjadi ketika pemerintah secara paksa merelokasi permukiman kaum minoritas dengan dalih keamanan dan ketertiban, ketika negara memberikan impunitas kepada para pelaku kekerasan terhadap kelompok minoritas dengan alasan untuk menghindari gejolak yang lebih luas, atau ketika muncul peraturan yang secara resmi membatasi kebebasan beribadah kelompok minoritas.  Maka yang kita hadapi di sini adalah sebentuk paradoks. Di negeri yang konon meletakkan kedaulatan hukum di atas segalanya ini, hukum ternyata tidak selalu menjadi antitesis dari kekerasan. Hukum dan kekerasan bahkan memasuki zona indistingsi ketika kekerasan menyusup ke dalam tata kehidupan yang berlandaskan hukum dan sebaliknya pertimbangan hukum juga melandasi pembenaran tindakan kekerasan. Meminjam istilah Giorgio Agamben, hukum dalam kenyataannya berlaku melalui mekanisme-mekanisme penangguhan hukum (state of exception) sehingga tidak secara konsisten menghasilkan kepastian tentang hak dan kebebasan.

Kedaulatan hukum dapat dikompromikan ketika pemerintah menghadapi tekanan-tekanan politis. Hukum secara gegabah juga diberlakukan secara utilitaristik melalui tindakan-tindakan pengusiran kelompok minoritas, guna menyenangkan kelompok mayoritas tanpa mengindahkan asas keadilan dan kesetaraan.

Krisis Kewarganegaraan

Paradoks berikutnya adalah bahwa di negeri yang katanya ber-Bhineka Tunggal Ika, tetapi masih ada kelompok masyarakat yang direndahkan martabatnya gara-gara kepercayaan yang mereka anut. Selama kepemimpinan Presiden SBY, negara kurang lebih telah menggunakan standar ganda terhadap masalah kepercayaan beragama. Perlakuan yang diskriminatif ini bukan hanya mereproduksi kekerasan bernuansa agama, tetapi juga menyebabkan krisis status kewarganegaraan. Kelompok-kelompok minoritas itu notabene adalah pemegang kartu tanda penduduk, mempunyai kartu keluarga dan pembayar pajak. Tidak ada keanehan dalam hal ini dan mereka adalah warga negara pada umumnya. Namun, esensi kewarganegaraan itu menjadi pudar ketika negara tidak benar-benar hadir melindungi mereka dari tindakan kekerasan dan penyerobotan hak. Perlakuan terhadap sebagian kaum minoritas bahkan sering lebih buruk daripada perlakuan terhadap para pengungsi dan pencari suaka politik.

Dalam kondisi-kondisi yang ekstrem, mereka sungguh menggambarkan figur homo sacer dalam khazanah hukum Romawi kuno, yakni orang-orang yang dimasukkan ke tatanan hukum namun dikeluarkan dari konteks perlindungan hukum ketika kekerasan terjadi. Mereka harus patuh kepada negara, tanpa mendapatkan manfaat dari kepatuhan itu. Mereka setiap saat dapat menjadi sasaran kekerasan di mana para pelakunya tidak serta merta dikategorikan sebagai pelanggar hukum, dan kekerasan yang terjadi juga tidak otomatis dikategorikan sebagai tindakan kriminal. Mereka adalah orang-orang yang telantar di negeri sendiri, tanpa kepastian tentang hak-hak kewarganegaraan.

Ironi tentang orang-orang telantar di negeri sendiri yang menjadi sumber keprihatinan pihak-pihak yang mempertanyakan rencana penghargaan ACF itu. Bukan berarti mereka tidak bangga terhadap presidennya yang hendak mendapatkan pengakuan dunia internasional. Jika pun penghargaan itu akhirnya tetap diberikan, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Intinya adalah SBY harus benar-beanr layak untuk mendapatkan penghargaan itu. Masih ada waktu yang tersisa untuk sungguh-sungguh membuktikannya.

 

*Penulis adalah Direktur Indonesia Research Center, Jakarta

Sumber: Harian MEDIA INDONESIA, Rabu 22 Mei 2013, Rubrik OPINI, halaman 8.

Surat Protes Romo Franz Magnis-Suseno, SJ atas Rencana Pemberian World Statesman Award kepada Presiden SBY

courtesy: kompas.com

courtesy: kompas.com

*The Caveat of Prof. Franz Magnis-Suseno, SJ to ACF*

Ladies and Gentlemen of the Appeal of Conscience Foundation (ACF),

I am a Catholic Priest and professor of philosophy in Jakarta. In Indonesia we learnt that you are going to bestow this year’s World Stateman Award to our President Susilo Bambang Yudhoyono because of his merits regarding religious tolerance.
This is a shame, a shame for you. It discredits any claim you might make as a an institution with moral intentions.
How can you take such a decision without asking concerned people in Indonesia? Hopefully you have not made this decission in response to prodding by people of our Government or of the entourage of the President.

Do you not know about the growing difficulties of Christians to get permits for opening places of prayer, about the growing number of forced closures of churches, about the growth of regulations tha make worshipping for minorities more difficult, thus about growing intolerance on the grassroot level? And particularly, have you never heard about the shameful and quite dangerous attitudes of hardline religious groups towards so called deviant teachings, meaning members of the Achmadiyah and the Shia communities, and the government of Susilo Bambang Yudhoyono just doing nothing and saying nothing to protect them? Hundreds of their people have under Susilo Bambang Yudhoyono’s presidentship been driven out of their houses, they still live miserably in places like sports halls, there have allready Achmadis and Shia people been killed (so that the question arises whether Indonesia will deteriorate to conditions like Pakistan dan Iran [favor of President G. W. Bush] where every months hundreds of Shia people are being killed because of religious motivations)?

Do you not know that President Susilo Bambang Yudhoyono during his up to now 8 1/2 years in office has not a single time said something to the Indonesian people, that they should respect their minorities? That he has shamefully avoided responsibility regarding growing violence towards Achmadiyah and Shia people?

Again, whom did you ask for information before making you award choice? What could be your motivation to bestow upon this President a reward for religious tolerance who so obviously lacks any courage to do his duty protecting minorities?

I have to add that I am not a radical, not even a “human right extremist” (if such exist). I am just appaled about so much hypocrisy. You are playing in the hands of those – still few – radicals that want to purify Indonesia of all what they regard as heresies and heathen.

Message for the Feast of Vesakh 2013 – Pontifical Council for Interreligious Dialogue, Vatican City

courtesy: antarafoto.com

courtesy: antarafoto.com

PONTIFICAL COUNCIL FOR INTERRELIGIOUS DIALOGUE

MESSAGE TO BUDDHISTS
FOR THE FEAST OF VESAKH/HANAMATSURI 2013A.D./2556 B.E.

Christians and Buddhists: loving, defending and promoting human life

Dear Buddhist Friends

1. On behalf of the Pontifical Council for Interreligious Dialogue, I would like to extend my heartfelt greetings and good wishes to all of you, as you celebrate the feast of Vesakh which offers us Christians an occasion to renew our friendly dialogue and close collaboration with the different traditions that you represent.

2. Pope Francis, at the very beginning of his ministry, has reaffirmed the necessity of dialogue of friendship among followers of different religions. He noted that “The Church is […] conscious of the responsibility which all of us have for our world, for the whole of creation, which we must love and protect. There is much that we can do to benefit the poor, the needy and those who suffer, and to favour justice, promote reconciliation and build peace” (Audience with Representatives of the Churches and Ecclesial Communities and of the Different Religions, 20 March 2013). The Message of the World Day of Peace in 2013 entitled “Blessed are the Peacemakers,” notes that “The path to the attainment of the common good and to peace is above all that of respect for human life in all its many aspects, beginning with its conception, through its development and up to its natural end. True peacemakers, then, are those who love, defend and promote human life in all its dimensions, personal, communitarian and transcendent. Life in its fullness is the height of peace. Anyone who loves peace cannot tolerate attacks and crimes against life” (Message for the World Day of Peace in 2013, n. 4).

3. I wish to voice that the Catholic Church has sincere respect for your noble religious tradition. Frequently we note a consonance with values expressed also in your religious books: respect for life, contemplation, silence, simplicity (cf. Verbum Domini, no. 119). Our genuine fraternal dialogue needs to foster what we Buddhists and Christians have in common especially a shared profound reverence for life.

4. Dear Buddhist friends, your first precept teaches you to abstain from destroying the life of any sentient being and it thus prohibits killing oneself and others. The cornerstone of your ethics lies in loving kindness to all beings. We Christians believe that the core of Jesus’ moral teaching is twofold; love of God and love of neighbour. Jesus says: “As the Father has loved me, so have I loved you; abide in my love.” And again: ‘This is my commandment, that you love one another as I have loved you” (Catechism of the Catholic Church n. 1823).The fifth Christian Commandment, “You shall not kill” harmonizes so well with your first precept. Nostra Aetate teaches that “the Catholic Church rejects nothing of what is true and holy in these religions” (NA 2). I think, therefore, that it is urgent for both Buddhists and Christians on the basis of the genuine patrimony of our religious traditions to create a climate of peace to love, defend and promote human life.

5. As we all know, in spite of these noble teachings on the sanctity of human life, evil in different forms contributes to the dehumanization of the person by mitigating the sense of humanity in individuals and communities. This tragic situation calls upon us, Buddhists and Christians, to join hands to unmask the threats to human life and to awaken the ethical consciousness of our respective followers to generate a spiritual and moral rebirth of individuals and societies in order to be true peacemakers who love, defend and promote human life in all its dimensions.

6. Dear Buddhist friends, let us continue to collaborate with a renewed compassion and fraternity to alleviate the suffering of the human family by fostering the sacredness of human life. It is in this spirit that I wish you once again a peaceful and joyful feast of Vesakh.

Jean-Louis Cardinal Tauran

President

Rev. Miguel Ángel Ayuso Guixot, MCCJ
Secretary

Pesan Untuk Hari Raya Waisak 2013 – Dewan Kepausan Untuk Dialog Antarumat Beragama Vatikan

courtesy: antarafoto.com

courtesy: antarafoto.com

DEWAN KEPAUSAN UNTUK

DIALOG ANTAR UMAT BERAGAMA

 

UMAT KRISTIANI DAN BUDDHA: MENCINTAI, MEMBELA DAN MEMAJUKAN HIDUP MANUSIA

 

Pesan untuk Hari Raya Waisak

2013 A.D./2556 B.E.

Para Penganut Agama Buddha yang terkasih,

  1. Mewakili Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, dengan senang hati dan dari lubuk hati, saya mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Waisak. Perayaan ini menjadi kesempatan bagi kami kaum Kristiani untuk membaharui kembali dialog persaudaraan di antara kita, serta membangun kembali kerjasama dengan semua tradisi yang saudara sekalian wakilkan.
  2. Pada awal masa pontifikatnya, Paus Fransiskus kembali menegaskan perlunya dialog antara penganut-penganut dari agama yang berbeda. Beliau mengatakan: “Gereja […] menyadari tanggungjawab kita semua terhadap dunia ini, dan terhadap alam semesta yang perlu kita lindungi. Ada banyak hal yang bisa kerjakan untuk orang miskin, untuk orang yang membutuhkan bantuan, dan untuk mereka yang menderita. Selain itu, kita juga bisa, bekerjasama demi keadilan, guna memperjuangkan rekonsiliasi dan membangun perdamaian.” (Kepada para Wakil Gereja-gereja dan Komunitas-komunitas Eklesial dan Agama-agama, 20 Maret 2013). Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2013 berjudul “Berbahagialah orang yang Membawa Damai,” menegaskan bahwa, “Langkah untuk membangun perdamaian dan kesejahteraan bersama, ditempuh, terutama, dengan menghormati hidup manusia pada setiap tahap perkembangannya, mulai dari saat pembuahan, pertumbuhan, hingga berakhir dengan alami. Maka para pembawa damai yang sejati, adalah orang-orang yang mencintai, membela, dan memajukan hidup manusia dalam segala dimensi, yakni pribadi, komuniter, dan adikodrati. Kepenuhan hidup merupakan puncak dari perdamaian. Siapapun yang mencintai perdamaian tidak bisa mentolerir penyerangan dan tindakan kejahatan yang melawan kehidupan” (Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2013, n. 4).
  3. Dengan tulus hati, saya ingin menegaskan bahwa, Gereja Katolik menghormati tradisi religius saudara-saudara, yang sedemikian luhur. Banyak nilai dalam ajaran Agama Katolik selaras dengan nilai-nilai yang ada dalam buku-buku religius saudara-saudara: yakni hormat terhadap kehidupan, kontemplasi, keheningan, kesederhanaan (bdk. Verbum Domini, no. 119). Dialog persaudaraan kita yang tulus mesti mengembangkan nilai-nilai yang menjadi milik bersama, baik bagi penganut agama Buddha maupun bagi kaum Kristiani, terutama penghormatan terhadap kehidupan.
  4. Sahabat-sahabat Buddha yang terkasih, perintah saudara yang pertama mengajarkan untuk menghindari pemusnahan kehidupan setiap makhluk yang berasa. Dengan demikian, ada larangan untuk membunuh diri ataupun membunuh orang lain. Dasar dari seluruh etika saudara ialah kebaikan hati yang penuh kasih terhadap segala makhluk. Kami, sebagai orang Kristiani, percaya bahwa ada dua hal yang menjadi inti dari ajaran moral Yesus: yakni kasih terhadap Allah dan kasih terhadap sesama. Yesus mengatakan: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku mengasihi kamu; tinggalah di dalam kasih-Ku itu.” Selain itu Yesus juga mengatakan: “Inilah perintah-Ku: yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Katekismus Gereja Katolik, n. 1823). Perintah Kristiani yang kelima, yakni “Jangan membunuh,” benar-benar selaras dengan perintah pertama saudara-saudara. Nostra Aetate menegaskan bahwa “Gereja Katolik tidak menyangkal apa saja yang benar dan suci yang terdapat dalam agama-agama ini” (NA 2). Oleh sebab itu, berdasarkan kekayaan sejati dari tradisi religius kita masing-masing, menurut hemat saya, sudah waktunya pemeluk agama Buddha dan kaum Kristiani menciptakan suasana damai, mencintai, membela, dan memajukan hidup manusia.
  5. Sebagaimana yang kita ketahui, meskipun terdapat ajaran-ajaran tentang kesakralan hidup manusia yang luhur ini, ternyata kejahatan, dalam berbagai bentuk, berusaha untuk mengurangi martabat manusia dengan melemahkan pemahaman tentang kemanusiaan dalam diri pribadi-pribadi dan komunitas-komunitas. Situasi yang tragis ini mendesak kita, baik kaum Buddha maupun Kristiani, untuk bekerja sama guna menyingkapkan semua ancaman terselubung terhadap hidup manusia. Kita juga perlu membangunkan kembali kesadaran etis guna mengembangkan hidup spiritual dan moral umat kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai masyarakat. Dengan demikian, kita semua siap untuk menjadi pembawa damai yang mencintai, membela, dan memajukan hidup manusia, pada segala dimensinya.
  6. Saudara-saudara Buddha yang terkasih, mari kita terus bekerja sama untuk menghidupkan kembali sikap bela-rasa serta persaudaraan guna meringankan penderitaan seluruh umat manusia dengan menjunjung tinggi kesakralan hidup manusia. Dalam semangat inilaj, saya ingin sekali mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Waisak yang penuh kedamaian dan suka cita.

 

Jean-Louis Kardinal Tauran

Ketua

Rev. Miguel Ángel Ayuso Guixot. MCCJ

Sekretaris

(Indonesian Language)

PONTIFICAL COUNCIL FOR INTERRELIGIOUS DIALOGUE

00120 Vatican City

http://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/interelg/index.htm

e-mail : dialogo@interrel.va

Pembangunan Karakter Bangsa Penting untuk Meredam Kekerasan

Pembangunan karakter bangsa penting untuk meredam kekerasan thumbnail

Romo Benny Susetyo, Pr

(16/04/2013) Pembangunan karakter bangsa perlu ditingkatkan guna meredam berbagai konflik dan kekerasan berdasarkan suku, agama, ras dan antargolongan.

“Proses membangun karakter bangsa belum selesai. Ketika pembangunan karakter tidak selesai-selesai maka yang terjadi adalah masing-masing kelompok lebih mendahulukan identitas suku, agama, ras, dan antargolongan,” ujar Romo Antonius Benny Susetyo, saat menjadi narasumber sebuah seminar tentang Dialog Pilar Negara, yang diselenggarakan di  Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, 15 April 2013.

Menurutnya, “Saat ini kita kehilangan pemimpin yang berjiwa kenegarawanan. Pendiri bangsa adalah pemimpin yang tidak mementingkan suku, agama, ras, dan antargolongan.”

Konflik dan kekerasan atas nama suku, ras, agama, dan antargolongan selalu terjadi. “Kita tidak pernah memutus kekerasan. Mengapa kekerasan tidak pernah putus, karena tidak ada ketegasan hukum,” paparnya.

Ia mengatakan bahwa masalahnya tidak hanya itu saja. Demokrasi yang berkembang saat ini lebih hanya mengandalkan kuantitas tanpa disadari akal sehat. Hal itu “diperparah lagi dengan tidak satu visinya para pemimpin,” tambahnya.

Persoalan-persoalan di atas, menurutnya, tidak terselesaikan akibat dari konstitusi tak ditegakkan. Sosialisasi empat Pilar sudah bagus, namun disayangkan nilai-nilai itu tidak dijadikan roh dalam mengambil keputusan.

Untuk itu ia menegaskan bahwa hukum harus menjadi panglima, pemerintah harus tegas dan berwibawa, adanya pendidikan multikulturisme, dan pendidikan nilai-nilai Pancasila.

Sementara itu Wakil Ketua MPR RI, Melani Leimena Suharli menegaskan bahwa dirinya tidak setuju kalau bangsa Indonesia tidak toleran.

Ia mencontohkan banyak hal dalam masalah toleransi, seperti saatMusabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) dilaksanakan di Ambon, Maluku, sekitar 2.500 pendeta menyediakan rumahnya untuk tempat tinggal peserta MTQ.

Melani mengatakan, pendidikan multikulturisme untuk menciptakan toleransi dan saling menghormati antar suku, agama, ras, dan antargolongan, perlu didukung namun ia mendorong agar pendidikan masalah ini di tingkat keluarga lebih diutamakan terutama pada masa anak-anak usia dini.

Ia menceritakan pengalaman di keluarganya. Meski orangtuanya, J. Leimena, mempunyai anak dengan beragam keyakinan, namun keluarganya selalu hidup rukun.

“Ini bisa terjadi sebab orangtuanya mengajarkan agar kita tidak mementingkan diri sendiri dan tidak bersikap kaku di tengah masyarakat,” tambahnya.

Sumber: http://indonesia.ucanews.com/2013/04/16/pembangunan-karakter-bangsa-penting-untuk-meredam-kekerasan/

Dialog Gereja, Sebuah Refleksi

berbincangOleh Pendeta Roberth W. Maarthin*

Kita tahu pengertian Gereja. Yang pertama adalah orangnya (tiap umat kristen) dan yang kedua adalah gedung (atau lembaga). Gereja dalam tulisan ini ialah orang atau tiap individu Kristiani. Dan pengertian berdialog atau dialog adalah 2 (dua) orang atau lebih, bercakap-cakap, atau sedang berbicara membahas sesuatu. Jadi, dialog itu terjadi karena dua orang atau lebih sedang berbicara. Tujuan penulisan sederhana ini ialah mencoha meneropong, ‘Bagaimana Gereja yang berdialog’. Berdialog dengan siapa? Mengapa mesti ada dialog? Lalu ke mana arah dan muara dialog itu?

Gereja atau umat Kristiani lahir ke dunia oleh satu tokoh kontroversi. Namanya Yesus Kristus. Dia adalah penjelmaan Allah Sang Pencipta alam raya ini. Tokoh ini menjadi kontroversial karena pengajaran dan tindakan yang menjungkirbalik (baca: memutarbalik) tradisi beragama dan beriman orang-orang zaman itu (abad pertama Masehi) bahkan sampai saat tulisan ini saya ketik, masih juga kontroversial, bukan hanya di kalangan Gerejawi (baca: lembaga Kekristenan) atau umat Kristiani, tetapi juga di luar Gereja. Hidup-Nya relatif singkat, hanya 33 tahun, tetapi cara kematian yang ditempuh, di luar nalar, tidak masuk akal, atau lebih tepatnya kontroversial. Dalam situasi itu (kontroversial), Gereja mulai belajar hidup dan berjumpa dengan yang lain, suku yang berbeda, bahasa yang tidak sama, budaya dan tradisi asing bahkan bersentuhan dengan agama lain.

Sepanjang hidupnya, terutama 3 tahun menjelang kematian-Nya, Yesus banyak berdialog atau bercakap-cakap dengan tiap orang yang ditemui. Dialog tersebut disertai praktik dalam berbagai aktivitas memberi belas kasih. Dalam perjumpaan itu, Yesus tidak bertanya dari mana? Siapa kamu? Terlebih, agama apa?

Yang diperbuat-Nya adalah berdialog dan berkarya. Bercakap-cakap. Berbicara. Mendengar dan bertindak. Topik favorit yang selalu dicakapkan Yesus ialah pengampunan karena kasih Allah yang menyelamatkan. Yaitu, kasih Allah pada dunia dan segala isinya. Kasih yang tanpa batas, tak dapat diukur, melebihi hitungan zaman. Kasih yang datang dari Sorga. Itulah tujuan utama kehadiran-Nya dalam dunia. Inti dari penderitaan kematian di kayu salib.

Kasih yang diwariskan. Diwariskan? Ya, diwariskan pada setiap umat Kristiani. Menjadi hak saya dan Anda tak peduli dari denominasi atau Gereja manapun. Sepanjang dia mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, dia mendapat hak itu. Persoalannya ialah, apakah tiap umat Kristen menyadari, mengerti hak itu? Apakah ‘warisan’ itu aktual dalam hidupnya? Menjadikan hak itu sebagai budaya dan peradaban pribadi juga komunitas? Kasih adalah dasar ruang dan gerak umat Kristiani sepanjang zaman. Mestinya itu titik.

Tetapi sejarah banyak bertutur kegagalan umat Kristiani dalam membangun dan menjadikan kasih sebagai budayanya. Sejarah bahkan menoreh luka dan borok dalam tubuh kita. Luka dan borok itu terus bernanah dalam hidup banyak umat Kristen. Harapan saya semoga tidak bertumbuh menjadi kanker. Kanker adalah penyakit yang saat ini belum ditemukan bagaimana cara pengobatannya. Anda bisa bayangkan, jika luka dan borok-borok sejarah umat Kristiani itu terus berkembang dalam tubuh ini, bagaimana akan teratasi? Pertanyaan besar adalah bagaimana menyembuhkan luka dan borok itu?

 

Pertama, sejarah adalah masa lampau.

Disadari bahwa sampai sekarang tiap-tiap denominasi ‘masih’ menyimpan dendam sejarah, cenderung saling memberi cap buruk, saling curiga satu dengan yang lain sampai pada ‘klaim keselamatan yang amat eksklusif-inklusif’! inilah penampakan kehadiran gereja di tengah dunia ini.

Dalam penampakan warna seperti itu, bagaimana Gereja mampu menunjukkan kasih Allah pada dunia? Sejarha yang mestinya menjadi refleksi kasih terhadap budaya dan peradaban Gereja, terabaikan! Mengapa refleksi kasih? Ya, karena hanya kasih yang memberi kekuatan untuk mengampuni. Bukankah pengampunan selalu memberi hidup yang baru? Memberi kekuatan baru? Memerdekakan sekaligus membebaskan dari semua rasa malu hari kemarin? Membuat sesama manusia sejajar tanpa ada sekat-sekat?

Anehnya, Gereja sering melupakan itu dan lebih riuh berefleksi lewat akal da pemikiran-pemikiran manusiawi. Padahal, pemikiran-pemikiran dan hasil-hasilnya bertujuan untuk memperkaya dan memperkuat Gereja dalam pengaktualan warisan Yesus Kristus padanya. Saya tidak mengerti, mengapa sejarah terus menerus menjadi ‘kambing hitam’ untuk menghindari penyembuhan luka dan borok atas dendam sejarah itu?

Lihat dan amati dengan seksama, betapa lembaga-lembaga gerejawi tidak berani jujur untuk mengakui kelemahan masa lalu. Sekaligus berani tulus mengakui “bahwa engkau dan aku adalah satu”. Satu Keselamatan! Satu Tubuh! Satu Iman! Yaitu, YESUS KRISTUS dalam Tritunggal.

Padahal, pengalaman masa lalu memberi pengajaran untuk tidak melakukan kesalahan yang sama atau setidak-tidaknya memperbaiki kekeliruan atau mencari jalan keluar untuk sesuatu yang masih ‘gelap’ yang belum tercerahkan atau yang masih samar-samar. Catatan sejarah menjadi rujukan untuk memasuki hari esok atas pengalaman lampau. Bukankah kita belajar kasih dari sejarah masa-masa itu? Baik dari catatan-catatan penulis Alkitab, jurnal-jurnal teolog serta bapa-bapa Gereja? Apakah situasi seperti itu akan terus mewarnai perjalanan Gereja ke depan? Dalam pengharapan terhadap kuasa Tuhan Yesus hentikan sampai di sini dan kita bersama memasuki dunia baru.

 

Kedua, belajar mengakui dan menerima tradisi masing-masing denominasi

Dialog dilakukan untuk dapat mengerti dan memberi pemahaman kepada orang lain. Kelemahan Gereja selama ini ada di situ. Kita kurang intens berdialog bahkan ada yang menghindari proses-proses itu. Saya tidak tahu penyebabnya. Padahal, dialog penting. Penting untuk saling memahami. Bagaimana mengetahui dan mengerti yang lain jika menutup diri? Bagaimana tahu jika tidak belajar? Bagaimana akan dikenal bila tidak membiarkan diri dikenal? Bagaimana mengahrgai tradisi liturgi yang lain jika sudah beranggapan tradisinya yang benar? Bukankah tradisi liturgi masing-masing adalah wahana pembangun iman yang tiap kali ada konvensi Gereja selalu berubah dan ada pembaruan? Karena Liturgi adalah tradisi, maka sesungguhnya dia bisa berubah setiap saat. Karena itu, mestinya Liturgi atau tradisi masing-masing bukan menjadi penghalang untuk terus-menerus melakukan dialog interdenominasi Gereja.

Dialog dapat dilakukan dalam berbagai kreasi. Misalnya, saling berkunjung, mengikuti ibadah ekumene dengan liturgi khusus yang dibuat bersama, doa bersama, belajar isi Alkitab bersama, pentas musik gerejawi baik vocal group dan paduan suara sampai pada dialog karya untuk sesama manusia. Termasuk juga berbagai kreasi lain, sesuai usia umat dan pendidikannya.

Lalu darimana memulai dialog? Mulailah dari para pemimpin, yaitu pastor, bruder, suster, pendeta, evangelis, para majelis gereja. Ibarat kembang tanaman, ketika ia mulai kuncup dan berbunga, maka seluruh tumbuhan kembang itu menjadi indah. Jika imam memperlihatkan ekpresi-ekspresi dialog kepada umatnya maka ekspresi dialog pun akan ikut dari belakang. Dia memberi contoh. Sebagai teladan jauh lebih utama, daripada teori-teori dialogis yang selama ini diseminarkan atau dicetak dalam buku-buku tebal. Termasuk melalui khotbah mingguan, para imam sering menyerukan bagaimana kasih Allah terhadap sesama, berkumandang dari gedung-gedung gereja termasuk yang disiarkan media massa, elektronik sampai internet. Kenyataannya, seringkali para tokoh gereja yang notabene para imam, enggan melakukan hal itu, meski ada gejala cukup positif mengarah ke sana.

Nah, Gereja dengan berbagai denominasi itu, sesungguhnya adalah satu. Ketika Tuhan Yesus berdoa di Taman Getsemani sesuai kesaksian Injil Yohanes 17, doa-Nya bukan hanya untuk murid-murid. Tetapi kepada semua orang percaya karena pemberitaan para murid itu. Siapa ‘semua orang percaya’ itu? Tentu saja semua Gereja sepanjang zaman, sampai penggenapan kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya. Inilah yang mesti selalu diperjuangkan, yang harus diupayakan dalam dialog interdenominasi. Bahwa engkau dan aku adalah satu yaitu dalam Tubuh Yesus Kristus.

Pertanyaan berikut adalah, bagaimana Gereja berdialog dengan sesama? Dalam awal tulisan ini, saya menyinggung bahwa sejak Gereja lahir ke dunia ini, sudah berhadapan dan berjumpa dengan berbagai manusia dan beragam budaya. Gereja hidup di tengah multikultural, di tengah multikultural, di tengah multireligius. Bagaimana dialog Gereja pada kondisi seperti itu? Apa yang mesti dilakukan? Dan bagaimana Gereja tetap hidup berdampingan dengan adegan yang lain?

Kesadaran Gereja terhadap Hak Waris (yaitu: kasih) amat penting. Kasih inilah yang membedakan Gereja dengan yang lain. Sebagaimana pengorbanan Allah dengan mengutus Anak Tunggal-Nya (Yohanes 3:16) sampai pada pengorbanan-Nya di atas salib. Maka ciri utama kasih, adalah berkorban. Berkorban? Ya, Gereja mesti berani berkorban untuk memulai dialog dengan yang lain. Gereja tidak boleh pasif tetapi aktif. Bukankah kasih itu aktif? Bagaimana Gereja ada di dunia ini jika Allah tidak aktif dan progresif, terutama pekerjaan-Nya melalui Roh Kudus? Dari kota kecil Betlehem menuju Yerusalem, kemudia Efesus, Korintus, Filipi, lalu masuk kota Roma dan menyebar ke seluruh pelosok dunia, di mana ada manusia, di sana Gereja pun ada. Bukankah itu karena Allah yang aktif bahkan progresif dalam kasih-Nya? Bagaimana konteks kita di Indonesia?

Kita tahu sejak dulu kala Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius, ramah tamah, gotong royong dengan budaya dan tradisi yang adiluhung dengan kekayaan alam yang menggiurkan banyak bangsa lain sehingga datang menduduki Indonesia. Tetapi akhir-akhir ini, hal itu memperlihatkan kenyataan sebaliknya. Kerusuhan antarkelompok marak di mana-mana. Demonstrasi yang mestinya menjadi sarana demokrasi, berubah anarkis. Masyarakat desa yang seharusnya memperlihatkan keluguan dan kesederhanaan justru menampakkan kekerasan antardesa. Belum lagi tawuran antarpelajar, antarmahasiswa yang diperparah oleh miskinnya mental spiritual tokoh-tokoh publik baik oleh pejabat pemerintahan, artis sampai tokoh agama. Bagaimana Gereja hidup dengan situasi seperti ini?

Menjelang Yesus Kristus naik ke surga, Ia mengingatkan para murid untuk terus-menerus menebar, menyebar, menyemai kasih tiap waktu. Di mana, ke mana, kapan saja kasih musti didialogkan kepada siapa saja. Segala makhluk! Manusia dan lingkungan.

Persoalan bagi Gereja ialah, siapkah untuk itu? Sebenarnya menyatakan kasih pada dunia, tidak sulit, juga tidak menyusahkan. Kasih hanya butuh pengorbanan untuk melakukan kehendak Tuhan Yesus dengan tulus. Santo Fransiskus Assisi mengatakan dalam puisi yang ditulisnya beberapa abad lalu seperti ini: Di mana ada pertikaian, ke sana aku membawa kasih. Kasih seperti ini yang memberi kekuatan dan spirit luar biasa bagi Mother (Beata) Teresa untuk mencintai kaum papa dan miskin di Kalkuta, India, sepanjang hidupnya. Kasih yang sama juga menjadi pendorong Romo Mangun Wijaya untuk mencintai masyarakat Kali Code sampai akhir hayat. Indonesia membutuhkan kasih seperti ini dari tiap umat Kristiani. Bisa dibayangkan jika seluruh uat Kristiani di Indonesia yang diperkirakan berjumlah 60-an juta itu menjadikan kasih sebagai budaya hidupnya sehari-hari, Indonesia akan mengalami perubahan luar biasa dalam hubungan antarsesama dan antarumat beragama.

Namun, sekali lagi kasih itu berkorban. Berkorban untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Berkorban untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Berkorban untuk menjadi jujur di tengah ketidakjujuran. Berkorban untuk menolong mereka yang papa. Berkorban untuk hidup sederhana di tengah kemiskinan. Berkorban mengampuni sepahit apapun persoalan yang kita alami.

Mungkin Gereja mesti berdialog di sana. Dialog dalam pengorbanan untuk kebaikan dan kehidupan orang lain. Seperti Yesus Kristus, berkorban untuk kehidupan Anda dan saya.

Semoga tulisan pendek ini dapat memberi inspirasi untuk terus-menerus berdialog dalam kasih.

*Penulis tinggal di Yogyakarta

Keserakahan dan Kerusakan Lingkungan

Celebrate the WorldOleh : Benny Susetyo, Pr
Hari Bumi baru saja berlalu, tetapi seolah tanpa gaung. Kerusakan lingkungan terus terjadi dengan keserakahan manusia sebagai faktor paling dominan. Keserakahan untuk mengeruk keuntungan pertumbuhan ekonomi membuat eksploitasi alam berlangsung tanpa batas. Sebenarnya kesadaran sudah muncul, dan dunia telah mengupayakan sejumlah kesepakatan untuk membangun secara berkelanjutan dengan mengendalikan kerusakan lingkungan. Namun, faktanya kerusakan ekologi semakin menjadi-jadi.
Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia tahun ini bertopik keterlibatan gereja dalam melestarikan keutuhan ciptaan. Dalam nota ini, Gereja ingin mengajak seluruh umat Katolik memberikan perhatian, meningkatkan kepedulian, dan bertindak partisipatif dalam menjaga, memperbaiki, melindungi, dan melestarikan keutuhan ciptaan dari segala kerusakan. Gereja memandang lingkungan hidup sebagai segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup, termasuk manusia, berupa benda, daya, dan keadaan yang memengaruhi kelangsungan makhluk hidup baik langsung maupun tidak langsung.
Dalam lingkungan hidup terdapat ekosistem, yaitu unsur-unsur lingkungan hidup, baik yang hidup (biotik) seperti manusia, tumbuhan, hewan, maupun yang tak hidup (abiotik) seperti tanah, air, dan udara. Semua saling berhubungan dan saling memengaruhi. Dengan demikian, manusia bersama ciptaan yang lain adalah bagian dari lingkungan hidup. Lingkungan hidup menyediakan berbagai kebutuhan manusia serta menentukan dan membentuk kepribadian, budaya, dan pola kehidupan masyarakat.
Karena itu, dalam memanfaatkan sumber daya alam, manusia harus memperhatikan tujuan dan dampak yang akan ditimbulkan. Sangatlah penting untuk melindungi sumber daya hayati, melestarikan keanekaan hayati, dan bijak mengelola sumber daya hutan dan laut.
 
Kesadaran lingkungan
Kesadaran masyarakat mengenai lingkungan hidup adalah hal penting dewasa ini. Kesadaran ini sesungguhnya bukan sekadar bagaimana menciptakan suasana indah atau bersih saja, melainkan juga masuk pada kewajiban manusia untuk menghormati hak-hak orang lain, yaitu menikmati keseimbangan alam. Dengan demikian, kegiatan-kegiatan yang tidak berpihak kepada kelestarian lingkungan sedini mungkin dapat dihindari.
Namun, faktanya tumbuhnya kesadaran tersebut belum terlihat mengingat kondisi lingkungan kita yang hari ini sungguh-sungguh memprihatinkan. Bermacam bencana alam masih terjadi silih berganti. Semakin banyak kawasan Indonesia yang terendam banjir, padahal dahulu termasuk wilayah aman. Banjir yang terkait dengan kerusakan hutan sebagai kawasan resapan, di sisi lain dibarengi makin canggihnya modus para perusak hutan. Inilah jalinan tali-temali yang sulit diurai.
 
Manusia dan keserakahan
Menurut Tjokrowinoto (1996), semua kesalahan ini tidak pernah diperhitungkan para pelaku ekonomi yang rakus. Keberhasilan paradigma pertumbuhan ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan kerap harus dicapai melalui pengorbanan (at the expense of) berupa deteriorasi ekologis baik yang berwujud menurunnya kesuburan tanah, penyusutan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, maupun desertifikasi. Upaya mewujudkan masyarakat berkelimpahan (affluent society) ternyata harus disertai dengan pengorbanan yang membahayakan. Masyarakat kecil di dataran rendah harus menanggung amukan badai banjir lumpur akibat resapan yang sudah tidak lagi memadai.
Perkembangan kapitalisme yang semakin tidak tentu arah, terutama berkaitan dengan penyelamatan alam, membuat manusia terus berhadapan dengan berbagai problem lingkungan. Dari hari ke hari, gejala dan bentuk kerusakan alam semakin berkembang tidak terduga.
Andre Gorz (2002) dalam Ekologi dan Krisis Kapitalisme menyatakan, manusia sedang menghadapi situasi semakin meningkatnya kelangkaan sumber daya alam. Solusi dari krisis itu bukan pemulihan ekonomi, melainkan dengan pembalikan logika kapitalisme yang cenderung berorientasi pada penumpukan keuntungan (profit) untuk lebih seimbang antara kebutuhan dan aspek untuk mencapai kebutuhan itu sendiri.
Perkembangan kapitalisme yang semakin maju telah melahirkan krisis lingkungan serius karena konsep pembangunan lebih banyak diarahkan oleh logika-logika kapitalisme. Alam diperas untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang tidak henti-hentinya menciptakan teknologi tak ramah lingkungan.
Karena itu, berbagai praktik pembangunan dan juga industrialisasi di negara kita hendaknya terus-menerus kita kritisi dari sudut proses dan dampak dari kebijakan tersebut.

Siti Mariyam : Dialog Islam-Katolik

Bunda_maria_dan_YEsus

Oleh Mochammad Ngemron*

Agama adalah suatu keyakinan yang dimiliki oleh seseorang. Setiap agama memiliki dasar pemikiran yang berbeda-beda sesuai dengan yang mereka anut. Seperti halnya tentang pembahasan Siti Mariyam dalam konteks agama. Banyak agama berbicara tentang Siti Mariyam dan perdebatan pendapat terjadi di dalamnya. Hal ini sulit untuk menentukan pendapat mana yang benar, karena setiap agama memiliki pendapat masing-masing. Dengan adanya pendapat ini, kami ingin meninjau kitab kami yaitu Al Qur’an. Bagaimana Siti Mariyam (dalam Al Qur’an) tentang kelahiran Nabi Isa AS. Berikut adalah ulasan kami.

“Mariyam berkata: ‘Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.’ Allah berfirman melalui Malaikat Jibril: demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, ‘Jadilah, lalu jadilah dia’. (3. Al-Imron:47).

“Ia (Siti Mariyam) berkata: bagaimana aku mempunyai anak laki-laki sedangkan tak seorang pun pernah menyentuh diriku dan aku pun tak pernah berbuat senonoh” (3. Al-Imron:20).

“Ia (Malaikat Jibril) menjawab: demikianlah Allah berkehendak. Itu adalah kehendak Allah, aku membawakan bukti keberadaan-Nya untuk manusia di bumi akan kehendak rahmat bagi kami. Dan itu adalah jawaban yang telah diputuskan (3. Al-Imron: 21).

“Dan bahwa Rabb menciptakan berpasang-pasang laki-laki dan perempuan.

“Dan dari benih hiduplah manusia di dunia. Jadi pengertian Allah itu mudah dan sudah menjadi ketentuan Tuhan adalah menggunakan proses pada makhluknya, ketika itu Mariyam masih kecil dan ikut Nabi Zakaria, sehingga jawaban Mariyam seperti itu karena Mariyam tahu bahwa wanita hamil harus disentuh laki-laki. Jawaban malaikat itu mudah bagi Allah dengan jadi maka jadilah, ini tidak semaunya sendiri tapi lewat proses hukum Allah. Di mana hukum Allah itu adalah tetap dan obyektif.

“Ini adalah aturan (kami) dan para Utusan kami yang kami utus sebelum engkau dan engkau tak menemukan perubahan dalam aturan kami.” (17. Bani Israel:77).

“Demikian itulah sunnah Allah yang telah berlaku sebelumnya engkau takkan menemukan perubahan dalam sunnah Allah” (48. Al-Fath:2-3).

Hukum Allah tidak berubah apa saja yang berlaku untuk manusia dan segala makhluk-Nya pasti mengikuti. Jadi, tentang peristiwa Mariyam mestinya menurut ayat-ayat tersebut mengikuti hukum-Nya, Mariyam bersuami baru mempunyai anak, kalau kita mengikuti ayat-ayat tersebut. Memang bagi Allah mudah, adalah kehendak Allah menggunakan atau mengikuti hukum-Nya.

Bagi mereka yang percaya Mariyam tidak punya suami dan tahu-tahu punya anak mengikuti sejarah dan pendapat dari siapa kok aneh, orang wanita punya anak mestinya punya suami dulu baru dicampuri dan hamillah dia. Maka Mariyam dianggap adalah wanita suci, betul karena jawaban itu terjadi masih muda, ketika masih ada di dalam asuhan Nabi Zakaria.

Setelah dewasa Mariyam bersuami dan punya anak Isa (Yesus). Sampai pada proses penyaliban Isa (Yesus), Mariyam dan Yusuf Arimatea minta setelah diturunkan dari salib minta untuk menguburnya, dia adalah orang tua dari Isa (Yesus) tersebut.

Dari sinilah semestinya saudara-saudara Muslim atau saudara Nasrani mengiyakan tentang kesucian Mariyam dengan ucapan serta pernyataan malaikat tersebut. Mariyam adalah suci, karena saat itu masih muda dan ucapan malaikat “bahwa bagi Allah (Tuhan) mudah berarti ada hukum yang berlaku,” yaitu sunnah Allah (Tuhan) di mana sunna Allah berlaku sepanjang masa.

Jadi jelaslah bahwa sejarah antara Muslim dan Nasrani adalah sama, bahwa Mariyam adalah perawan suci, bahwa sebelum ada laki-laki menyentuhnya. Tentang bapaknya Isa (Yesus), baca sejarah tentang Isa (Yesus). Jelas bahwa kita dapat saling menghargai dan kerja sama. Kita tidak beda selama mau berfikir nalar. Saudara Muslim masih banyak yang berpendapat Isa (Yesus) lahir tanpa bapak, mereka beranggapan Allah (Tuhan) maka karena dan apapun yang Dia kehendaki bisa terjadi karena Maha Kuasa Ilahi, monggo sak kersanipun.

Akhirnya, semoga ini semua menjadi pengetahuan kita kalau tak ada perbedaan di antara kita, adalah Rahmat Allah. Amin.

 

*Penulis adalah dosen di Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Catatan Redaksi:

Artikel ini segaja ditampilkan apa adanya sesuai dengan penalaran penulis, untuk menunjukkan dinamika refleksi yang ada, bahwa tentang Siti Mariyam (Bunda Maria), ada berbagai penalaran yang bisa diajukan, namun dengan tetap menjunjung tinggi hakikat kesucian Siti Mariyam. Semoga menambah wawasan.

 

Sumber: Majalah INSPIRASI, Edisi Nomor 105 Tahun IX Mei 2013