Konsili Vatikan II dan Islam

Oleh : Justinus Prastowo

Islam adalah realitas baru yang dihadapi Gereja saat ini. Hampir sepanjang sejarah, Gereja memiliki perhatian dan hubungan khusus dengan Yahudi. Kini, Islam dipandang sebagai mitra baru dalam dialog dan kehidupan sehari-hari. Lalu, bagaimana Konsili Vatikan II (KV II) memandang Islam?

Islam dan Dunia Baru

Tak dipungkiri kristianitas memiliki relasi khusus dengan Yudaisme. Akar tradisi yang sama merupakan titik temu sekaligus titik tengkar. Hubungan benci tapi rindu mewarnai sejarah hubungan Kristen-Yahudi. Pasang surut hubungan ini membawa keprihatinan besar bagi Paus Yohanes XXIII. Sejak awal ia menghendaki suatu pernyataan khusus yang ditujukan bagi bangsa Yahudi. Sudah saatnya babak baru diretas. Pertikaian dan kesalahpahaman masa lalu dilupakan; dan kesadaran baru ditumbuhkan. Di tengah ikhtiar memperbaiki hubungan dengan Yahudi inilah kesadaran para Bapa Konsili mekar dan cukup menggembirakan; keinginan untuk membuat suatu pernyataan lebih luas bagi agama-agama non-Kristen, tak hanya Yahudi melainkan juga Hinduisme dan Islam. Bahkan Islam mendapat tempat khusus di seksi 3 Nostra Aetate. Fakta mutakhir, jumlah pemeluk Islam kini mencapai 19 persen dari penduduk dunia dan akan terus bertambah.

Konsili mengakui, Islam punya kedekatan sejarah dan ajaran dengan Kristen. Mereka menyembah Allah yang hidup dan berdaulat, penuh belaskasihan dan mahakuasa. Umat Islam pun menyandarkan diri sepenuhnya pada ketetapan Allah seturut iman Abraham, menghormati Yesus sebagai nabi dan menghargai keperawanan Maria. Namun, Konsili juga mengakui sering timbulnya pertikaian dan permusuhan antara umat kristiani dan muslim. Dengan jujur dan tulus, Konsili mendorong kedua pihak mengubur masa lalu yang kelam dan membuka pemahaman baru bagi misi kemanusiaan yang hakiki.

Pertikaian Teologis ke Imperatif Etis

Lantas apa yang baru dalam KV II? Konsili tampak ingin menghindari perselisihan teologis dan justru menjadikan perbedaan sebagai titik pijak dialog dan kerjasama. Alih-alih dimensi teologis, KV II justru menekankan imperatif etis: pentingnya Kristen dan Islam bekerjasama memajukan kemanusiaan dan keadilan sosial. Meski menghindari pembahasan soal anggaran, Konsili jelas tak hendak mengaburkan ajaran sebagai titik tolak. Justru kesahihan klaim kebenaran kini tidak diletakkan pada pendakuan subyekktif yang kerapkali membawa perselisihan, melainkan pada sejauh mana praksis dijadikan tolok ukur, dari orthodoksi ke orthopraksis.

Perhatian Gereja pasca-Konsili juga kian jelas. Paus Paulus VI membentuk Sekretariat -kini menjadi Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. Berbagai dokumen yang memperjelas maksud Konsili dan memberi pendasaran aksi diterbitkan. Paus Yohanes Paulus II adalah perwujudan semangat KV II dalam arti otentik. Seluruh masa kepausannya diabdikan untuk menunjukkan dan mengajak dunia berdialog sebagai saudara dan mengangkat martabat kemanusiaan yang dikoyak kebencian dan egoisme. Perjumpaan antariman lantas menemukan momen terbaiknya. Sejak pertemuan Tripoli tahun 1976, digelarlah Doa bagi Perdamaian di Assisi pada 1986, 1993m dan 2002, Sidang Antaragama di Vatikan tahun 1999, serta Kongres Agama-agama Dunia di Kazakhstan pada 2003. Paus Benediktus XVI pun menyambangi Turki sebagai bagian penting hubungan Islam-Kristen. Paus Fransiskus aktif menyerukan perdamaian di Suriah hingga perhatian besar bagi para pengungsi di Eropa.

Tantangan Baru

Jelas cita-cita Nostra Aetate tak mudah diwujudkan. Fundamentalisme agama masih saja kuat. Tendensi persaingan berebut pengikut tetap tak terhindarkan, terlebih dalam tata ekonomi-politik yang dipenuhi syakwasangka. Tapi aneka tantangan itulah yang justru seharusnya memacu dialog dan kerjasama yang kian erat. Kristen dan Islam ditantang untuk membuktikan klaimnya sebagai agama yang membawa damai-sejahtera melalui karya nyata. Ini hanya bisa diwujudkan melalui kerjasama di dunia yang makin terhubung erat ini. Mencintai sesama lalu menjadi ajakan yang sederhana sekaligus menantang siapa saja. Dalam terang KV II, kita paham: ini tak mudah, tapi bukanlah hal mustahil.

 

Sumber : Majalah HIDUP, Tahun ke-68, 26 Januari 2014, hlm. 13

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s