Romo Benny Susetyo : Peradaban Politik Indonesia Semakin Terjal

Forum Indonesia Bangkit

(Suara Gratia)Cirebon-Terkuaknya berbagai kasus korupsi di negeri ini, di satu sisi menunjukkan realitas buruk politik, dan di sisi lain bisa menjadi secercah harapan pemberantasan korupsi. Satu per satu pejabat yang terlibat mulai diusut keterlibatannya. Publik menunggu, akankah secercah harapan itu merupakan kesungguhan penegak hukum untuk memberantas korupsi atau sekedar angin lalu. Hal ini diungkapkan, Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia Romo Benny Susetyo, Pr dalam seminar Nasionalisme dan Kebangkitan Ekonomi Indonesia, yang diprakarsai oleh Forum Indonesia Bangkit Cirebon.

Ia mengatakan, wajah peradaban politik semakin suram, karena korupsi yang tampak dibiarkan dan tidak dianggap sebagai masalah serius. Terutama, ketika bagian utama kekuasaan justru berada sangat dekat dengan skandal tersebut. “Semua serba ditutup-tutupi, dipolitisasi, direkayasa, dan bahkan masih dicitrakan sedemikain rupa agar tampak baik-baik saja.” Ia melanjutkan, hal ini terjadi karena partai politik dimana tempat mereka digembleng, sejak awal tidak memiliki kepekaan terhadap mereka yang tertindas. Selain itu, kekuasaan yang telah diraih sering menjadi bumerang untuk melupakan rakyatnya dan ritus seperti ini terus berlangsung tanpa ada perubahan untuk memperbaiki, apa sebenarnya yang ingin duiperjuangkan oleh sebuah partai politik. Romo Benny menjelaskan, kekuasaan yang semestinya menjadi alat untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat, nyatanya diselewengkan hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan. “Kekuasaan telah melenakan penguasa dan kekuasaan hanyalah medium kejahatan bagi para politisi karbitan untuk memperkaya diri.”

Menurutnya, inilah yang membuat negeri ini semakin hari tidak semakin kuat, malah menjadi semakin rapuh dan keropos. Bangunan politik hanya dilandasi dengan kepentingan material, akibatnya politik menjadi sandaran para pemodal. Lebih lanjut ia menambahkan, negeri ini membutuhkan perubahan secepat-cepatnya, atau semua ini akan mewarnai wajah gelap masa depan bumi Indonesia. “Kita membnutuhkan momentum untuk berubah, sebelum semuanya terlambat.” Karena Indonesia bukan milik generasi hari ini saja, melainkan akan diwariskan pada generasi mendatang. Maka dari itu, makna berpolitik dan berkekuasaan harus ditegaskan kembali, bahwa berpolitik semata-mata hanya untuk kepentingan perjuangan semesta untuk membangun Indonesia menjadi bangsa yang makmur dan luhur.(Fr)

Sumber : http://suaragratiafm.wordpress.com/2013/05/06/romo-benny-susetyo-peradaban-politik-indonesia-semakin-terjal/

Advertisements

Pembangunan Karakter Bangsa Penting untuk Meredam Kekerasan

Pembangunan karakter bangsa penting untuk meredam kekerasan thumbnail

Romo Benny Susetyo, Pr

(16/04/2013) Pembangunan karakter bangsa perlu ditingkatkan guna meredam berbagai konflik dan kekerasan berdasarkan suku, agama, ras dan antargolongan.

“Proses membangun karakter bangsa belum selesai. Ketika pembangunan karakter tidak selesai-selesai maka yang terjadi adalah masing-masing kelompok lebih mendahulukan identitas suku, agama, ras, dan antargolongan,” ujar Romo Antonius Benny Susetyo, saat menjadi narasumber sebuah seminar tentang Dialog Pilar Negara, yang diselenggarakan di  Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, 15 April 2013.

Menurutnya, “Saat ini kita kehilangan pemimpin yang berjiwa kenegarawanan. Pendiri bangsa adalah pemimpin yang tidak mementingkan suku, agama, ras, dan antargolongan.”

Konflik dan kekerasan atas nama suku, ras, agama, dan antargolongan selalu terjadi. “Kita tidak pernah memutus kekerasan. Mengapa kekerasan tidak pernah putus, karena tidak ada ketegasan hukum,” paparnya.

Ia mengatakan bahwa masalahnya tidak hanya itu saja. Demokrasi yang berkembang saat ini lebih hanya mengandalkan kuantitas tanpa disadari akal sehat. Hal itu “diperparah lagi dengan tidak satu visinya para pemimpin,” tambahnya.

Persoalan-persoalan di atas, menurutnya, tidak terselesaikan akibat dari konstitusi tak ditegakkan. Sosialisasi empat Pilar sudah bagus, namun disayangkan nilai-nilai itu tidak dijadikan roh dalam mengambil keputusan.

Untuk itu ia menegaskan bahwa hukum harus menjadi panglima, pemerintah harus tegas dan berwibawa, adanya pendidikan multikulturisme, dan pendidikan nilai-nilai Pancasila.

Sementara itu Wakil Ketua MPR RI, Melani Leimena Suharli menegaskan bahwa dirinya tidak setuju kalau bangsa Indonesia tidak toleran.

Ia mencontohkan banyak hal dalam masalah toleransi, seperti saatMusabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) dilaksanakan di Ambon, Maluku, sekitar 2.500 pendeta menyediakan rumahnya untuk tempat tinggal peserta MTQ.

Melani mengatakan, pendidikan multikulturisme untuk menciptakan toleransi dan saling menghormati antar suku, agama, ras, dan antargolongan, perlu didukung namun ia mendorong agar pendidikan masalah ini di tingkat keluarga lebih diutamakan terutama pada masa anak-anak usia dini.

Ia menceritakan pengalaman di keluarganya. Meski orangtuanya, J. Leimena, mempunyai anak dengan beragam keyakinan, namun keluarganya selalu hidup rukun.

“Ini bisa terjadi sebab orangtuanya mengajarkan agar kita tidak mementingkan diri sendiri dan tidak bersikap kaku di tengah masyarakat,” tambahnya.

Sumber: http://indonesia.ucanews.com/2013/04/16/pembangunan-karakter-bangsa-penting-untuk-meredam-kekerasan/

Sanctissimi Visitatio

Siang itu, setelah makan siang, Timin mengadakan kunjungan suci (Sanctissimi visitatio) di kapel Adorasi Ekaristi Abadi St. Maria Bunda Sakramen Mahakudus yang berada di Pastoran Kebon Dalem, Semarang. Durasi (lama) waktu visitasi suci dan adorasi jaga bakti memang berbeda. Jaga bakti biasanya dilakukan Timin sekurang-kurangnya selama satu jam, pada jam-jam dini hari setiap Senin-Selasa-Rabu dan Jumat-Sabtu. Sedangkan visitasi suci dilakukan setiap saat tanpa jadwal pasti, barang 10-30 menit.

Ada peristiwa unik siang itu. Tiba-tiba seorang bocah masuk. Ia memegang bahu seorang ibu (yang ternyata ibunya bocah itu). Sambil memegang bahu ibundanya dari samping kanan, dia menggoda ibunya dengan seruan “Naaaaahhhh…!” Mengalami hal itu, sang ibu memberi syarat agar anaknya diam dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya seraya berdesis, “Ssssssttttt! Ndak boleh berisik!”

Terdengar samar-samar si bocah berkata, “Salah ya. Mana doa tobatnya…” Sang ibu merangkul anaknya dan membiarkan sang anak duduk di pangkuannya. Sang anak membuat tanda salib, kedua telapak tangannya mengepal di dagunya dan sambil menunduk dia berdoa. Entah doa apa, mungkin doa tobat karena sudah dianggap berisik di kapel adorasi tadi oleh ibunya.

Melihat adegan itu, Timin mencari-cari BlackBerry-nya bermaksud memotretnya. Sayang, anak itu keburu bangkit setelah membuat tanda salib dan hendak keluar. Timin pun meraih tangan anak itu, memberikan berkat pada dahinya dan berkata, “Doa lagi disitu!” (Maksud Timin, biar bisa memotretnya). Tapi anak itu bilang, “Ndak mau. Aku sudah selesai kok!”

Anak itu langsung keluar. Timin penasaran. Maka Timin pun mengakhiri visitais suci dan bermaksud menyapa anak itu. Saat Timin sedang keluar, Timin menyaksikan bocah itu sedang mengenakan sepatunya. Timin pun memotretnya. Tiba-tiba dia berkomentar sambil mengacungkan kepalan tangan kirinya. “Wow, berani motret saya sedang pakai sepatu. Awas ya!!”

Pas dia mengacungkan kepalan tangannya, pas Timin menjepret dia! Timin pun bertanya, “Namamu siapa?

“Rian”, jawabnya.

“Rumahmu mana?” tanya Timin.

“Petolongan 55” jawabnya.

“Oke , Nyo.., terima kasih ya!” sahut Timin sambil membetulkan kerah bajunya yang tidak pas.

Anak itu berlari ke Sekolahan si SD Kebon Dalem. Timin tercenung. “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Matius 18:5). Sabda Yesus itu terngiang hati Timin. (Timin)

Dialog Gereja, Sebuah Refleksi

berbincangOleh Pendeta Roberth W. Maarthin*

Kita tahu pengertian Gereja. Yang pertama adalah orangnya (tiap umat kristen) dan yang kedua adalah gedung (atau lembaga). Gereja dalam tulisan ini ialah orang atau tiap individu Kristiani. Dan pengertian berdialog atau dialog adalah 2 (dua) orang atau lebih, bercakap-cakap, atau sedang berbicara membahas sesuatu. Jadi, dialog itu terjadi karena dua orang atau lebih sedang berbicara. Tujuan penulisan sederhana ini ialah mencoha meneropong, ‘Bagaimana Gereja yang berdialog’. Berdialog dengan siapa? Mengapa mesti ada dialog? Lalu ke mana arah dan muara dialog itu?

Gereja atau umat Kristiani lahir ke dunia oleh satu tokoh kontroversi. Namanya Yesus Kristus. Dia adalah penjelmaan Allah Sang Pencipta alam raya ini. Tokoh ini menjadi kontroversial karena pengajaran dan tindakan yang menjungkirbalik (baca: memutarbalik) tradisi beragama dan beriman orang-orang zaman itu (abad pertama Masehi) bahkan sampai saat tulisan ini saya ketik, masih juga kontroversial, bukan hanya di kalangan Gerejawi (baca: lembaga Kekristenan) atau umat Kristiani, tetapi juga di luar Gereja. Hidup-Nya relatif singkat, hanya 33 tahun, tetapi cara kematian yang ditempuh, di luar nalar, tidak masuk akal, atau lebih tepatnya kontroversial. Dalam situasi itu (kontroversial), Gereja mulai belajar hidup dan berjumpa dengan yang lain, suku yang berbeda, bahasa yang tidak sama, budaya dan tradisi asing bahkan bersentuhan dengan agama lain.

Sepanjang hidupnya, terutama 3 tahun menjelang kematian-Nya, Yesus banyak berdialog atau bercakap-cakap dengan tiap orang yang ditemui. Dialog tersebut disertai praktik dalam berbagai aktivitas memberi belas kasih. Dalam perjumpaan itu, Yesus tidak bertanya dari mana? Siapa kamu? Terlebih, agama apa?

Yang diperbuat-Nya adalah berdialog dan berkarya. Bercakap-cakap. Berbicara. Mendengar dan bertindak. Topik favorit yang selalu dicakapkan Yesus ialah pengampunan karena kasih Allah yang menyelamatkan. Yaitu, kasih Allah pada dunia dan segala isinya. Kasih yang tanpa batas, tak dapat diukur, melebihi hitungan zaman. Kasih yang datang dari Sorga. Itulah tujuan utama kehadiran-Nya dalam dunia. Inti dari penderitaan kematian di kayu salib.

Kasih yang diwariskan. Diwariskan? Ya, diwariskan pada setiap umat Kristiani. Menjadi hak saya dan Anda tak peduli dari denominasi atau Gereja manapun. Sepanjang dia mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, dia mendapat hak itu. Persoalannya ialah, apakah tiap umat Kristen menyadari, mengerti hak itu? Apakah ‘warisan’ itu aktual dalam hidupnya? Menjadikan hak itu sebagai budaya dan peradaban pribadi juga komunitas? Kasih adalah dasar ruang dan gerak umat Kristiani sepanjang zaman. Mestinya itu titik.

Tetapi sejarah banyak bertutur kegagalan umat Kristiani dalam membangun dan menjadikan kasih sebagai budayanya. Sejarah bahkan menoreh luka dan borok dalam tubuh kita. Luka dan borok itu terus bernanah dalam hidup banyak umat Kristen. Harapan saya semoga tidak bertumbuh menjadi kanker. Kanker adalah penyakit yang saat ini belum ditemukan bagaimana cara pengobatannya. Anda bisa bayangkan, jika luka dan borok-borok sejarah umat Kristiani itu terus berkembang dalam tubuh ini, bagaimana akan teratasi? Pertanyaan besar adalah bagaimana menyembuhkan luka dan borok itu?

 

Pertama, sejarah adalah masa lampau.

Disadari bahwa sampai sekarang tiap-tiap denominasi ‘masih’ menyimpan dendam sejarah, cenderung saling memberi cap buruk, saling curiga satu dengan yang lain sampai pada ‘klaim keselamatan yang amat eksklusif-inklusif’! inilah penampakan kehadiran gereja di tengah dunia ini.

Dalam penampakan warna seperti itu, bagaimana Gereja mampu menunjukkan kasih Allah pada dunia? Sejarha yang mestinya menjadi refleksi kasih terhadap budaya dan peradaban Gereja, terabaikan! Mengapa refleksi kasih? Ya, karena hanya kasih yang memberi kekuatan untuk mengampuni. Bukankah pengampunan selalu memberi hidup yang baru? Memberi kekuatan baru? Memerdekakan sekaligus membebaskan dari semua rasa malu hari kemarin? Membuat sesama manusia sejajar tanpa ada sekat-sekat?

Anehnya, Gereja sering melupakan itu dan lebih riuh berefleksi lewat akal da pemikiran-pemikiran manusiawi. Padahal, pemikiran-pemikiran dan hasil-hasilnya bertujuan untuk memperkaya dan memperkuat Gereja dalam pengaktualan warisan Yesus Kristus padanya. Saya tidak mengerti, mengapa sejarah terus menerus menjadi ‘kambing hitam’ untuk menghindari penyembuhan luka dan borok atas dendam sejarah itu?

Lihat dan amati dengan seksama, betapa lembaga-lembaga gerejawi tidak berani jujur untuk mengakui kelemahan masa lalu. Sekaligus berani tulus mengakui “bahwa engkau dan aku adalah satu”. Satu Keselamatan! Satu Tubuh! Satu Iman! Yaitu, YESUS KRISTUS dalam Tritunggal.

Padahal, pengalaman masa lalu memberi pengajaran untuk tidak melakukan kesalahan yang sama atau setidak-tidaknya memperbaiki kekeliruan atau mencari jalan keluar untuk sesuatu yang masih ‘gelap’ yang belum tercerahkan atau yang masih samar-samar. Catatan sejarah menjadi rujukan untuk memasuki hari esok atas pengalaman lampau. Bukankah kita belajar kasih dari sejarah masa-masa itu? Baik dari catatan-catatan penulis Alkitab, jurnal-jurnal teolog serta bapa-bapa Gereja? Apakah situasi seperti itu akan terus mewarnai perjalanan Gereja ke depan? Dalam pengharapan terhadap kuasa Tuhan Yesus hentikan sampai di sini dan kita bersama memasuki dunia baru.

 

Kedua, belajar mengakui dan menerima tradisi masing-masing denominasi

Dialog dilakukan untuk dapat mengerti dan memberi pemahaman kepada orang lain. Kelemahan Gereja selama ini ada di situ. Kita kurang intens berdialog bahkan ada yang menghindari proses-proses itu. Saya tidak tahu penyebabnya. Padahal, dialog penting. Penting untuk saling memahami. Bagaimana mengetahui dan mengerti yang lain jika menutup diri? Bagaimana tahu jika tidak belajar? Bagaimana akan dikenal bila tidak membiarkan diri dikenal? Bagaimana mengahrgai tradisi liturgi yang lain jika sudah beranggapan tradisinya yang benar? Bukankah tradisi liturgi masing-masing adalah wahana pembangun iman yang tiap kali ada konvensi Gereja selalu berubah dan ada pembaruan? Karena Liturgi adalah tradisi, maka sesungguhnya dia bisa berubah setiap saat. Karena itu, mestinya Liturgi atau tradisi masing-masing bukan menjadi penghalang untuk terus-menerus melakukan dialog interdenominasi Gereja.

Dialog dapat dilakukan dalam berbagai kreasi. Misalnya, saling berkunjung, mengikuti ibadah ekumene dengan liturgi khusus yang dibuat bersama, doa bersama, belajar isi Alkitab bersama, pentas musik gerejawi baik vocal group dan paduan suara sampai pada dialog karya untuk sesama manusia. Termasuk juga berbagai kreasi lain, sesuai usia umat dan pendidikannya.

Lalu darimana memulai dialog? Mulailah dari para pemimpin, yaitu pastor, bruder, suster, pendeta, evangelis, para majelis gereja. Ibarat kembang tanaman, ketika ia mulai kuncup dan berbunga, maka seluruh tumbuhan kembang itu menjadi indah. Jika imam memperlihatkan ekpresi-ekspresi dialog kepada umatnya maka ekspresi dialog pun akan ikut dari belakang. Dia memberi contoh. Sebagai teladan jauh lebih utama, daripada teori-teori dialogis yang selama ini diseminarkan atau dicetak dalam buku-buku tebal. Termasuk melalui khotbah mingguan, para imam sering menyerukan bagaimana kasih Allah terhadap sesama, berkumandang dari gedung-gedung gereja termasuk yang disiarkan media massa, elektronik sampai internet. Kenyataannya, seringkali para tokoh gereja yang notabene para imam, enggan melakukan hal itu, meski ada gejala cukup positif mengarah ke sana.

Nah, Gereja dengan berbagai denominasi itu, sesungguhnya adalah satu. Ketika Tuhan Yesus berdoa di Taman Getsemani sesuai kesaksian Injil Yohanes 17, doa-Nya bukan hanya untuk murid-murid. Tetapi kepada semua orang percaya karena pemberitaan para murid itu. Siapa ‘semua orang percaya’ itu? Tentu saja semua Gereja sepanjang zaman, sampai penggenapan kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya. Inilah yang mesti selalu diperjuangkan, yang harus diupayakan dalam dialog interdenominasi. Bahwa engkau dan aku adalah satu yaitu dalam Tubuh Yesus Kristus.

Pertanyaan berikut adalah, bagaimana Gereja berdialog dengan sesama? Dalam awal tulisan ini, saya menyinggung bahwa sejak Gereja lahir ke dunia ini, sudah berhadapan dan berjumpa dengan berbagai manusia dan beragam budaya. Gereja hidup di tengah multikultural, di tengah multikultural, di tengah multireligius. Bagaimana dialog Gereja pada kondisi seperti itu? Apa yang mesti dilakukan? Dan bagaimana Gereja tetap hidup berdampingan dengan adegan yang lain?

Kesadaran Gereja terhadap Hak Waris (yaitu: kasih) amat penting. Kasih inilah yang membedakan Gereja dengan yang lain. Sebagaimana pengorbanan Allah dengan mengutus Anak Tunggal-Nya (Yohanes 3:16) sampai pada pengorbanan-Nya di atas salib. Maka ciri utama kasih, adalah berkorban. Berkorban? Ya, Gereja mesti berani berkorban untuk memulai dialog dengan yang lain. Gereja tidak boleh pasif tetapi aktif. Bukankah kasih itu aktif? Bagaimana Gereja ada di dunia ini jika Allah tidak aktif dan progresif, terutama pekerjaan-Nya melalui Roh Kudus? Dari kota kecil Betlehem menuju Yerusalem, kemudia Efesus, Korintus, Filipi, lalu masuk kota Roma dan menyebar ke seluruh pelosok dunia, di mana ada manusia, di sana Gereja pun ada. Bukankah itu karena Allah yang aktif bahkan progresif dalam kasih-Nya? Bagaimana konteks kita di Indonesia?

Kita tahu sejak dulu kala Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius, ramah tamah, gotong royong dengan budaya dan tradisi yang adiluhung dengan kekayaan alam yang menggiurkan banyak bangsa lain sehingga datang menduduki Indonesia. Tetapi akhir-akhir ini, hal itu memperlihatkan kenyataan sebaliknya. Kerusuhan antarkelompok marak di mana-mana. Demonstrasi yang mestinya menjadi sarana demokrasi, berubah anarkis. Masyarakat desa yang seharusnya memperlihatkan keluguan dan kesederhanaan justru menampakkan kekerasan antardesa. Belum lagi tawuran antarpelajar, antarmahasiswa yang diperparah oleh miskinnya mental spiritual tokoh-tokoh publik baik oleh pejabat pemerintahan, artis sampai tokoh agama. Bagaimana Gereja hidup dengan situasi seperti ini?

Menjelang Yesus Kristus naik ke surga, Ia mengingatkan para murid untuk terus-menerus menebar, menyebar, menyemai kasih tiap waktu. Di mana, ke mana, kapan saja kasih musti didialogkan kepada siapa saja. Segala makhluk! Manusia dan lingkungan.

Persoalan bagi Gereja ialah, siapkah untuk itu? Sebenarnya menyatakan kasih pada dunia, tidak sulit, juga tidak menyusahkan. Kasih hanya butuh pengorbanan untuk melakukan kehendak Tuhan Yesus dengan tulus. Santo Fransiskus Assisi mengatakan dalam puisi yang ditulisnya beberapa abad lalu seperti ini: Di mana ada pertikaian, ke sana aku membawa kasih. Kasih seperti ini yang memberi kekuatan dan spirit luar biasa bagi Mother (Beata) Teresa untuk mencintai kaum papa dan miskin di Kalkuta, India, sepanjang hidupnya. Kasih yang sama juga menjadi pendorong Romo Mangun Wijaya untuk mencintai masyarakat Kali Code sampai akhir hayat. Indonesia membutuhkan kasih seperti ini dari tiap umat Kristiani. Bisa dibayangkan jika seluruh uat Kristiani di Indonesia yang diperkirakan berjumlah 60-an juta itu menjadikan kasih sebagai budaya hidupnya sehari-hari, Indonesia akan mengalami perubahan luar biasa dalam hubungan antarsesama dan antarumat beragama.

Namun, sekali lagi kasih itu berkorban. Berkorban untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Berkorban untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Berkorban untuk menjadi jujur di tengah ketidakjujuran. Berkorban untuk menolong mereka yang papa. Berkorban untuk hidup sederhana di tengah kemiskinan. Berkorban mengampuni sepahit apapun persoalan yang kita alami.

Mungkin Gereja mesti berdialog di sana. Dialog dalam pengorbanan untuk kebaikan dan kehidupan orang lain. Seperti Yesus Kristus, berkorban untuk kehidupan Anda dan saya.

Semoga tulisan pendek ini dapat memberi inspirasi untuk terus-menerus berdialog dalam kasih.

*Penulis tinggal di Yogyakarta

Mempertanyakan Visi Pendidikan

buku pelangiOleh : Benny Susetyo, Pr

Kemdikbud menetapkan sasaran penerima kurikulum baru hanya di 6.410 dari sekitar 207.114 sekolah. Dari 6.410 sekolah itu, hanya akan ada 56.113 guru dari sekitar 2,9 juta guru yang akan dilatih untuk menjalankan kurikulum baru. Sedangkan jumlah total siswa 1.535.065 yang akan menerima kurikulum baru negeri dan swasta.

Yang melaksanakan kelas 1, 4 SD, 7 SMP, 10 SMA/SMK. Prioritasnya sekolah eks rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan terakreditasi A.

Kurikulum 2013 menjadi polemik karena banyak yang belum tahu, sosialisasinya minim. Bukan hanya itu, polemik muncul karena perubahan dalam kurikulum tersebut dinilai banyak kejanggalan. Publik juga menilai kebijakan tersebut dibuat tergesa-gesa, tidak disiapkan dengan matang.

Jadi, banyak rencana konseptual dan praktik yang belum jelas. Bahkan dapat dinilai kurikulum akan merugikan pengajar dan siswa. Tak heran bila legislatif pun mengingatkan agar anak didik tidak dijadikan kelinci percobaan. Misalnya, rencana peleburan sejumlah mata pelajaran di jenjang sekolah dasar, banyak pihak menilai sebagai rencana yang sulit diterima. Hal itu justru akan melahirkan masalah di kemudian hari pada tahap implementasi. Pemerintah dinilai terlalu simplifikatif melebur isi pelajaran. Barangkali secara konsep hal itu mudah dilakukan, tapi sulit dalam praktik.

Integrasi mata pelajaran diprediksi tidak berlangsung mulus karena menyangkut berbagai komponen, mulai dari guru sampai kompetensi. Hal tersebut justru akan melahirkan berbagai persoalan di kemudian hari alih-alih cita-cita mengembangkan pendidikan karakter. Bila dilakukan tanpa perencanaan yang matang, hal tersebut akan mengulang kisah-kisah pilu masa lalu pendidikan nasional. Kisah yang menceritakan bahwa berbagai kebijakan pendidikan (termasuk kurikulum) sebagai roh sering kali tidak berfungsi optimal karena minat kekuasaan yang cenderung mengarah pada politisasi daripada bersungguh-sungguh kemajuan bangsa.

Percobaan
Anak didik bukanlah kelinci percobaan dari kebijakan yang problematis seperti perubahan kurikulum. Mereka sudah lelah selalu menjadi kambing hitam berbagai proyek pendidikan yang tidak jelas ujung pangkalnya, dari zaman kemerdekaan hingga kini. Pendidikan belum maju. Bangsa selalu disuguhi, perubahan kurikulum erat dengan politik pendidikan kekuasaan. Ganti penguasa berubah kurikulum. Kurikulum seolah-olah merupakan kebijakan like and dislike yang bisa diterapkan asal-asalan dan mengabaikan hakikat serta visi pendidikan itu sendiri. Di sini muncul pertanyaan, sebentar lagi kekuasaan berubah, bagaimana nasib penerapan kurikulum ke depan?

Karena itulah logis bila legislatif minta agar didiskusikan kembali yang lebih mendalam. Perlu waktu untuk memahami kebijakan ini dan membacanya dalam bingkai pendidikan nasional. Visi dan misi pendidikan nasional jangan tercabut hanya karena keinginan yang dipaksakan demi politik kejar target. Dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan krusial seperti ini, tak boleh terburu-buru menerapkan. Pemerintah harus berbesar hati, jangan malu untuk menunda implementasi kurikulum 2013 karena persiapan dan sosialisasi belum maksimal.

Tujuan memperdalam pendidikan karakter sebagaimana kerap diungkap pemerintah terkait kurikulum ini perlu diapresiasi. Namun, harus memperhatikan berbagai aspek pendidikan. Bila tidak, justru akan melahirkan masalah baru. Problem selama ini bukan semata-mata soal kurikulum, tapi paradigma pendidikan yang kerap mengabaikan upaya memanusiakan manusia. Pendidikan hanya berkutat pada kapitalisasi, ketimpangan, dan eksploitasi anak didik sehingga mereka sekadar menjadi tukang.

Pendidikan harus mampu memanusiakan manusia, membebaskan dan meniadakan dehumanisasi. Pendidikan menjadi usaha pemanusiaan secara terus-menerus. Namun, bila pendidikan dalam bangsa ini hanya menjadi instrumen kekuasaan politik, bagaimana niat mulia pengembangan karakter bisa dicapai? Pendidikan yang terlalu banyak didikte kekuasaan politik hanya akan menghasilkan manusia yang pandai ikut-ikutan seperti robot.

Dunia pendidikan menjadi karut-marut, tidak tentu arahnya. Bila elite berpikir sempit dan jangka pendek, pendidikan akan musnah. Memajukan pendidikan adalah sebuah pekerjaan panjang. Kebiasaan berpikir jangka pendek telah membutakan mata hati dan membelokkan arah pendidikan.

Pertama-tama, perlu mengubah paradigma guru sebagai teman dan rekan siswa. Mereka harus mampu member alternatif saat menemukan masalah. Guru bukan hanya mentransfer ilmu. Dia harus bisa memberi teladan. Masalahnya, guru tidak lagi memiliki ilmu mendidik karena hanya menjadi mentor. Ini harus dibenahi dulu agar guru berkualitas dalam pendidik. Dengan begitu, perubahan kurikulum tidak masalah.

Pendidikan tecermin dari kebijakan dalam memberi fasilitas terbaik bagi warga. Keberhasilan utama pendidikan mampu sosialisasi arti penting sekolah bagi masyarakat. Setiap orang tua berjuang keras agar generasinya mengenyam pendidikan. Mereka tidak mau melihat anak menjadi kuli seperti dirinya, termasuk mereka yang tinggal di pedalaman. Setiap hari anak-anak berjalan kaki berkilo-kilometer ke sekolah agar maju dan memiliki kehidupan lebih baik dibanding orang tua.

Meski demikian, keberhasilan membangkitkan motivasi pendidikan justru tak sebanding dengan perhatian pemerintah yang gagal memberi fasilitas dan kemudahan bagi para murid untuk menempuh pendidikan. Hiruk-pikuk yang menyedihkan pada saat awal-awal ajaran baru sekolah dimulai merupakan bukti bahwa negara kehilangan kekuatan memberi yang terbaik buat warga. Itu tecermin dari perilaku elite. Mereka merasa sadar pendidikan, tapi tidak sikapnya melemahkan arti pendidikan. Indonesia membutuhkan visi pendidikan yang terarah. Ini hanya bisa terjadi bila ada kemauan politik.

Keserakahan dan Kerusakan Lingkungan

Celebrate the WorldOleh : Benny Susetyo, Pr
Hari Bumi baru saja berlalu, tetapi seolah tanpa gaung. Kerusakan lingkungan terus terjadi dengan keserakahan manusia sebagai faktor paling dominan. Keserakahan untuk mengeruk keuntungan pertumbuhan ekonomi membuat eksploitasi alam berlangsung tanpa batas. Sebenarnya kesadaran sudah muncul, dan dunia telah mengupayakan sejumlah kesepakatan untuk membangun secara berkelanjutan dengan mengendalikan kerusakan lingkungan. Namun, faktanya kerusakan ekologi semakin menjadi-jadi.
Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia tahun ini bertopik keterlibatan gereja dalam melestarikan keutuhan ciptaan. Dalam nota ini, Gereja ingin mengajak seluruh umat Katolik memberikan perhatian, meningkatkan kepedulian, dan bertindak partisipatif dalam menjaga, memperbaiki, melindungi, dan melestarikan keutuhan ciptaan dari segala kerusakan. Gereja memandang lingkungan hidup sebagai segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup, termasuk manusia, berupa benda, daya, dan keadaan yang memengaruhi kelangsungan makhluk hidup baik langsung maupun tidak langsung.
Dalam lingkungan hidup terdapat ekosistem, yaitu unsur-unsur lingkungan hidup, baik yang hidup (biotik) seperti manusia, tumbuhan, hewan, maupun yang tak hidup (abiotik) seperti tanah, air, dan udara. Semua saling berhubungan dan saling memengaruhi. Dengan demikian, manusia bersama ciptaan yang lain adalah bagian dari lingkungan hidup. Lingkungan hidup menyediakan berbagai kebutuhan manusia serta menentukan dan membentuk kepribadian, budaya, dan pola kehidupan masyarakat.
Karena itu, dalam memanfaatkan sumber daya alam, manusia harus memperhatikan tujuan dan dampak yang akan ditimbulkan. Sangatlah penting untuk melindungi sumber daya hayati, melestarikan keanekaan hayati, dan bijak mengelola sumber daya hutan dan laut.
 
Kesadaran lingkungan
Kesadaran masyarakat mengenai lingkungan hidup adalah hal penting dewasa ini. Kesadaran ini sesungguhnya bukan sekadar bagaimana menciptakan suasana indah atau bersih saja, melainkan juga masuk pada kewajiban manusia untuk menghormati hak-hak orang lain, yaitu menikmati keseimbangan alam. Dengan demikian, kegiatan-kegiatan yang tidak berpihak kepada kelestarian lingkungan sedini mungkin dapat dihindari.
Namun, faktanya tumbuhnya kesadaran tersebut belum terlihat mengingat kondisi lingkungan kita yang hari ini sungguh-sungguh memprihatinkan. Bermacam bencana alam masih terjadi silih berganti. Semakin banyak kawasan Indonesia yang terendam banjir, padahal dahulu termasuk wilayah aman. Banjir yang terkait dengan kerusakan hutan sebagai kawasan resapan, di sisi lain dibarengi makin canggihnya modus para perusak hutan. Inilah jalinan tali-temali yang sulit diurai.
 
Manusia dan keserakahan
Menurut Tjokrowinoto (1996), semua kesalahan ini tidak pernah diperhitungkan para pelaku ekonomi yang rakus. Keberhasilan paradigma pertumbuhan ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan kerap harus dicapai melalui pengorbanan (at the expense of) berupa deteriorasi ekologis baik yang berwujud menurunnya kesuburan tanah, penyusutan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, maupun desertifikasi. Upaya mewujudkan masyarakat berkelimpahan (affluent society) ternyata harus disertai dengan pengorbanan yang membahayakan. Masyarakat kecil di dataran rendah harus menanggung amukan badai banjir lumpur akibat resapan yang sudah tidak lagi memadai.
Perkembangan kapitalisme yang semakin tidak tentu arah, terutama berkaitan dengan penyelamatan alam, membuat manusia terus berhadapan dengan berbagai problem lingkungan. Dari hari ke hari, gejala dan bentuk kerusakan alam semakin berkembang tidak terduga.
Andre Gorz (2002) dalam Ekologi dan Krisis Kapitalisme menyatakan, manusia sedang menghadapi situasi semakin meningkatnya kelangkaan sumber daya alam. Solusi dari krisis itu bukan pemulihan ekonomi, melainkan dengan pembalikan logika kapitalisme yang cenderung berorientasi pada penumpukan keuntungan (profit) untuk lebih seimbang antara kebutuhan dan aspek untuk mencapai kebutuhan itu sendiri.
Perkembangan kapitalisme yang semakin maju telah melahirkan krisis lingkungan serius karena konsep pembangunan lebih banyak diarahkan oleh logika-logika kapitalisme. Alam diperas untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang tidak henti-hentinya menciptakan teknologi tak ramah lingkungan.
Karena itu, berbagai praktik pembangunan dan juga industrialisasi di negara kita hendaknya terus-menerus kita kritisi dari sudut proses dan dampak dari kebijakan tersebut.

Politik Kemasan

politik_durchkreuzt_031Oleh:  Benny Susetyo, Pr
Kualitas partai politik (parpol) dan calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2014 sangat menentukan arah parlemen dan kebijakan politik, ekonomi, serta dimensi lainnya di Indonesia pasca-2014. Berdasarkan daftar caleg yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), sejumlah partai masih buruk secara administrasi dalam mempersiapkan caleg. Kualitas caleg pun, jika dikaji lebih dalam, menyimpan sejumlah persoalan. Hampir 90% caleg tidak berkualitas. Hal itu menandakan partai politik kehilangan keadaban politik. Politik hanya dimaknai do ut des. Berpolitik sekadar sarana mendapatkan transaksi belaka. Inilah yang membuat wajah parlemen tidak berubah karena motivasi mereka menjadi ‘caleg’ untuk mencari kekuasaan dan uang.
Hal demikian menyuburkan budaya KKN, karena tindakan partai politik mengusung caleg yang merupakan keluarga dekat sebetulnya bentuk nepotisme yang merugikan partai itu sendiri. Banyak efek negatif yang ditimbulkan, misalnya mandeknya kaderisasi partai. Bukan hanya itu, kekhawatiran utama bila saja nanti penguasa terpilih memiliki parlemen yang sebagian anggotanya adalah keluarga dekat, bisa dibayangkan begitu sulitnya melakukan kontrol terhadap kekuasaan.
Lebih dari itu, sebetulnya politik dinasti tidak mencerminkan moralitas demokrasi yang menghendaki adanya ruang kompetisi yang sehat dan fair. Politik dinasti ialah sebentuk nepotisme yang sesungguhnya telah kita tolak dan mencederai semangat reformasi. Semangat kekeluargaan dalam politik lebih banyak menghasilkan praktik politik yang tidak sehat. Argumen nepotisme begitu dekat dengan kolusi dan korupsi hingga kini masih diterima dalam sebagian besar alam pikir publik. Nepotisme cenderung memanfaatkan akses politik tertentu untuk kepentingan orang dekat dan keluarga. Hal demikian tidak bisa diterima karena hanya akan melemahkan demokrasi.
Karenanya, logis bila politik dinasti dalam parpol pada akhir nya hanya akan merugikan partai itu sendiri. Apalagi jika hal tersebut dilakukan tanpa rekrutmen yang benar dan lebih banyak mengedepankan unsur nepotisme. Umumnya ada unsur tidak fair dalam rekrutmen politik dengan modus nepotisme. Efek lainnya, kader partai akan kehilangan motivasi untuk bekerja keras karena semuanya akan dikendalikan orang kuat partai.
Inilah kecenderungan yang saat ini banyak terjadi di negeri ini. Kerabat yang diusung dalam pencalonan sering kali tidak melewati kaderisasi dan rekrutmen yang benar. Apalagi sudah dipahami bersama bahwa kaderisasi di semua parpol peserta belum terbangun dengan baik. Karenanya saat menjelang pemilu legislatif, justru tokoh-tokoh yang memiliki hubungan kekerabatan dengan petinggi partailah yang bermunculan.
Faktanya memang sebagian dari mereka mendapatkan kemudahan dan posisi mapan tanpa kerja keras terlebih dahulu. Di sisi lain, banyak kader partai yang mengabdi dari bawah justru tidak memiliki kesempatan untuk berbuat lebih banyak. Ada banyak alasan dalam peristiwa tersebut yang bisa dikemukakan. Misalnya soal kepentingan bisnis, status quo kekuasaan, sampai dengan aspek kedekatan secara dinasti. Satu-satunya jalan untuk mengendalikan agar politik dinasti tidak menjadi tren dan tabiat politik di negeri ini ialah dengan melakukan kaderisasi partai. Selain itu rekrutmen harus dilakukan secara adil dan merata terhadap semua anggota partai.
 
Penuh kepalsuan
Hal lain yang menarik diungkap dalam `politik caleg’ di negeri ini ialah publik umumnya menilai apa yang dilakukan para calon legislatif itu tak lebih dari sebuah politik kemasan. Politik pencitraan diri yang lahir dalam pertarungan merebut simpati publik. Sebagai sebuah citra, sering kali apa yang tampak bukanlah apa yang sesungguhnya ada. Para caleg berhias diri dan tampil memukau di depan khalayak. Namun, lagilagi publik mempertanyakan apakah janji yang bertebaran dalam berbagai iklan politik itu bukan sebagai sebuah penipuan-–seperti layaknya janji politik yang penuh dengan kepalsuan?
Dalam kenyataannya, sering kali publik hanya disuguhi dengan pertarungan kata tanpa makna yang mendalam. Apa yang tampil tak lebih sebagai sebuah jargon politik, bukan sebagai sebuah visi dan idealisme yang mencerminkan diri elite. Kita bisa memetik pelajaran dari pemilu-pemilu sebelumnya. Para caleg berhias diri dalam gambar partai dan menyatakan diri sebagai sosok paling layak dipilih. Namun pada perjalanan politik sepanjang lima tahun terakhir, jangankan perubahan mendasar yang terjadi dan berpengaruh terhadap kehidupan rakyat secara nyata, justru yang sering terjadi ialah tingkah laku para elite di Senayan yang amat mengecewakan.
Politik `priyayiisme’ itu hidup menggurita di segenap lini pemerintahan dari daerah hingga pusat. Kita hidup dalam sebuah zaman di kala demokrasi, objektivitas, dan rasionalitas disanjung-sanjung, tapi kepatuhan dan keterpaksaan secara tidak masuk akal dipraktikkan. Sebagai elite politik, mereka tak sadar tindak-tanduk dan perilaku mereka selalu menjadi bahan pergunjingan masyarakat. Intinya, rakyat tertipu memiliki wakil rakyat yang demikian. Tertipu dan berulang kali tertipu memiliki pelayan yang suka mencuri uang rakyatnya sendiri. Inilah lingkaran kegelapan yang mewarnai kehidupan politik yang mencerminkan betapa nurani kita sebagai bangsa telah sirna di muka bumi pertiwi ini.
Para elite kita bagai singa sirkus yang lihai memerankan tipu muslihat yang membuai dan menipu penonton. Mereka bagai pemain sulap yang pandai membuat penonton tertawa sekaligus menangis. Mereka pandai menyembunyikan sesuatu `tanpa terlihat’ oleh penonton (tapi penonton sadar bahwa mereka ditipu), dan memperlihatkan sesuatu yang menakjubkan. Buat mereka, berpolitik tak ubahnya seperti memerankan diri sebagai singa yang siap menerkam dengan ganas. Bak pemain sulap itulah, aksi tipu-tipu menjadi konsumsi sehari-hari. Bak pemain sirkus, keganasan politik ditandai dengan maraknya manipulasi nilai-nilai kebenaran.
 
Caleg Berintegritas
Barangkali tidak semua caleg yang memiliki kerabat dengan orang kuat partai merupakan caleg yang tidak berkualitas. Mungkin saja tidak semua caleg yang memiliki kerabat dengan penguasa merupakan sosok yang tidak layak pilih. Namun, yang senantiasa harus dihindari ialah bahwa nepotisme itu bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, sebab sudah menjadi bawaan manusia sejak lahir. Karena itulah kesadaran untuk membuka akses berpolitik selebar-lebarnya dan transparan menjadi tuntutan utama.
Kompetisi untuk menjadi calon anggota legislatif harus dipusatkan pada program yang terukur bagi kemakmuran masyarakat. Dibutuhkan perubahan budaya dan pola berpikir dari para elite politik untuk mengembangkan visi pemerintahan yang jelas fokusnya. Pola berpikir baru untuk mencapai kesadaran dalam mewujudkan cita-cita membangun kesejahteraan bersama sebagaimana dalam cita-cita republik.