Setia Bersama Domba

yesus-gembala-domba

Kisah iman ini masih terkait dengan kisah iman yang lalu. Peristiwanya adalah “kecelakaan” yang menimpa rombongan Timin itu. Karena tiga ban bus sebelah kanan, depan, dan belakang pecah, otomatis bus juga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Bus yang kami tumpangi tak cukup hanya mengganti tiga ban, tetapi juga harus mengganti velg yang peyok. Karena itu, rombongan terpaksa menunggu bus pengganti yang akan menjemput ke TKP.

Saat Timin bersama rombongan sedang menunggu bus yang mereka tumpangi diganti bannya, tiba-tiba seorang bapak mendekati Timin. Dia adalah Pak Martin, salah satu umat Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang. Tampaknya, Pak Martin melihat Timin yang sedang berdiri di tepi jalan di dekat bus yang mengalami kecelakaan tunggal tersebut.

“Romo mau ke mana?” Ayo bersama saya?!” sapa Pak Martin. “Saya mau ke Ganjuran bersama rombongan ini,” jawab Timin. “Ayo ikut saya, nanti saya antar ke Ganjuran!”. “Terima kasih, Pak! Saya harus bersama mereka (yakni rombongan perjalanan yang akan pergi ke Ganjuran untuk merayakan Pesta HUT Imamat beberapa Pastor yang telah disebutkan sebelumnya).”

Pak Harsono dan Pak Alamsyah mendesak agar Timin menerima tawaran Pak Martin. “Supaya Romo tidak terlambat mengikuti perayaannya.” Timin tak bergeming. Prinsip yang dipegang Timin sederhana saja. Ia belajar setia menyertai kawanan dombanya yang sedang diserahkan kepadanya untuk disertai, termasuk yang ikut dalam rombongan itu. Maka, ia menolak tawaran Pak Martin dan desakan Pak Harsono dan Pak Alamsyah. “Saya berangkat bersama kalian. Maka, saya akan tetap bersama kalian dalam suka maupun duka!” sahut Timin.

Tawaran untuk bareng dengan rombongan lain juga diterima Timin. Namun, sekali lagi, Timin menolak, dengan alasan dan prinsip yang sama. Biarlah, sebagai seorang imam yang juga disebut pastor, yang artinya gembala, ia belajar setia menyertai domba-dombanya. Mana tega, membiarkan mereka terlantar tanpa gembala dalam keadaan yang tidak pasti menunggu kendaraan lain.

Timin tetap belajar setia bersama dengan umat yang berada dalam rombongan tersebut. Maka, Timin pun tetap setia menunggu bus lain yang akan datang menjemput mereka dan membawa mereka menuju Ganjuran. Meski cukup lama meunggu, semua harus tetap sabar dan setia.

Dalam keadaan itu, yang terngiang dalam benak Timin adalah sabda Sang Gembala, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya untuk domba-dombanya. Orang upahan yang bukan gembala dan bukan juga pemilik domba-domba itu, akan lari meninggalkan domba-domba kalau ia melihat sergala datang.” (Yohanes 10:11-12). Yang dihadapi Timin dan domba-dombanya memang bukan sergala. Dalam situasi itu, Timin belajar setia menyertai domba-dombanya. (Timin)

 

Sumber: Majalah INSPIRASI, Nomor 109 Tahun X September 2013, halaman 3.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s