Mempertanyakan Visi Pendidikan

buku pelangiOleh : Benny Susetyo, Pr

Kemdikbud menetapkan sasaran penerima kurikulum baru hanya di 6.410 dari sekitar 207.114 sekolah. Dari 6.410 sekolah itu, hanya akan ada 56.113 guru dari sekitar 2,9 juta guru yang akan dilatih untuk menjalankan kurikulum baru. Sedangkan jumlah total siswa 1.535.065 yang akan menerima kurikulum baru negeri dan swasta.

Yang melaksanakan kelas 1, 4 SD, 7 SMP, 10 SMA/SMK. Prioritasnya sekolah eks rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan terakreditasi A.

Kurikulum 2013 menjadi polemik karena banyak yang belum tahu, sosialisasinya minim. Bukan hanya itu, polemik muncul karena perubahan dalam kurikulum tersebut dinilai banyak kejanggalan. Publik juga menilai kebijakan tersebut dibuat tergesa-gesa, tidak disiapkan dengan matang.

Jadi, banyak rencana konseptual dan praktik yang belum jelas. Bahkan dapat dinilai kurikulum akan merugikan pengajar dan siswa. Tak heran bila legislatif pun mengingatkan agar anak didik tidak dijadikan kelinci percobaan. Misalnya, rencana peleburan sejumlah mata pelajaran di jenjang sekolah dasar, banyak pihak menilai sebagai rencana yang sulit diterima. Hal itu justru akan melahirkan masalah di kemudian hari pada tahap implementasi. Pemerintah dinilai terlalu simplifikatif melebur isi pelajaran. Barangkali secara konsep hal itu mudah dilakukan, tapi sulit dalam praktik.

Integrasi mata pelajaran diprediksi tidak berlangsung mulus karena menyangkut berbagai komponen, mulai dari guru sampai kompetensi. Hal tersebut justru akan melahirkan berbagai persoalan di kemudian hari alih-alih cita-cita mengembangkan pendidikan karakter. Bila dilakukan tanpa perencanaan yang matang, hal tersebut akan mengulang kisah-kisah pilu masa lalu pendidikan nasional. Kisah yang menceritakan bahwa berbagai kebijakan pendidikan (termasuk kurikulum) sebagai roh sering kali tidak berfungsi optimal karena minat kekuasaan yang cenderung mengarah pada politisasi daripada bersungguh-sungguh kemajuan bangsa.

Percobaan
Anak didik bukanlah kelinci percobaan dari kebijakan yang problematis seperti perubahan kurikulum. Mereka sudah lelah selalu menjadi kambing hitam berbagai proyek pendidikan yang tidak jelas ujung pangkalnya, dari zaman kemerdekaan hingga kini. Pendidikan belum maju. Bangsa selalu disuguhi, perubahan kurikulum erat dengan politik pendidikan kekuasaan. Ganti penguasa berubah kurikulum. Kurikulum seolah-olah merupakan kebijakan like and dislike yang bisa diterapkan asal-asalan dan mengabaikan hakikat serta visi pendidikan itu sendiri. Di sini muncul pertanyaan, sebentar lagi kekuasaan berubah, bagaimana nasib penerapan kurikulum ke depan?

Karena itulah logis bila legislatif minta agar didiskusikan kembali yang lebih mendalam. Perlu waktu untuk memahami kebijakan ini dan membacanya dalam bingkai pendidikan nasional. Visi dan misi pendidikan nasional jangan tercabut hanya karena keinginan yang dipaksakan demi politik kejar target. Dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan krusial seperti ini, tak boleh terburu-buru menerapkan. Pemerintah harus berbesar hati, jangan malu untuk menunda implementasi kurikulum 2013 karena persiapan dan sosialisasi belum maksimal.

Tujuan memperdalam pendidikan karakter sebagaimana kerap diungkap pemerintah terkait kurikulum ini perlu diapresiasi. Namun, harus memperhatikan berbagai aspek pendidikan. Bila tidak, justru akan melahirkan masalah baru. Problem selama ini bukan semata-mata soal kurikulum, tapi paradigma pendidikan yang kerap mengabaikan upaya memanusiakan manusia. Pendidikan hanya berkutat pada kapitalisasi, ketimpangan, dan eksploitasi anak didik sehingga mereka sekadar menjadi tukang.

Pendidikan harus mampu memanusiakan manusia, membebaskan dan meniadakan dehumanisasi. Pendidikan menjadi usaha pemanusiaan secara terus-menerus. Namun, bila pendidikan dalam bangsa ini hanya menjadi instrumen kekuasaan politik, bagaimana niat mulia pengembangan karakter bisa dicapai? Pendidikan yang terlalu banyak didikte kekuasaan politik hanya akan menghasilkan manusia yang pandai ikut-ikutan seperti robot.

Dunia pendidikan menjadi karut-marut, tidak tentu arahnya. Bila elite berpikir sempit dan jangka pendek, pendidikan akan musnah. Memajukan pendidikan adalah sebuah pekerjaan panjang. Kebiasaan berpikir jangka pendek telah membutakan mata hati dan membelokkan arah pendidikan.

Pertama-tama, perlu mengubah paradigma guru sebagai teman dan rekan siswa. Mereka harus mampu member alternatif saat menemukan masalah. Guru bukan hanya mentransfer ilmu. Dia harus bisa memberi teladan. Masalahnya, guru tidak lagi memiliki ilmu mendidik karena hanya menjadi mentor. Ini harus dibenahi dulu agar guru berkualitas dalam pendidik. Dengan begitu, perubahan kurikulum tidak masalah.

Pendidikan tecermin dari kebijakan dalam memberi fasilitas terbaik bagi warga. Keberhasilan utama pendidikan mampu sosialisasi arti penting sekolah bagi masyarakat. Setiap orang tua berjuang keras agar generasinya mengenyam pendidikan. Mereka tidak mau melihat anak menjadi kuli seperti dirinya, termasuk mereka yang tinggal di pedalaman. Setiap hari anak-anak berjalan kaki berkilo-kilometer ke sekolah agar maju dan memiliki kehidupan lebih baik dibanding orang tua.

Meski demikian, keberhasilan membangkitkan motivasi pendidikan justru tak sebanding dengan perhatian pemerintah yang gagal memberi fasilitas dan kemudahan bagi para murid untuk menempuh pendidikan. Hiruk-pikuk yang menyedihkan pada saat awal-awal ajaran baru sekolah dimulai merupakan bukti bahwa negara kehilangan kekuatan memberi yang terbaik buat warga. Itu tecermin dari perilaku elite. Mereka merasa sadar pendidikan, tapi tidak sikapnya melemahkan arti pendidikan. Indonesia membutuhkan visi pendidikan yang terarah. Ini hanya bisa terjadi bila ada kemauan politik.

Advertisements

One thought on “Mempertanyakan Visi Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s