Militansi Kaum Muda Katolik

Oleh : Markus Marlon, MSC

Ketika menjelang Paskah atau Natal, setiap paroki menggelar Persiapan Rapat Panitia. “Para pemain” semuanya adalah orang-orang lama (stock lama) dan tak pelak lagi, Orang Muda Katolik (OMK) “hanya” kebagian sebagai “tukang parkir kendaraan” dengan kata-kata indahnya, “untuk pencarian dana”. Itulah kaum muda harapan masa depan Gereja.

Apa itu militansi?

Kalau kita mendengar kata militansi, maka yang muncul dalam benak kita adalah militer yang penuh dengan disiplin, aturan dan latihan perang. Militer juga bisa disamakan dengan fighting, contending, dan combating. Kita bisa menyimak pepatah-pepatah Latin berikut ini. “Militia est vita hominis super terram” – hidup manusia di dunia ini merupakan sebuah perjuangan (Ayb 7:1). Ada lagi, “Militae species amor est” yang berarti cinta itu adalah sejenis pertempuran (kata-kata dari Ovidius, penyair Romawi Kuno).

Memang, hidup itu adalah berjuang – vivere militare. Hal ini berarti secara implisit, orang yang tidak berjuang akan “ketinggalan sepur” – ketinggalan kereta. Para pemuda pada masa mudanya menggunakan energinya untuk berjuang semaksimal mungkin. Untuk itulah Soekarno (1901-1970) pernah berkata, “Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada tanah air dan aku akan menggoncang dunia.” Maka tidak mengherankan jika kaum muda Katolik sering berteriak “Pro ecclesia et patria.” – Demi Gereja dan Negara.

Melirik kiprah pemuda tempo dulu

Apakah terbayang dalam benak kita bahwa pahlawan nasional kita sudah menelorkan ide-ide yang cemerlang di kala mudanya. Kartini (1879-1904) – meski kini disebut sebagai “Ibu Kita Kartini” – meninggal pada usia sangat muda. Bayangkan, betapa mudanya ketika ia berangkat ke dalam ide-ide besar, dengan masterpiece-nya “Door Duisternis Tot Licht” – Dari Gelap Terbitlah Terang. Bung Hatta (1902-1980), belum berumur 30 tahun ketika ia menjadi tokoh perjuangan merintis kemerdekaan. Masa pertempuran untuk kemerdekaan berkecamuk juga menyediakan momentum untuk anak-anak muda. Di tahun 1946, Panglima Divisi Siliwangi adalah seorang pemuda bernama A. H. Nasution (1918-2000), umurnya 28 tahun. Sewaktu Yogyakarta diduduki tentara Belanda, seorang perwira yang berumur 28 tahun juga memimpin serangan umum untuk merebut kota itu. Namanya Soeharto (1921-2006).

Tetapi kita juga harus berbangga sebab para perintis kemerdekaan dan pecinta tanah air adalah “OMK” pada zamannya. Ignatius Slamet Rijadi (1927-1950) sang penggagas berdirinya KOPASSUS; Mgr. Soegijapranata, SJ (1896-1963) penggagas 100% Katolik 100% Indonesia; IJ Kasimo (1900-1986) penggagas program pembangunan pertama sesudah Republik Indonesia merdeka (Kasimo’s plan); Komodor Yos Sudarso (1925-1962); dan Alb. Adi Sucipto (1916-1947).

Bagaimana dengan kita?

Zaman sekarang ini, para pemuda Katolik tidak memiliki “musuh nyata” yakni penjajah (imperialis) seperti yang dialami oleh para perintis kemerdekaan. Namun, perjuangan pemuda Katolik zaman sekarang adalah melawan neo-imperalisme, yakni bentuk-bentuk baru imperalisme yang muncul dalam politik ekonomi dan praktiknya dalam politik kebudayaan. Melalui kebudayaan, maka pengaruh sebuah negara terhadap negara lain akan semakin kuat dan itu menyebabkan negara yang dipengaruhi itu akan semakin lemah dan selanjutnya tidak memiliki kepribadian nasional yang dapat dibanggakan untuk pembangunan kebudayaan sendiri (Yapi Tambayong dalam bukunya yang berjudul Kamus Isme-Isme dalam entri “Imperialisme”).

Sungguh berat tanggungjawab para pemuda Katolik zaman ini. Peribahasa “Dunia tidak selebar daun kelor” kini menjadi kenyataan. Dunia bisa dilipat, bahkan dunia ada dalam genggaman tangan. Perkembangan teknologi tidak terbendung dan para pemuda seolah-olah kemblegan (kejatuhan) informasi yang simpang-siur. Pergaulan menjadi dangkal dan persahabatan semu bisa dilakukan secara virtual atau dunia maya. Dan ini secara tidak langsung memengaruhi kehidupan para pemuda Katolik itu sendiri. Sebagai contoh, OMK mengadakan latihan koor. TIba-tiba ada SMS yang diterima oleh ketua pemuda yang mengatakan bahwa salah satu teman terlambat 30 menit karena ada acara di rumah om-nya. Dengan SMS “keterlambatan” maka seseorang merasa diri dimaafkan oleh komunitasnya dan lain kali boleh berbuat hal yang sama. Inilah yang menjadikan pemuda Katolik easy going dan tidak perlu berjuang dengan kejadian-kejadian yang sepele. Dan masih banyak lagi contoh-contoh serupa dari hal yang sepele hingga hal-hal besar.

Budaya atau kadang-kadang disebut “penyakit” instant atau shortcut, kini banyak dialami oleh pemuda kita. Pemuda Katolik perlu untuk digembleng di kawah candradimuka dengan melewati proses yang panjang dan berliku (the long and winding road). Orang-orang Romawi Kuno telah memberikan kata-kata indah serta motivasi untuk kemajuan para pemuda. Ovidius (43 SM – 17 SM) nama lengkapnya Publius Ovidius Naso, pernah berkata, “Dulcia non meruit, qui non gustavit amara” – yang tidak pernah mengecap kepahitan tidak akan dapat pula menikmati kemanisan. Peribahasa Indonesia yang berbunyi “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” dan “Per ardua ad astra” – bersusah payah untuk sampai bintang, memberi motivasi kepada para pemuda Katolik untuk berani berjuang dan bermental baja. Pemuda Katolik diharapkan menjadi garam dan terang dunia (Mat 5:13). Kebijaksanaan-kebijaksanaan lokal haruslah ditanam sejak dini, yakni cinta kepada budaya sendiri. Dari sana pula, mereka akan mengenal tokoh Gatotkaca yang memiliki “otot kawat, balung wesi” – otot dari kawat dan tulang dari besi.

Goenawan Mohammad dalam catatan pinggirnya mengutip ajran Konghucu atau Confusius (551-479 SM). “Pada umur 15 tahun, aku mengamalkan diri untuk belajar kebijaksanaan. Pada umur 40 tahun, aku tidak lagi punya rasa ragu. Pada umur 60 tahun, tak ada suatu pun di atas bumi yang bisa mengguncangkanku. Pada umur 70 tahun, aku dapat mengikuti imlak hatiku tanpa mengikuti hukum moral.” Usia tua memberikan kesempatan untuk kearifan, begitu Konghucu mengajarkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s