Pesan Untuk Hari Raya Waisak 2013 – Dewan Kepausan Untuk Dialog Antarumat Beragama Vatikan

courtesy: antarafoto.com

courtesy: antarafoto.com

DEWAN KEPAUSAN UNTUK

DIALOG ANTAR UMAT BERAGAMA

 

UMAT KRISTIANI DAN BUDDHA: MENCINTAI, MEMBELA DAN MEMAJUKAN HIDUP MANUSIA

 

Pesan untuk Hari Raya Waisak

2013 A.D./2556 B.E.

Para Penganut Agama Buddha yang terkasih,

  1. Mewakili Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, dengan senang hati dan dari lubuk hati, saya mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Waisak. Perayaan ini menjadi kesempatan bagi kami kaum Kristiani untuk membaharui kembali dialog persaudaraan di antara kita, serta membangun kembali kerjasama dengan semua tradisi yang saudara sekalian wakilkan.
  2. Pada awal masa pontifikatnya, Paus Fransiskus kembali menegaskan perlunya dialog antara penganut-penganut dari agama yang berbeda. Beliau mengatakan: “Gereja […] menyadari tanggungjawab kita semua terhadap dunia ini, dan terhadap alam semesta yang perlu kita lindungi. Ada banyak hal yang bisa kerjakan untuk orang miskin, untuk orang yang membutuhkan bantuan, dan untuk mereka yang menderita. Selain itu, kita juga bisa, bekerjasama demi keadilan, guna memperjuangkan rekonsiliasi dan membangun perdamaian.” (Kepada para Wakil Gereja-gereja dan Komunitas-komunitas Eklesial dan Agama-agama, 20 Maret 2013). Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2013 berjudul “Berbahagialah orang yang Membawa Damai,” menegaskan bahwa, “Langkah untuk membangun perdamaian dan kesejahteraan bersama, ditempuh, terutama, dengan menghormati hidup manusia pada setiap tahap perkembangannya, mulai dari saat pembuahan, pertumbuhan, hingga berakhir dengan alami. Maka para pembawa damai yang sejati, adalah orang-orang yang mencintai, membela, dan memajukan hidup manusia dalam segala dimensi, yakni pribadi, komuniter, dan adikodrati. Kepenuhan hidup merupakan puncak dari perdamaian. Siapapun yang mencintai perdamaian tidak bisa mentolerir penyerangan dan tindakan kejahatan yang melawan kehidupan” (Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2013, n. 4).
  3. Dengan tulus hati, saya ingin menegaskan bahwa, Gereja Katolik menghormati tradisi religius saudara-saudara, yang sedemikian luhur. Banyak nilai dalam ajaran Agama Katolik selaras dengan nilai-nilai yang ada dalam buku-buku religius saudara-saudara: yakni hormat terhadap kehidupan, kontemplasi, keheningan, kesederhanaan (bdk. Verbum Domini, no. 119). Dialog persaudaraan kita yang tulus mesti mengembangkan nilai-nilai yang menjadi milik bersama, baik bagi penganut agama Buddha maupun bagi kaum Kristiani, terutama penghormatan terhadap kehidupan.
  4. Sahabat-sahabat Buddha yang terkasih, perintah saudara yang pertama mengajarkan untuk menghindari pemusnahan kehidupan setiap makhluk yang berasa. Dengan demikian, ada larangan untuk membunuh diri ataupun membunuh orang lain. Dasar dari seluruh etika saudara ialah kebaikan hati yang penuh kasih terhadap segala makhluk. Kami, sebagai orang Kristiani, percaya bahwa ada dua hal yang menjadi inti dari ajaran moral Yesus: yakni kasih terhadap Allah dan kasih terhadap sesama. Yesus mengatakan: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku mengasihi kamu; tinggalah di dalam kasih-Ku itu.” Selain itu Yesus juga mengatakan: “Inilah perintah-Ku: yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Katekismus Gereja Katolik, n. 1823). Perintah Kristiani yang kelima, yakni “Jangan membunuh,” benar-benar selaras dengan perintah pertama saudara-saudara. Nostra Aetate menegaskan bahwa “Gereja Katolik tidak menyangkal apa saja yang benar dan suci yang terdapat dalam agama-agama ini” (NA 2). Oleh sebab itu, berdasarkan kekayaan sejati dari tradisi religius kita masing-masing, menurut hemat saya, sudah waktunya pemeluk agama Buddha dan kaum Kristiani menciptakan suasana damai, mencintai, membela, dan memajukan hidup manusia.
  5. Sebagaimana yang kita ketahui, meskipun terdapat ajaran-ajaran tentang kesakralan hidup manusia yang luhur ini, ternyata kejahatan, dalam berbagai bentuk, berusaha untuk mengurangi martabat manusia dengan melemahkan pemahaman tentang kemanusiaan dalam diri pribadi-pribadi dan komunitas-komunitas. Situasi yang tragis ini mendesak kita, baik kaum Buddha maupun Kristiani, untuk bekerja sama guna menyingkapkan semua ancaman terselubung terhadap hidup manusia. Kita juga perlu membangunkan kembali kesadaran etis guna mengembangkan hidup spiritual dan moral umat kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai masyarakat. Dengan demikian, kita semua siap untuk menjadi pembawa damai yang mencintai, membela, dan memajukan hidup manusia, pada segala dimensinya.
  6. Saudara-saudara Buddha yang terkasih, mari kita terus bekerja sama untuk menghidupkan kembali sikap bela-rasa serta persaudaraan guna meringankan penderitaan seluruh umat manusia dengan menjunjung tinggi kesakralan hidup manusia. Dalam semangat inilaj, saya ingin sekali mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Waisak yang penuh kedamaian dan suka cita.

 

Jean-Louis Kardinal Tauran

Ketua

Rev. Miguel Ángel Ayuso Guixot. MCCJ

Sekretaris

(Indonesian Language)

PONTIFICAL COUNCIL FOR INTERRELIGIOUS DIALOGUE

00120 Vatican City

http://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/interelg/index.htm

e-mail : dialogo@interrel.va

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s