Memelihara Kedamaian Melalui Dialog

paus fransiskus

Source: satuharapan.com

Oleh : Romo Agustinus Ulahayanan, Pr*)

Kedamaian merupakan suatu kebutuhan yang hakiki dari setiap komunitas manusia yang merupakan makhluk sosial. Maka kedamaian harus selalu dipelihara oleh setiap insan manusia. Untuk itu, senantiasa perlu diupayakan pencegahan, penghentian serta pemulihan konflik, disertai perwujudan, pelestarian dan pengembangan kedamaian. Dialog merupakan suatu cara terbaik untuk pemeliharaan kedamaian. Tulisan singkat ini merupakan suatu sumbangan pemikiran tentang dialog, dan dimaksudkan untuk mengajak, memotivasi serta membekali pelbagai pihak agar dapat mengembangkan budaya dialog secara terus-menerus demi terpeliharanya kedamaian.

Pengertian Dialog

Pada umumnya, dialog dimengerti sebagai percakapan antara dua pihak atau lebih untuk membahas, mendalami, dan menyepakati sesuatu, atau pun untuk menyelesaikan suatu masalah, misalnya konflik. Sesungguhnya dialog mempunyai pengertian yang lebih luas dan mendalam dari pengertian umum ini.

Dialog merupakan semangat dan cara hidup manusia, meliputi pola berpikir, merasa, berbicara, bersikap, dan berbuat, dalam mewujudkan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, berbudaya, beriman dan beragama, sebagai makhluk hidup sosial yang beradab. Dialog dalam arti ini mencakup, mendasari, dan mewarnai semua bentuk relasi yang positif dan konstruktif antara dua pihak atau lebih, baik secara individual mau pun komunal kategorial dan komunal teritorial.

Dialog merupakan konsekuensi serentak tanda dan sarana perwujudan hakikat dan eksistensi manusia, khususnya kehidupan bersama sebagai masyarakat majemuk, yang para anggotanya, baik secara individual mau pun komunal, berbeda satu dengan yang lain dari segi eksistensi atau ekspresi identitas personal, sosial, kultural dan religius, namun sama dari segi esensi atau hakikat dari apa yang terekspresi.

Selanjutny patut ditegaskan bahwa dialog adalah suatu spiritualitas, yakni suatu corak hidup rohani yang berkaitan erat dengan orang-orang yang hidup karena daya, kehendak dan karya Allah. Esensi setiap agama adalah hubungan dialogis antara Allah dengan manusia yang terwujud dan tercermin dalam hubungan antara manusia dengan manusia. Maka dialog merupakan perwujudan serentak tuntunan perilaku serta ciri khas identitas diri dan kehidupan setiap individu mau pun setiap komunitas manusia yang percaya dan bertakwa kepada Allah, berbudaya, dan bernegara.

Beberapa bentuk dialog

Pertama, dialog pengetahuan, yakni aneka macam aktivitas pendalaman dan sharing pengetahuan secara ilmiah, konseptual dan teoritis. Misalnya analisa sosial, refleksi etis dan moral, berteologi lintas agama, berantropologi lintas budaya. Kedua, dialog penghayatan, yaitu sharing kesadaran, perasaan, pengalaman dan tanggapan iman, hati, batin sehubungan dengan kenyataan hidup yang dihadapi, sesuai dengan nilai-nilai yang dianut. Ketiga, dialog pengamalan atau dialog aksi, yakni aneka macam kegiatan nyata sebagai upaya pemberdayaan, pemotivasian, pendalaman, dan ungkapan kepedulian publik akan aneka masalah kehidupan, misalnya keadilan sosial, gender, HAM, dan lingkungan hidup, entah berupa afirmasi atau konfrontasi untuk transformasi. Keempat, dialog kehidupan, yakni pelbagai tata cara hidup sehari-hari, mencakup cara berpikir, merasa, berkata-kata, bersikap, dan berbuat.

Beberapa manfaat dialog

Melalui dialog, orang ditantang dan termotivasi untuk mendalami, memahami, dan peduli akan kenyataan hidup sehari-hari, berintrospeksi dan membaharui diri, mengkritisi, memurnikan dan mendayagunakan nilai-nilai  yang dianutnya, serta dapat mengambil pilihan dan sikap yang berguna bagi pihaknya mau pun pihak lain.

Juga dengan dialog, orang-orang yang berbeda dalam hal tertentu, misalnya asal, agama, dan kebudayaan, dapat saling belajar, membagi, dan memperkaya pengetahuan iman dan kasih, saling memahami, menghargai, toleran dan solider, sehingga terciptalah kehidupan bersama yang rukun, aman dan damai.

Karena itu, dialog merupakan cara yang paling tepat dan efektif untuk mencegah mau pun menghentikan konflik, untuk menciptakan perdamaian dan memulihkan akibat konflik, serta untuk melestarikan dan mengembangkan kedamaian.

Dasar dan prinsip dialog

Ada empat macam dasar utama dialog, yang patut disadari dan dipatuhi sebagai alasan, pegangan serta motivasi bagi setiap insan manusia, yang hidup bersama dan membutuhkan kedamaian. Pertama, dasar kemanusiaan, yakni nilai-nilai kemanusiaan yang universal, hakikat dan eksistensi, kewajiban dan hak, kebutuhan dan potensi manusia. Kedua, dasar kultural, yakni nilai-nilai budaya atau kearifan lokal yang khas dari suatu kelompok masyarakat adat atau suku tertentu mau pun nilai-nilai budaya bangsa yang umum secara nasional. Patut dibanggakan bahwa secara socio-cultural, dialog merupakan ciri identitas bangsa Indonesia, baik secara lokal mau pun nasional.

Ketiga, dasar religius, yakni nilai-nilai kepercayaan atau keimanan dan keagamaan yang bersifat rohani dan merupakan tuntunan perilaku serta ciri identitas diri dan kehidupan para penganutnya. Keempat, dasar konstitusional, yaitu konstitusi atau komitmen sosial suatu negara sebagai landasan serta norma penuntun hidup bersama, yang dipatuhi semua warga. Norma konstitusional pada umumnya berupa Ideologi, Undang-Undang Dasar, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. Misalnya Negara Kesatuan Republik Indonesia mempunyai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD ’45, serta aneka macam Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah.

Selain dasar-dasar tersebut, ada pula sejumlah prinsip dialog dengan sukses. Prinsip-prinsip tersebut antara lain adalah: kemajemukan yang merupakan konsekuensi dari hakikat dan eksistensi manusia sebagai makhluk sosial; mutuality atau interaksi timbal balik para pihak satu sama lain sebagai subyek penentu dialog; kemitraan dan kesetaraan; persaudaraan universal atas dasar kemanusiaan; keseimbangan atau keadilan secara proporsional; kepercayaan yang diboboti dengan positive thinking dan praduga bukan negatif; dan dinamika yang mengutamakan proses kebersamaan.

Hambatan dialog dan solusinya

Dialog sering terhambat karena tidak ada kemauan dan keberanian untuk berjumpa, bertatap muka serta berwawan hati, karena ada aneka macam pemahaman, sifat, sikap, dan tindakan negatif. Misalnya, primordialisme, sektarianisme, diskriminasi, fanatisme sempit, radikalisme, akuisme, negative thinking, prasangka buruk, tidak percaya, culas, menutup diri, dan lain-lain. Apalagi bila ada pihak tertentu yang melihat dan menjalani dialog lebih sebagai “sidang pertarungan kebenaran” daripada sebagai proses pengembangan hubungan baik. Juga karena kurangnya kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan, tidak ada perekat yang kuat, dan mudah termakan hasutan dan provokasi buruk.

Setiap hambatan dapat diatasi dengan cara semua pihak berkomitmen dan berusaha untuk mengembangkan dan berpegang teguh pada hal yang positif yang merupakan kebalikan dari hambatan yang ada. Perjumpaan persaudaraan, penghargaan, kepercayaan, kejujuran, dan ketulusan satu sama lain adalah pintu utama memasuki dialog yang sejati dan sukses.

Kesimpulan

Dialog merupakan konsekuensi serta tanda dan sarana perwujudan hakikat dan eksistensi manusia. Karena itu dialog merupakan ciri, kebutuhan, hak, dan kewajiban seluruh manusia. Maka setiap insan manusia, termasuk setiap warga negara Indonesia, mutlak perlu mengembangkan budaya dialog dalam hidup setiap orang, keluarga, komunitas masyarakat, bangsa dan dunia. Setiap perilaku yang menghambat, bertentangan dengan atau merusakkan dialog berdampak buruk bagi kemanusiaan, konstitusi, budaya, dan agama, maka mutlak perlu dihindari dan diatasi. Pelakunya patut ditindak sesuai ketentuan yang berlaku.

*) Penulis adalah Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan, Konferensi Waligereja Indonesia

Advertisements

Konsili Vatikan II dan Islam

Oleh : Justinus Prastowo

Islam adalah realitas baru yang dihadapi Gereja saat ini. Hampir sepanjang sejarah, Gereja memiliki perhatian dan hubungan khusus dengan Yahudi. Kini, Islam dipandang sebagai mitra baru dalam dialog dan kehidupan sehari-hari. Lalu, bagaimana Konsili Vatikan II (KV II) memandang Islam?

Islam dan Dunia Baru

Tak dipungkiri kristianitas memiliki relasi khusus dengan Yudaisme. Akar tradisi yang sama merupakan titik temu sekaligus titik tengkar. Hubungan benci tapi rindu mewarnai sejarah hubungan Kristen-Yahudi. Pasang surut hubungan ini membawa keprihatinan besar bagi Paus Yohanes XXIII. Sejak awal ia menghendaki suatu pernyataan khusus yang ditujukan bagi bangsa Yahudi. Sudah saatnya babak baru diretas. Pertikaian dan kesalahpahaman masa lalu dilupakan; dan kesadaran baru ditumbuhkan. Di tengah ikhtiar memperbaiki hubungan dengan Yahudi inilah kesadaran para Bapa Konsili mekar dan cukup menggembirakan; keinginan untuk membuat suatu pernyataan lebih luas bagi agama-agama non-Kristen, tak hanya Yahudi melainkan juga Hinduisme dan Islam. Bahkan Islam mendapat tempat khusus di seksi 3 Nostra Aetate. Fakta mutakhir, jumlah pemeluk Islam kini mencapai 19 persen dari penduduk dunia dan akan terus bertambah.

Konsili mengakui, Islam punya kedekatan sejarah dan ajaran dengan Kristen. Mereka menyembah Allah yang hidup dan berdaulat, penuh belaskasihan dan mahakuasa. Umat Islam pun menyandarkan diri sepenuhnya pada ketetapan Allah seturut iman Abraham, menghormati Yesus sebagai nabi dan menghargai keperawanan Maria. Namun, Konsili juga mengakui sering timbulnya pertikaian dan permusuhan antara umat kristiani dan muslim. Dengan jujur dan tulus, Konsili mendorong kedua pihak mengubur masa lalu yang kelam dan membuka pemahaman baru bagi misi kemanusiaan yang hakiki.

Pertikaian Teologis ke Imperatif Etis

Lantas apa yang baru dalam KV II? Konsili tampak ingin menghindari perselisihan teologis dan justru menjadikan perbedaan sebagai titik pijak dialog dan kerjasama. Alih-alih dimensi teologis, KV II justru menekankan imperatif etis: pentingnya Kristen dan Islam bekerjasama memajukan kemanusiaan dan keadilan sosial. Meski menghindari pembahasan soal anggaran, Konsili jelas tak hendak mengaburkan ajaran sebagai titik tolak. Justru kesahihan klaim kebenaran kini tidak diletakkan pada pendakuan subyekktif yang kerapkali membawa perselisihan, melainkan pada sejauh mana praksis dijadikan tolok ukur, dari orthodoksi ke orthopraksis.

Perhatian Gereja pasca-Konsili juga kian jelas. Paus Paulus VI membentuk Sekretariat -kini menjadi Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. Berbagai dokumen yang memperjelas maksud Konsili dan memberi pendasaran aksi diterbitkan. Paus Yohanes Paulus II adalah perwujudan semangat KV II dalam arti otentik. Seluruh masa kepausannya diabdikan untuk menunjukkan dan mengajak dunia berdialog sebagai saudara dan mengangkat martabat kemanusiaan yang dikoyak kebencian dan egoisme. Perjumpaan antariman lantas menemukan momen terbaiknya. Sejak pertemuan Tripoli tahun 1976, digelarlah Doa bagi Perdamaian di Assisi pada 1986, 1993m dan 2002, Sidang Antaragama di Vatikan tahun 1999, serta Kongres Agama-agama Dunia di Kazakhstan pada 2003. Paus Benediktus XVI pun menyambangi Turki sebagai bagian penting hubungan Islam-Kristen. Paus Fransiskus aktif menyerukan perdamaian di Suriah hingga perhatian besar bagi para pengungsi di Eropa.

Tantangan Baru

Jelas cita-cita Nostra Aetate tak mudah diwujudkan. Fundamentalisme agama masih saja kuat. Tendensi persaingan berebut pengikut tetap tak terhindarkan, terlebih dalam tata ekonomi-politik yang dipenuhi syakwasangka. Tapi aneka tantangan itulah yang justru seharusnya memacu dialog dan kerjasama yang kian erat. Kristen dan Islam ditantang untuk membuktikan klaimnya sebagai agama yang membawa damai-sejahtera melalui karya nyata. Ini hanya bisa diwujudkan melalui kerjasama di dunia yang makin terhubung erat ini. Mencintai sesama lalu menjadi ajakan yang sederhana sekaligus menantang siapa saja. Dalam terang KV II, kita paham: ini tak mudah, tapi bukanlah hal mustahil.

 

Sumber : Majalah HIDUP, Tahun ke-68, 26 Januari 2014, hlm. 13

Forum Kristiani untuk Pengkaji Islam

Para Pemrakarsa ASAKKIA berfoto bersama Karel A. Steenbrink di UKAW Kupang. Dok.: ASAKKIA

Para Pemrakarsa ASAKKIA berfoto bersama Karel A. Steenbrink di UKAW Kupang.
Dok.: ASAKKIA

Dua belas pastor dan pendeta rekoleksi di Kupang, membentuk Asosiasi Sarjana Kristiani untuk Kajian Islam Indonesia. Visinya mewujudkan masyarakat Indonesia yang setara, penuh kasih, dan sejahtera.

Selasa pagi, 10 Desember 2013, Kupang, kota tepi pantai ujung Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, masih menyengatkan udara panasnya. Sebanyak 12 pastor Gereja Katolik Roma dan Pendeta Kristen Protestan dari berbagai denominasi berkumpul di salah satu ruangan di Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang. Mereka datang dari pelbagai tempat: Jakarta, Yogyakarta, Makassar hingga Papua; dan tentu saja Kupang sebagai tuan rumahnya. Para pastor dan pendeta tersebut memiliki latar belakang pendidikan dan profesi yang agak langka di negeri ini. Mereka dibekali dengan basis pendidikan teologi Katolik dan Kristen, tetapi kemudian melengkapi diri dengan training pengetahuan Islam; pemuka Gereja yang mempelajari dan bergumul dengan isu-isu Islam akademis.

Berduabelas, pada tanggal yang ‘historis’ (11-12-13), mereka mengesahkan berdirinya Asosiasi Sarjana Kristiani untuk Kajian Islam Indonesia (ASAKKIA). ASAKKIA didirikan pada 11 Desember 2013 dan berkedudukan di Pascasarjana Teologi UKAW Kupang, Jalan Adisucipto, Oesapa, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Selama dua hari, para ‘rasul’ Gereja yang menggeluti dunia Islam akademis itu menggelar rekoleksi. Dalam terang rohani dan pemahaman konteks pergumulan profesi serta panggilannya, mereka merumuskan butir-butir yang melandasi ASAKKIA. “Atas dasar iman kita kepada Allah yang Mahakasih yang mewujud dalam peristiwa Inkarnasi yang di dalamnya Allah berkenan membangun relasi dengan manusia melalui Yesus Kristus, kita pun diundang untuk membangun relasi dalam perjumpaan dengan saudara-saudari yang hidup bersama kita, dalam konteks Indonesia, khususnya umat Muslim. Hal ini sekaligus memenuhi panggilan eklesiologis yang mengajak kita untuk membangun refleksi iman secara kontekstual di tengah realitas keseharian kita, terutama di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Untuk itu, dibentuklah sebuah asosiasi sebagai wadah bagi para sarjana kristiani yang mau belajar dan menekuni kajian tentang Islam Indonesia. Dalam hal ini, sumber dan mitra belajar adalah tokoh intelektual, akademisi, pemuka agama umat Islam Indonesia.”

ASAKKIA mewujud sebagai sebuah asosiasi mandiri yang menjadi wadah para sarjana kristiani yang menekuni kajian Islam demi Indonesia yang damai, adil, dan rukun. Wadah ini menggantung visi: “Menjadi asosiasi yang melakukan kajian Islam untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang setara, penuh kasih, dan sejahtera.” Visi ini dijabarkan dalam tiga misi dasar. Pertama, memberdayakan para sarjana kristiani sebagai pengkaji Islam yang berkualitas. Kedua, melakukan kajian Islam yang kritis, komprehensif dan konstruktif. Ketiga, mengupayakan relasi dengan pemuka dan pemeluk agama lain.

Asosiasi ini diharapkan mampu menjadi forum kajian dan kerjasama untuk memenuhi panggilan demi terbangunnya relasi antara umat Kristiani dan Muslim dalam konteks Indonesia. Sasaran ASAKKIA adalah sebagai wadah para sarjana kristiani untuk mengaktualisasikan diri lewat studi dan kajian Islam sebagai pengajar, peneliti, dan pengabdi masyarakat.

Dalam pertemuan dua hari itu, dibentuk antara lain Pengurus Inti. Pendeta Fredrik Y. A. Doeka (Kupang) didaulat sebagai Ketua; Wakil Ketua Pastor Heru Prakosa SJ (Yogyakarta); Sekretaris Pastor Bartolomeus Bolong OCD (Kupang); Wakil Sekretaris Pastor Greg Soetomo SJ (Jakarta); dan Bendahara Pendeta Ruth Wangkai (Tomohon).

Greg Soetomo SJ

Sumber : Majalah HIDUP Tahun ke-68, 26 Januari 2014, hlm. 12

Karel A. Steenbrink; Ngajinya Islam, Imannya Katolik

Setelah undur dari dari biara, KArel A. Steenbrink belajar bahasa Arab dan Islam, hingga akhirnya tinggal beberapa bulan di Pondok modern Gontor; dan ikut sholat berjamaah. Ia mengisahkan peziarahannya.

Setelah undur dari dari biara, Karel A. Steenbrink belajar bahasa Arab dan Islam, hingga akhirnya tinggal beberapa bulan di Pondok modern Gontor; dan ikut sholat berjamaah. Ia mengisahkan peziarahannya.

Pada 16 Januari 1942, saya lahir dalam keluarga ‘ultra-Katolik’ di lingkungan masyarakat yang juga sangat Katolik di Breda, Belanda. Tak heran, di tengah-tengah suasana Katolik pra-Konsili Vatikan II, yang sangat mengagung-agungkan kuantitas dan banyak anak itu, saya terlahir sebagai anak ke-10 dari 12 bersaudara.

Usai sekolah menengah seminari, sebagai seorang frater SSCC (Congregatio Sacrocum Cordium Iesu et Mariae Necnon Adorationis Perpetuae Sanctissimi Sacramenti Altaris atau Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria), saya belajar teologi. Hanya beberapa tahun saja saya menjadi biarawan SSCC, kemudian berubah status menjadi awam dan mulai menekuni studi bahasa Arab dan Islam. Salah satu dosen kami yang memiliki reputasi tinggi ialah seorang guru besar yang juga Pastor Jesuit, Jean Houben, SJ (1904-1973) – ahli pemikiran filsafat Islam Klasik, khususnya Ibn Sina (980-1037) dan Ibn Rushd (1126-1198). Ia pernah mengajar di Beirut, Lebanon, dan Baghdad, Irak. Posisi keyakinan orang intelek ini sangat menarik. Menurutnya, orang Kristen Katolik maupun Protestan akan bersatu kokoh dan tak perlu ada perpisahan, jika keduanya berpegang dan setia pada ajaran Thomas Aquinas (1125-1274). Pararel untuk komunitas Muslim, hal yang sama akan berlangsung. Semua umat Muslim, baik Sunni atau Shi’a, maupun ahli fiqih atau penghayat tasawuf, akan bersatu jika berpegang pada ajaran Ibn Sina dan Ibn Rushd.

Perlu diketahui, Aquinas mengutip Rushd ratusan kali dalam karya-karya tulisnya. Ia menyebut Rushd sebagai musafir, yakni orang yang memiliki kejelian dalam menjelaskan dan menafsirkan. Siapa yang menjadi obyek interpretasi dua pemikir agung dari dua agama ini? Tiada lain ialah Aristoteles, sang filsuf klasik Yunani yang hidup tahun 350 SM.

Profesor Houben selalu memulai kuliahnya dengan beberapa uraian mengenai Aristoteles dan tak lupa memberikan kutipan bahasa Yunaninya. Dengan penuh kekaguman, Houben mendemonstrasikan bagaimana Ibn Sina dan Ibn Rushd  dengan penuh kebijaksanaan dan keberanian, bereksperimen dengan mengawinkan pemikiran Arab dengan Yunani. Hasil perkawinan inilah yang digunakan dan dikembangkan oleh para teolog Kristen abad XIII, salah satunya Thomas Aquinas. Setidaknya ada satu hal yang membuat saya terkesan, yakni kesimpulan intelektual Houben yang menggarisbawahi bahwa Aristoteles, bukan Abraham, yang menjadi titik kontak pertemuan antara Kristen dan Islam.

Demikianlah awal perjumpaan saya dengan Islam. Perjumpaan intelektual yang menjadi benih karier akademis yang saya tekuni hingga 40 tahun berikutnya.

Pada Maret 1970

Saya mengalami perjumpaan langsung dengan umat Islam yang konkret dan sungguh hidup. Ini terjadi di Indonesia. Saya mendapat beasiswa untuk tinggal enam bulan di pondok pesantren. Saking murahnya biaya hidup di pondok, jatah enam bulan bisa saya gunakan untuk satu tahun. Kota pertama yang saya datangi adalah Bandung, Jawa Barat. Untuk memperlancar bahasa Indonesia, tiap pagi saya ikut kuliah subuh pukul 05.00 di Masjid Mujahidin Bandung. Saya ikut duduk bersila dengan beberapa gelintir jamaah dan santri. Bandung kala itu terasa sangat sejuk dan tenang.

Rencana awal penelitian saya ialah studi tafsir Al-Qur’an di Indonesia. Lalu saya melihat, bahwa studi semacam itu melulu pekerjaan di perpustakaan dan membaca buku. Saya segera berbalik untuk mencari bentuk penelitian yang memungkinkan saya bertemu dan mengalami perjumpaan dengan orang-orang secara konkret. Pertanyaan pokok penelitian saya adalah bagaimana dunia pesantren memiliki kemampuan dan kelenturan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan pendidikan modern di Indonesia.

Saya berkeliling ke beberapa pesantren di Jawa dan Sumatera. Saya gunakan ‘metode bidan’ untuk penelitian ini. Metode ini ditanda dengan proses bertanya dan menunggu hingga realitas menampakkan diri. Kehadiran yang panjang saya alami di Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur. Posisi saya tinggal dan hidup di sana ialah sebagai orang Katolik dan tetap mau menjadi Katolik, tetapi ingin sungguh menghidupi seluruh cara hidup sehari-hari para santri itu.

Saya pun menghadap K.H. Imam Zarkasyi, pimpinan dan salah seorang pendiri pondok pesantren modern Gontor, agar diperbolehkan ikut sholat berjamaah. Kyai Zarkasyi merasa terkejut mendengar ide ini. Saya mengatakan, Allah yang menjadi kepercayaan orang Kristen itu sungguh satu, dan mengakui bahwa Muhammad sungguh nabi. Bagi saya, lebih mudah dan terasa nyaman di hati untuk membuat wudu dan shalat daripada ikut dia satu kelompok Kristen yang memiliki tatacara melambai-lambaikan tangan sambil beseru ‘Haleluya’. Tujuh kata al-Fatiha juga sangat dekat dengan doa Bapa Kami. Keduanya dimulai dengan pujian pada Pencipta alam semesta, harapan untuk berada di jalan yang lurus, dan mengakui bahwa manusia itu lemah dan bisa berdosa. Akhirnya, saya diperbolehkan untuk ikut shalat juga.

Pada acara perpisahan, sebelum saya pulang ke Belanda, Kyai Zarkasyi bertanya apakah ia diperbolehkan mendoakan saya agar menjadi seorang Muslim yang tulen dan penuh. Karena ‘Muslim’ itu artinya ‘berserah diri pada kehendak Tuhan’, saya pun tak berkeberatan. Bahkan, saya anggap ini merupakan gesture yang baik juga.

Sejak Tahun 1981

Saya diundang untuk mengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dan Yogyakarta, masing-masing sekitar tiga dan empat tahun. Pengalaman sekitar tujuh tahun ini tentu penuh dengan warna. Posisi saya sebagai seorang non-Islam yang mengajar Islam tentu perkara yang tak mudah. Di satu pihak, saya harus jujur dan setia pada keyakinan sendiri; dan di lain pihak, juga harus hati-hati agar tidak diberhentikan dari tugas atau hilangnya visum izin tinggal di negeri ini.

Akhir September 2001, hanya dua atau tiga minggu setelah tragedi World Trade Center (WTC), di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, secara tidak sengaja saya bertemu dengan seorang tokoh Islam di negeri ini. Ia menyandang posisi-posisi penting dalam peta organisasi Islam di sini. Awal 1980-an ketika saya mengajar di IAIN Ciputat, Jakarta, ia menjadi mahasiswa saya. Saya bimbing penulisan skripsinya dengan konsentrasi Irenologi, yaitu studi tentang isu-isu perdamaian. Ia membuat kesimpulan bahwa perang dalam sejarahnya lahir karena perbedaan dan pertentangan antara yang kaya dan miskin; masyarakat kaya menaklukkan masyarakat miskin. Hanya dengan mengurangi kesenjangan antara yang kaya dan miskin, perdamaian dunia menjadi lebih mungkin.

Pada saat pertemuan tak sengaja di bandara itu, ia sudah menjabat sebagai salah satu pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Baru saja MUI merumuskan sebuah fatwa untuk menanggapi ancaman Amerika Serikat menyerang Afghanistan yang memberikan perlindungan pada Osama bin Laden. Dalam suasana panas minggu-minggu itu, ia bercerita bahwa MUI sudah membuat draft fatwa.  Andaikata masyarakat Islam di Afghanistan diserang oleh kaum kafir Amerika, atas dasar ukhuwa islamiya, umat Muslim Indonesia akan membela mereka dengan panggilan al-jihad fi sabilillah. Saya mencoba menjelaskan padanya sikap Gereja Katolik lewat upaya Paus waktu itu. Meski dalam suasana konflik panas saat itu, Paus tetap pergi ke Kazahkstan dan menyerukan bahwa krisis Islam dan Kristen (Barat) hendaknya diselesaikan lewat dialog dan jalan damai.

Tokoh Islam ini tidak setuju dengan jalan yang diusulkan itu dengan dua alasan. Pertama, begitulah ajaran Islam mengenai perang atau jihad sebagai aksi bela diri, andaikata ada serangan dari pihak musuh. Kedua, ia sudah kerap melakukan dialog dengan pimpinan Gereja, tetapi tidak ada hasilnya. Kristenisasi dengan mengandalkan uang berjalan terus. Dialog hanya cocok untuk para akademisi dan aktivis perdamaian. Para ilmuwan kerap tidak paham dengan kerasnya kenyataan di lapangan.

Jadi, jangan membayangkan atau berpikir bahwa ahli agama bisa mengubah dunia …

 

Sumber : Majalah HIDUP, Edisi 04 Tahun ke-68, 26 Januari 2014, hlm. 8-11