Upaya Paus Fransiskus Menghentikan Serangan terhadap Suriah

Vatican PopeLima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB bertemu di New York untuk membahas usulan resolusi PBB untuk Suriah yang diusulkan negara-negara Barat, terutama Prancis. Namun, Rusia tetap bersikeras menentang resolusi yang dianggap sebagai provokasi terhadap sekutunya itu. Pembicaraan selama satu jam berakhir buntu.
Kelima negara anggota DK PBB dijadwalkan bertemu lagi pada Rabu (18/9). Prancis bersikeras agar kesepakatan penyerahan senjata kimia Suriah disertai tindakan kekuatan militer seperti pada Bab VII Piagam PBB.
Rusia menolak mentah-mentah usulan Prancis itu. Dunia berharap agar cara damai dan diplomasi politik dalam menyelesaikan persoalan Suriah. Perang akan menghancurkan keadaban kemanusiaan dan menimbulkan trauma sejarah yang panjang.
Jutaan manusia akan menjadi korban sia-sia maka dibutuhkan sebuah kesadaran bersama bagaimana pun perang bukan cara terbaik. Dalam hal ini, Paus Fransiskus berupaya mencari cara damai bagi Suriah. Lewat upaya–upaya diplomasi untuk melobi negara Eropa dan Amerika Serikat tidak menggunakan senjata menyelesaikan konflik Suriah.
Paus Fransiskus menulis surat kepada para pemimpin G-20 yang saat ini mengadakan KTT di kota St Petersburg, Rusia, menegaskan bahwa intervensi militer untuk mengatasi konflik di Suriah akan “sia-sia”. Paus mendesak mereka untuk mencari solusi diplomatik sebagai ganti dari rencana aksi militer itu.
Dalam surat terbukanya tersebut Paus Fransiskus menulis, “Kepada para pemimpin saat ini, kepada setiap (dari mereka) dan siapa saja, saya mengimbau mereka dengan hati yang tulus untuk membantu mencari cara-cara mengatasi konflik dan mengesampingkan solusi militer yang sia-sia.”
Paus Fransiskus juga mengecam masyarakat internasional karena membiarkan “kepentingan sepihak” telah mencegah mereka untuk mencari solusi. Walau prihatin dengan “pembantaian yang sedang berlangsung” di Suriah, Paus menolak seruan serangan militer terhadap pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Konferensi Waligereja Amerika Serikat juga telah mendesak Presiden Obama dan Kongres untuk tidak menggunakan kekuatan militer di Suriah. “Sebuah pertanyaan moral mendasar adalah akan lebih banyak atau lebih sedikit nyawa dan mata pencaharian yang dihancurkan intervensi militer itu?” tulis Timothy Kardinal Dolan dari New York dan Uskup Richard Pates, yang mewakili para uskup itu, kepada Kongres AS pada Kamis.
Gerakan masyarakat internasional menghentikan Perang sebagai solusi harus dilihat sebagai bentuk solidaritas internasional untuk menciptakan perdamaian sejati.
Hal ini ditegaskan dalam Pacem in Terris Paus Yohanes XXIII yang mengemukakan masalah perdamaian bukan hanya perkara tidak ada perang, melainkan erat terkait keadilan. Apabila masalah kemiskinan dan ketidakadilan tidak diatasi, mustahillah dunia ini dapat mengalami hidup secara damai.
Atas dasar hukum kodrat yang tertulis dalam hati manusia, Paus Yohanes XXIII memikirkan dan mengembangkan tatanan moral untuk menuntun kehidupan manusia menuju perdamaian dalam empat segmen, yakni ketertiban antara manusia, hubungan antarindividu dan negara, hubungan antarnegara, dan komunitas dunia.
Secara progresif, Paus Yohanes XXIII menempatkan hak-hak asasi manusia sebagai yang utama dalam mewujudkan perdamaian di dunia. Beliau juga membuat distingsi antara ajaran ideologi yang palsu dan gerakan-gerakan sejati yang menanggapi masalah sosial dan ekonomi.
Paus Yohanes XXIII menegaskan, ”tidak pernah dunia akan menjadi kediaman damai, selama damai belum menetap di hati semua dan setiap orang, selama tiap orang belum memelihara dalam dirinya tata-tertib yang oleh Allah dikehendaki supaya dilestarikan.” (PT 165).
Pada bagian terakhir beliau berharap dan berdoa, ”Semoga Kristus mengobarkan keinginan semua orang untuk mendobrak palang-perintang yang menceraikan mereka, untuk meneguhkan ikatan-ikatan cinta kasih timbal-balik, untuk belajar saling memahami, dan mengampuni siapa pun yang bersalah kepada mereka. Supaya turunlah damai atas kawanan yang dipercayakan kepada penggembalaan anda, demi kesejahteraan khas mereka yang paling jelata dan paling membutuhkan bantuan serta pembelaan…” (PT 171, 172).
Sikap menjadi dasar Gereja Katolik mengupayakan perdamaian dunia menjadi bagian integral keberimanan. Hal ini selaras dengan konsitusi kita memberikan kewajiban bagi negara untuk mengupayakan perdamaian dunia. Semoga perang bukan lagi cara dilakukan, melainkan bagaimana upaya–upaya di plomasi menciptakan solusi terhadap persoalan yang terjadi di Suriah
*Penulis adalah budayawan.
Advertisements

Setia Bersama Domba

yesus-gembala-domba

Kisah iman ini masih terkait dengan kisah iman yang lalu. Peristiwanya adalah “kecelakaan” yang menimpa rombongan Timin itu. Karena tiga ban bus sebelah kanan, depan, dan belakang pecah, otomatis bus juga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Bus yang kami tumpangi tak cukup hanya mengganti tiga ban, tetapi juga harus mengganti velg yang peyok. Karena itu, rombongan terpaksa menunggu bus pengganti yang akan menjemput ke TKP.

Saat Timin bersama rombongan sedang menunggu bus yang mereka tumpangi diganti bannya, tiba-tiba seorang bapak mendekati Timin. Dia adalah Pak Martin, salah satu umat Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang. Tampaknya, Pak Martin melihat Timin yang sedang berdiri di tepi jalan di dekat bus yang mengalami kecelakaan tunggal tersebut.

“Romo mau ke mana?” Ayo bersama saya?!” sapa Pak Martin. “Saya mau ke Ganjuran bersama rombongan ini,” jawab Timin. “Ayo ikut saya, nanti saya antar ke Ganjuran!”. “Terima kasih, Pak! Saya harus bersama mereka (yakni rombongan perjalanan yang akan pergi ke Ganjuran untuk merayakan Pesta HUT Imamat beberapa Pastor yang telah disebutkan sebelumnya).”

Pak Harsono dan Pak Alamsyah mendesak agar Timin menerima tawaran Pak Martin. “Supaya Romo tidak terlambat mengikuti perayaannya.” Timin tak bergeming. Prinsip yang dipegang Timin sederhana saja. Ia belajar setia menyertai kawanan dombanya yang sedang diserahkan kepadanya untuk disertai, termasuk yang ikut dalam rombongan itu. Maka, ia menolak tawaran Pak Martin dan desakan Pak Harsono dan Pak Alamsyah. “Saya berangkat bersama kalian. Maka, saya akan tetap bersama kalian dalam suka maupun duka!” sahut Timin.

Tawaran untuk bareng dengan rombongan lain juga diterima Timin. Namun, sekali lagi, Timin menolak, dengan alasan dan prinsip yang sama. Biarlah, sebagai seorang imam yang juga disebut pastor, yang artinya gembala, ia belajar setia menyertai domba-dombanya. Mana tega, membiarkan mereka terlantar tanpa gembala dalam keadaan yang tidak pasti menunggu kendaraan lain.

Timin tetap belajar setia bersama dengan umat yang berada dalam rombongan tersebut. Maka, Timin pun tetap setia menunggu bus lain yang akan datang menjemput mereka dan membawa mereka menuju Ganjuran. Meski cukup lama meunggu, semua harus tetap sabar dan setia.

Dalam keadaan itu, yang terngiang dalam benak Timin adalah sabda Sang Gembala, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya untuk domba-dombanya. Orang upahan yang bukan gembala dan bukan juga pemilik domba-domba itu, akan lari meninggalkan domba-domba kalau ia melihat sergala datang.” (Yohanes 10:11-12). Yang dihadapi Timin dan domba-dombanya memang bukan sergala. Dalam situasi itu, Timin belajar setia menyertai domba-dombanya. (Timin)

 

Sumber: Majalah INSPIRASI, Nomor 109 Tahun X September 2013, halaman 3.

Meminta Maaf-dan-Memaafkan

shake hands

Pagi itu, kami meluncur dengan bus menuju Ganjuran dari Kebon Dalem, untuk menghadiri Perayaan Ulang Tahun Imamat para Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang. Romo Suni pesta perak. Romo Hantara dan Romo Riawinarta Pesta 40 Tahun Imamat. Dan Romo Utomo Pesta Emas Imamat.

Kami Pengurus Dewan Harian Paroki St. Fransiskus Xaverius mendapat undangan dari panitia/UNIO KAS. Demi menghormati undangan yang juga sangat terhormat tersebut, maka, dalam Rapat Dewan Harian Paroki St. Fransiskus Xaverius, diputuskan, semua anggota Dewan Harian wajib ikut menghadiri perayaan tersebut. Sengaja kami usulkan menyewa bus pariwisata yang memadahi agar semua menjadi nyaman. Jumlah peserta yang ikut boleh ditambah dengan siapa pun yang berkenan ikut. Diutamakan unsur kaum muda diikutkan dalam rangka panggilan imamat.

Begitulah, karena dalam undangan tertera, acara dimulai pukul 09.00, maka pagi-pagi benar, pukul 04.35 kami sudah berangkat. Sejak mulai perjalanan, Timin sudah merasa tidak nyaman. Pertama, bus yang dipesan “judulnya” tidak sesuai dengan pesanan. Timin pun berkomentar, “Kok bukan yang itu, tetapi yang ini?” Jawaban diberikan, “Sama kok. Ini lebih tinggi!” Timin taat. Apa boleh buat. Kedua, rasa tidak nyaman terasa, sebab cara sopir me-ngegas dan mengerem, sering nyendal dan ngaget. Bahkan, saat toilet-stop, Pak Alamsyah mengeluh, “Pusing. Mabuk!” Timin pun merasakan hal yang sama.

Perjalanan berlanjut. Timin yang duduk persis di belakang sopir memejamkan mata untuk tidur. Namun, tiba-tiba terdengar suara hantaman, dan seakan ada sesuatu yang terseret. Terdengar jeritan pula para penumpang, jufa bus sedikit oleng dan terasa seperti melompati sesuatu. Ternyata bus menabrak pembatas jalan sehingga ketiga ban bagian kanan depan-belakang pecah, bahkan velg-nya penyok.

Kami semua cemas. Jadwal pasti tidak terkejar alias terlambat. Kami menunggu bus pengganti. Sementara menunggu, terdapat hal yang mengharukan. Pak sopir dengan menggunakan mikrofon bus, mengakui bahwa dirinya mengantuk dan terjadilah musibah itu serta memohon maaf kepada kami semua. Timin pun, atas nama rombongan memberikan maaf dan mensyukuri bahwa tidak ada korban (meskipun ada satu penumpang yang terjerembap ke lantai karena tidak mengenakan sabuk pengaman, dan punggung Timin pun terasa sakit karena serasa terbanting saat bus tersebut seperti melompat karena menabrak pembatas jalan tersebut).

Alangkah indahnya bila kita bisa meminta maaf-dan-memaafkan. Saling memaafkan itu undah seperti diajarkan Yesus dalam Matius 18:22, bahwa kita harus mengampuni sampai 70 x 7 kali. Bahkan dalam Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus, kita tidak akan diampuni kalau kita sendiri tidak mau mengampuni orang lain. Memaafkan adalah awal dari sebuah pengampunan. (Timin).

 

Sumber: Majalah INSPIRASI, Nomor 108 Tahun IX Agustus 2013, halaman 3.

Lagi-lagi, Anak Kecil Pemilik Kerajaan Surga

kids

 

Sambil menunggu jemputan umat untuk Perayaan Ekaristi di lingkungan, Timin masuk ke dalam Kapel Adorasi Ekaristi Abadi St. Maria Bunda Sakramen Mahakudus yang berada di kompleks pastoran Kebon Dalem. Sedikitnya sepuluh orang berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus malam itu. Dua di antaranya anak-anak yang berdoa bersama ibunya.

Sang kakak duduk sambil membaca Kitab Suci. Usianya masih SD. Anak itu juga belum menerima komuni pertama, sebab saya hafal, setiap kali mengikuti Perayaan Ekaristi, dia maju menerima “komuni bathuk” alias berkat di dahi. Tentu saja, adiknya lebih kecil lagi.

Sementara sang kakak asyik membaca Kitab Suci, sang adik duduk manis sambil memegang bolpoint dan membuat sesuatu. Sedangkan ibunda mereka asyik berdoa di belakang mereka. Timin bersimpuh di hadapan Sakramen Mahakudus di samping anak kecil yang sedang asyik membuat sesuatu dengan balpointnya di atas secarik kertas.

Selesai berdoa, Timin melirik anak kecil itu. Ternyata, anak itu menggambar sesuatu. Anak itu sesekali mendongakkan wajahnya lalu menunduk dan membuat coretan. Ia menggambar. Yang dia gambar adalah dua pilar yang ada di samping altar utama Kapel Adorasi. Dan di antara pilar-pilar itu ada empat bunga matahari yang mirip monstran tempat Sakramen Mahakudus ditahtakan. Di atas pilar terhadap lima kumbang, tiga awan dan satu matahari dengan garis-garis sinarnya dan pada bulatan matahari terhadap dua mara dan bibir yang melengkung. Di antara kumbang-kumbang terdapat lima lengkung dan garis tampak seperti buku, atau dua pintu jendela. Saya tidak tahu apa maksud dari semua itu. Di sudut kanan atas terdapat tulisan EliA 12.

“Boleh gambarnya buat saya?”, tanya Timin. Anak itu mengangguk. Dan menyerahkan kertas bergambar karyanya itu sambil tersenyum. Setelah itu, dia mengambil kertas kosong lagi entah mau menggambar apa lagi, Timin tidak tahu, karena ia harus segera berangkat ke lingkungan.

Timin bahagia menyaksikan dan mengalami Kerajaan Allah dalam diri anak kecil itu. Ia juga berterima kasih bahwa ibunda anak itu mengajak si kecil berada di Kapel Adorasi Ekaristi Abadi tanpa keributan, di ahening asyik dengan aktivitasnya tanpa mengganggu orang lain nemun berada di ruang kudus di hadapan Sakramen Mahakudus. Luar biasa!

 

Sumber: Majalah INSPIRASI , Nomor 101 Tahun IX Januari 2013 halaman 3.