Meminta Maaf-dan-Memaafkan

shake hands

Pagi itu, kami meluncur dengan bus menuju Ganjuran dari Kebon Dalem, untuk menghadiri Perayaan Ulang Tahun Imamat para Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang. Romo Suni pesta perak. Romo Hantara dan Romo Riawinarta Pesta 40 Tahun Imamat. Dan Romo Utomo Pesta Emas Imamat.

Kami Pengurus Dewan Harian Paroki St. Fransiskus Xaverius mendapat undangan dari panitia/UNIO KAS. Demi menghormati undangan yang juga sangat terhormat tersebut, maka, dalam Rapat Dewan Harian Paroki St. Fransiskus Xaverius, diputuskan, semua anggota Dewan Harian wajib ikut menghadiri perayaan tersebut. Sengaja kami usulkan menyewa bus pariwisata yang memadahi agar semua menjadi nyaman. Jumlah peserta yang ikut boleh ditambah dengan siapa pun yang berkenan ikut. Diutamakan unsur kaum muda diikutkan dalam rangka panggilan imamat.

Begitulah, karena dalam undangan tertera, acara dimulai pukul 09.00, maka pagi-pagi benar, pukul 04.35 kami sudah berangkat. Sejak mulai perjalanan, Timin sudah merasa tidak nyaman. Pertama, bus yang dipesan “judulnya” tidak sesuai dengan pesanan. Timin pun berkomentar, “Kok bukan yang itu, tetapi yang ini?” Jawaban diberikan, “Sama kok. Ini lebih tinggi!” Timin taat. Apa boleh buat. Kedua, rasa tidak nyaman terasa, sebab cara sopir me-ngegas dan mengerem, sering nyendal dan ngaget. Bahkan, saat toilet-stop, Pak Alamsyah mengeluh, “Pusing. Mabuk!” Timin pun merasakan hal yang sama.

Perjalanan berlanjut. Timin yang duduk persis di belakang sopir memejamkan mata untuk tidur. Namun, tiba-tiba terdengar suara hantaman, dan seakan ada sesuatu yang terseret. Terdengar jeritan pula para penumpang, jufa bus sedikit oleng dan terasa seperti melompati sesuatu. Ternyata bus menabrak pembatas jalan sehingga ketiga ban bagian kanan depan-belakang pecah, bahkan velg-nya penyok.

Kami semua cemas. Jadwal pasti tidak terkejar alias terlambat. Kami menunggu bus pengganti. Sementara menunggu, terdapat hal yang mengharukan. Pak sopir dengan menggunakan mikrofon bus, mengakui bahwa dirinya mengantuk dan terjadilah musibah itu serta memohon maaf kepada kami semua. Timin pun, atas nama rombongan memberikan maaf dan mensyukuri bahwa tidak ada korban (meskipun ada satu penumpang yang terjerembap ke lantai karena tidak mengenakan sabuk pengaman, dan punggung Timin pun terasa sakit karena serasa terbanting saat bus tersebut seperti melompat karena menabrak pembatas jalan tersebut).

Alangkah indahnya bila kita bisa meminta maaf-dan-memaafkan. Saling memaafkan itu undah seperti diajarkan Yesus dalam Matius 18:22, bahwa kita harus mengampuni sampai 70 x 7 kali. Bahkan dalam Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus, kita tidak akan diampuni kalau kita sendiri tidak mau mengampuni orang lain. Memaafkan adalah awal dari sebuah pengampunan. (Timin).

 

Sumber: Majalah INSPIRASI, Nomor 108 Tahun IX Agustus 2013, halaman 3.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s