Saatnya Kita Selamatkan Bumi Ini: Refleksi Hari Bumi

oleh Romo Benny Susetyo*

earth-day-5Rs

Menurut perkiraan World Bank, kerusakan  hutan  di  Indonesia  antara 700.000 sampai 1.200.000 ha per tahun, di mana deforestasi yang dilakukan oleh peladang berpindah ditaksir mencapai separuhnya. Namun, World Bank mengakui bahwa taksiran laju deforestasi didasarkan pada data yang lemah. Sedangkan menurut FAO, menyebutkan laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 1.315.000 ha per tahun atau setiap tahunnya luas areal hutan berkurang sebesar satu persen (1%). Berbagai LSM peduli lingkungan mengungkapkan kerusakan hutan mencapai 1.600.000 – 2.000.000 ha per tahun dan lebih tinggi lagi data yang diungkapkan oleh Greenpeace, bahwa kerusakan hutan di Indonesia mencapai 3.800.000 ha per tahun yang sebagian besar adalah penebangan liar atau illegal logging. Sedangkan ada ahli kehutanan yang mengungkapkan laju kerusakan hutan di Indonesia adalah 1.080.000 ha per tahun. Data menunjukkan pelestarian  hutan  menjadi amat penting  untuk menjaga paru  dunia. Realitas perilaku kita kurang menyadari pentingnya melesatrikan lingkungan sebagai  bentuk  kepedulian kita  bagi kelangsungan eksistensi  bumi ini.

Menyadari  hal ini,  Konferensi Waligereja  Indonesia  mengeluarkan  sebuah Nota Pastoral yang berjudul “Keterlibatan Gereja dalam melestarikan keutuhan ciptaan”. Seruan ini  mengajak semua orang beriman untuk terlibat secara aktif  menyelamatkan  alam cipta  dengan gerakan pelestarian lingkungan hidup. Atas dasar itu maka perhatian terhadap keselamatan lingkungan dan menanamkan sejak dini kesadaran lingkungan sangat perlu dilakukan. Hal itu yang dilakukan dalam sidang para uskup dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan menegaskan kembali komitmen Gereja Katolik untuk terlibat dan bertanggung jawab dalam penyelamatan lingkungan hidup. KWI menyatakan keprihatinan atas kerusakan lingkungan hidup yang makin parah dewasa ini.

Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2013  berjudul: Keterlibatan Gereja dalam Melestarikan Keutuhan Ciptaan. Dengan memilih judul tersebut, Gereja ingin mengajak seluruh umat Katolik untuk memberi perhatian, meningkatkan kepedulian dan tindakan partisipatif dalam menjaga, memperbaiki, melindungi dan melestarikan keutuhan ciptaan dari berbagai macam kerusakan. Nota Pastoral ini dimaksudkan sebagai bahan pembelajaran pribadi atau bersama bagi seluruh umat dan siapapun yang mempunyai kepedulian terhadap masalah-masalah lingkungan hidup dan usaha-usaha untuk menjaga, memperbaiki, melindungi dan memulihkannya.

KWI melihat tata kelola keadaban lingkungan merupakan persoalan besar bangsa ini. Setiap hari kita menyaksikan hutan, bumi serta alam semesta dirusak dan diekspolitasi. Hutan dan sumberdaya alam lainnya di kawasan Kalimantan, Sumatera, dan Papua menjadi saksi sebuah tata kelola lingkungan yang tidak menyentuh harkat dan martabat manusia. Gereja menyadari rusaknya keadaban lingkungan ini sebagai sebuah cermin nilai kemanusiaan yang makin merosot. Berbagai bencana alam terjadi karena seringnya kesalahan cara pandang manusia terhadap alam. Dalam melihat dan memperlakukan alam kita sering menggunakan cara pandang antroposentris. Pandangan antroposentris menempatkan manusia sebagai pusat dari alam, bahkan dipahami sebagai penguasa atas alam yang boleh melakukan apapun.

Sejauh ini Gereja sudah lama menaruh keprihatinan atas masalah lingkungan yang berakibat buruk pada manusia. Paus Paulus VI dalam Ensiklik Populorum Progressio (1967, No. 12) sudah mengingatkan semua pihak bahwa masyarakat setempat harus dilindungi dari kerakusan pendatang. Begitu pula Paus Yohanes II dalam Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis (1987, No. 34) yang menekankan alam ciptaan sebagai kosmos tidak boleh digunakan semaunya dan pengelolaannya harus tunduk pada tuntunan moral. Dampak pengelolaan yang tidak bermoral tidak hanya dirasakan manusia saat ini, juga generasi mendatang. Lalu selanjutnya Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Caritas in Veritate (2009, No. 48) juga menyadarkan bahwa alam adalah anugerah Allah untuk semua orang. Karenanya harus dikelola secara bertanggung jawab bagi seluruh umat manusia.

Dalam pesan pastoral tahun ini, kepada kalangan pebisnis, KWI berpesan tidak hanya mengejar keuntungan ekonomis, tetapi juga keuntungan sosial. Manfaat sosial itu berupa terpenuhinya hak hidup masyarakat setempat dan adanya jaminan bahwa sumber daya alam akan tetap cukup tersedia untuk generasi yang akan datang. Gereja berharap agar gerakan ekopastoral ini menjadi bagian penting untuk memperbaiki sikap manusia terhadap alam. Gereja Katolik Indonesia menaruh perhatian besar pada masalah lingkungan. Gereja melakukan banyak usaha seperti edukasi, advokasi dan negosiasi dalam mengatasi perusakan lingkungan yang masih berlangsung.

Batas Keseimbangan Alam

Alam memiliki batas-batasnya sendiri. Ketidakseimbangan alam yang ditandai dengan berbagai bencana di berbagai tempat menjadi refleksi serius Gereja tahun ini. Gereja menyadari kehancuran lingkungan hidup merupakan buah dari sistem ekonomi yang dijalankan dalam semangat penuh keserakahan. Tuhan menciptakan alam semesta untuk diolah demi terciptanya kesejahteraan bersama. Alam perlu diolah dan dimanfaatkan dalam batas-batas kewajarannya. Namun kenyataannya watak rakus penguasa dan pengusaha justru sering mengabaikan keseimbangannya.

Mereka menghabiskan kekayaan alam hanya untuk memperkaya dirinya sendiri. Dampaknya, manusia bukan hanya mudah terkena bencana, melainkan juga karena mereka sedikit demi sedikit mulai terasing dari alam semesta.Kini manusia mulai kehilangan dayanya untuk mengembalikan alam sesuai dengan keseimbangannya. Alam telah dirusak oleh watak manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri serta generasinya sendiri tanpa memikirkan yang akan datang. Di negeri ini, begitu jelas batas kewajaran alam sering dirusak pula melalui upaya sistematis kebijakan publik yang hanya berpikir jangka pendek. Negara tak lagi memikirkan untuk apa semua dilakukan kecuali hanya untuk kepentingan politik jangka pendek. Hutan Indonesia yang menjadi tumpuan dunia untuk bisa bertahan lebih lama semakin hari semakin keropos. Kenyataan ini didukung oleh lemahnya penegakan hukum atas setiap penyelewengan yang terjadi.

Alam tidak lagi bersahabat dengan manusia saat keseimbangannya diluluhlantakkan atas nama pertumbuhan ekonomi. Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi setiap saat, tidak pernah menjadi pengingat yang baik, bahwa hal tersebut terjadi karena satu-satunya alasan yang valid, yakni ketika alam tidak lagi dihargai keseimbangannya. Saat alam diperas kekayaannya hanya untuk kepentingan politik ekonomi kaum tertentu.

Saat ini kita sudah berkali-kali merasakan akibat atas murkanya alam ini. Tapi kita tidak pernah memahami dengan sungguh-sungguh. Beberapa tahun yang akan datang, dampak yang lebih hebat atas kemurkaan alam ini jelas akan datang bila tidak ada langkah kongkrit, reflektif dan menyadari sepenuh hati dalam bentuk kebijakan yang berwawasan lingkungan.

Gereja Katolik Indonesia telah melakukan berbagai upaya nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Upaya-upaya itu antara lain edukasi yaitu menyadarkan umat akan pentingnya lingkungan hidup untuk keberlangsungan hidup semua ciptaan termasuk manusia; advokasi yaitu membantu dan mendampingi para korban kerusakan lingkungan hidup agar mendapatkan kembali hak hidupnya secara utuh; negosiasi  yaitu menjadi penghubung antara masyarakat dengan pemerintah dan pelaku usaha, menyangkut kebijakan dan pemanfaatan sumber daya alam agar tidak memiskinkan masyarakat. Gereja telah berusaha melakukan berbagai gerakan di lingkup keuskupan, paroki, sekolah, biara, komunitas basis, kelompok kategorial  dan bersama dengan masyarakat umum lainnya. Namun kerusakan lingkungan hidup terus saja terjadi, bahkan dari waktu ke waktu semakin meningkat.

*Penulis adalah Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) KWI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s