Gereja yang Berdialog dengan Umat Beriman Lainnya

Oleh : Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ

Image

Pengantar

  • Harian Kompas tanggal 16 Januari 2013, halaman 5 menurunkan tulisan berjudul “Hargai Perbedaan”. Yang dimaksudkan ialah agar kita menghargai perbedaan agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia. Abdul Mu’ti, sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam diskusi bersama tokoh-tokoh lintas agama yang mengangkat tema “Menggugat Peran Negara dalam Menjamin Kemerdekaan Beragama” pada tanggal 15 Januari 2013 di Jakarta menegaskan bahwa Indonesia berwajah dua dalam masalah agama. Dari satu pihak ada wajah kerukunan antarumat beragama yang cukup baik didukung oleh dialog antar tokoh-tokoh lintas agama dan kepercayaan; di lain pihak, belakangan ini diwarnai oleh pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan lain. Lebih mengejutkan bahwa aktor kekerasan itu justru melibatkan aparatur negara seperti kepolisian, pemerintah daerah dan camat. Abdul Mu’ti menarik kesimpulan bahwa mengembangkan kehidupan yang harmonis di tengah kemajemukan masyarakat tidak cukup dengan mengandalkan peraturan. Penghargaan atas suku, etnis, atau agama harus benar-benar diterapkan secara nyata dengan basis masyarakat sehingga menumbuhkan wawasan teologi, politik, kepribadian, dan perilaku sehari-hari.

Dialog kehidupan sebagai awal

  • Yang ingin diberi bobot dalam usaha membangun kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat majemuk, bukan peraturan-peraturan pemerintah yang makin diperbanyak. Peraturan yang ada, bahkan ideologi Pancasila yang menjadi dasar hidup bermasyarakat dan bernegara saja kurang ditaati bahkan oleh mereka yang seharusnya menjamin pelaksanaan cita-cita luhur tersebut. Pendekatan dari atas tidak dapat diandalkan dan tidak cukup. Sangat penting membangun dari bawah.
  • Anjuran ini mirip dengan apa yang di lingkungan Gereja kita, disebut dengan nama “dialog kehidupan”, berbasis kehidupan nyata di tengah masyarakat. Dialog macam ini yang dapat menumbuhkan pandangan atau wawasan hidup yang mendasari sikap dan perilaku sehari-hari, perilaku sosial, ekonomi, dan politik. Pendekatan dari bawah ini mendukung berhasilnya pendekatan dari atas dan menjamin kualitasnya. Nilai-nilai kebersamaan dalam hidup nyata itulah yang sebaiknya diangkat dan diberikan lewat pendidikan sekolah bersama dengan nilai-nilai universal yang dapat dikumpulkan dari ajaran agama manapun, tak terkecuali nilai-nilai hidup yang dijunjung tinggi oleh budaya setempat untuk membangun budi pekerti yang luhur, yang akan mempengaruhi perilaku sosial, ekonomi, dan politik. Dari basis masyarakat yang sama hendaknya dikembangkan oleh tokoh-tokoh agama berwawasan teologis yang mempengaruhi sikap dan perilaku yang sedang dikembangkan dalam masyarakat tersebut. Sekolah menyumbang bagi tumbuhnya pribadi yang religius (bukan beragama), bersaudara, memiliki rasa tanggungjawab tinggi bagi kesejahteraan sesama. Soal pengetahuan agama dapat diberikan dalam taraf pengetahuan, tetapi penghayatan agama yang khas sesuai ajaran agamanya terpulang pada tanggungjawab orangtua dan komunitas serta pimpinan agama masing-masing.

Dialog berbasis saudara sewarga

  • Dalam hidup bersama semacam itu, Gereja yang dalam dialog kehidupan, diharapkan sungguh menyatu dengan  masyarakatnya yang tentu terdiri dari mereka yang berkeyakinan lain; demikian pula masyarakat diusahakan bersama menyatu dengan semua warga Gereja tanpa kecuali, karena sama-sama warga masyarakat. Dengan kata lain, Gereja “manjing ajur-ajer” tanpa kehilangan identitasnya. Demikian pula mereka yang berkeyakinan lain. Di situ Gereja bersama dengan mereka yang berkeyakinan lain sama-sama menjadi garam yang mengasinkan dan terang yang menerangi kegelapan masyarakat, karena baik dari Gereja maupun dari umat beriman lain menyumbangkan cara hidup yang baik, jujur, dan adil, sesuai iman mereka. Dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat yang terdiri dari macam-macam umat beriman lainnya tersebut, setiap orang Katolik diharapkan mengusahakan diri untuk mencintai dan dicintai, menjalin persaudaraan dengan tetangga-tetangga dekat dan lingkungannya sampai kehadirannya dihargai dan kalau ada apa-apa selalu dilibatkan. Ciri keberhasilan antara lain: Kalau tidak dapat hadir disayangkan dan dirindukan, ditanyakan mengapa tidak dapat hadir. Kehadirannya membawa kegembiraan dan semangat. Tidak hanya awam Katolik, tetapi para pastor, bruder, dan suster hendaknya mengembangkan diri menjadi tokoh masyarakat setempat yang dicintai. Sebaliknya, orang Katolik menjadikan peristiwa yang menyangkut keluarga: pernikahan, kelahiran anak, kematian, dan lain-lain menjadi peristiwa masyarakat setempat dan mengundang keterlibatan mereka.
  • Dari dialog kehidupan yang tidak memperhitungkan perbedaan iman dan kepercayaan, tetapi melulu berbasis pada kesamaan hidup sebagai warga masyarakat macam ini, dapat dengan mudah dan subur dikembangkan menjadi dialog-dialog yang lebih mendalam, yaitu berdasarkan perbedaan iman. Dialog semacam ini akan berhasil kalau dasarnya tetap, yaitu sikap bersaudara sebagai sesama warga masyarakat, saling menghormati dan dalam dialog melulu terdorong oleh kasih ingin tahu lebih lanjut mengenai penghayatan hidup saudara-saudarinya sewarga RT/RW yang beriman lain tadi. Tak ada perdebatan, yang ada adalah pertanyaan untuk memahami lebih lanjut. Kalau ini berhasil, maka terjadilah relasi kasih yang mendalam antar umat beriman yang berbeda ini. Dimungkinkan pula yang satu belajar dan menerima apa yang memang baik, benar, dan suci. (Bdk. NA 2). Kita mengimani bahwa Roh Kudus berkarya dalam masyarakat lewat hati nurani umat beriman dan berkeyakinan lain, agar peziarahan hidup kita bersama menuju tujuan akhir menjadi makin sempurna.

Berdialog sifat hakiki Gereja

  • Gereja hasil Konsili Vatikan II memang menyadari diri sebagai Gereja yang berdialog dengan umat manusia, berdialog dengan dunia dalam berbagai permasalahan hidupnya. Itulah sebabnya dalam Konstitusi Dogmatis “Gaudium et Spes” Gereja menampilkan diri sebagai Gereja yang menyatu dengan suka duka umat manusia, karena tak ada sesuatu yang sungguh manusiawi yang tak bergema di hati (bdk. GS 1). Maka Gereja adalah Gereja yang berdialog dengan semua kenyataan yang ada di dunia, baik itu tatanan sosial, ekonomi dan politik maupun kebudayaan, tradisi-tradisi cara hidup, agama, dan aliran kepercayaan. Tentu saja, secara khusus berdialog dengan Gereja-Gereja untuk memulihkan kesatuan umat Kristiani sendiri. Gerakan ini disebut gerakan Ekumenis. Tujuan berdialog yang menyeluruh tadi antara lain untuk memperkokoh persaudaraan seluruh umat manusia. Gereja menyadari diri diutus untuk menjadi “tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia.” (LG 1)

Dialog dengan umat beriman lain

  • Menyadari pentingnya dialog dengan umat beragama dan kepercayaan lain, yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) hanya memiliki sati Komisi saja, yaitu Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (Komisi HAK KWI). Ini juga memudahkan dalam kerja sama dengan pemerintah yang mengakui 6 agama secara sejajar, yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Kegiatan khusus dengan Gereja-Gereja Kristen (umpama mebuat Surat Gembala Natal setiap tahun), tidak diwadahi dalam komisi tersendiri dengan nama sendiri, umpama Ekumene. Kegiatannya dilaksanakan oleh Komisi HAK.
  • Keuskupan Agung Semarang telah menyampaikan Surat Gembala Hari minggu HAK 2013 dengan tema “Beriman Mendalam dan Tangguh Melalui Dialog Ekumenis dan Interreligius”. Komisi HAK Keuskupan Agung Semarang telah memberikan panduan-panduannya. Kita diharapkan berdialog dengan umat Kristen (ekumenis) dan umat beragama dan berkeyakinan lainnya (interreligius) yakni umat Islam, Hindu, Budhha, Konghucu, dan aliran kepercayaan lainnya, untuk “memberdayakan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD), serta merawat lingkungan yang rusak dan hancur.” (bdk. Surat Gembala). Gerakan Ekumenis yang sudah lama terwujud dalam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani, sekaligus dijadikan kesempatan mengajak umat Katolik berdialog dengan umat beragama dan kepercayaan lainnya pada Hari Minggunya. Sehingga Surat Gembala berjudul Surat Gembala Hari Minggu HAK, tetapi temanya tentang “Doa untuk Persatuan Umat Kristiani” dan dialog interreligius, dengan sasaran sama, yaitu “memberdayakan” kaum KLMTD.
  • Kalau ini akan dijadikan gerakan yang berkesinambungan dan disegarkan lagi setiap ada acara Pekan Doa Sedunia tanggal 18-25 Januari, dengan Hari Minggu HAK, dapat dipikirkan pelaksanaan sebagai berikut. Kita dapat bersama semua pihak yang memakai gerakan “dialog kehidupan” seperti telah diuraikan sebelumnya, dengan program bersama, bagaimana mengentaskan kaum KLMTD. Untuk mendukung usaha tersebut, umat Katolik, Kristen dan Ortodoks dapat mengadakan “dialog ekumenis” dari Pekan Doa Sedunia, dalam rangka menyinari kegiatan bersama sesuai iman kristiani. Dalam kebersamaan dengan umat beragama lainnya (Bdk. Surat Gembala Hari Minggu HAK), umat Katolik bersama dengan umat yang berkeyakinan lain meneguhkan usaha memberdayakan KLMTD, mengangkat nilai-nilai luhur dari sisi keyakinan masing-masing. Umat Katolik sendiri tentu diperdalam oleh semangat Nostra Aetate (bdk. Surat Gembala Hari Minggu HAK).

Dialog ekumenis dan interreligius

  • Dengan demikian, “Dialog dengan umat beriman lainnya” dapat dibagi dua besar, yaitu satu: dialog dengan umat Kristen atau dialog ekumenis. Untuk dialog ekumenis ini, Konsili Vatikan mengeluarkan dua dokumen, yaitu Dekrit tentang Gereja-GerejaTimur Katolik, 21 November 1964 dan Dekrit tentang Ekumenisme bernama “Unitatis Redintegratio” dengan tanggal sama: 21 November 1964. Secara khusus, baik kita memberikan perhatian khusus kepada Gereja Timur Katolik atau Gereja Ortodoks yang terpisah dari Roma tahun 1054 ini. Mereka yang berasal dari cabang Yunani sudah hadir di Indonesia, yaitu di jakarta, Solo, Boyolali, Yogyakarta, Cilacap, dan Mojokerto (Bdk. Kompendium Konsili Vatikan II, oleh Komisi Teologi KWI (2012), hal. 250. Yang kedua, dialog dengan umat bukan kristiani dengan Pernyataan “Nostra Aetate” (28 Oktober 1965) tentang hubungan Gereja Katolik dengan umat beragama lain. Kecuali disebut mengenai hubungannya dengan umat Hindu dan Buddha, secara khusus disebut dengan nomor tersendiri: yaitu hubungannya dengan umat Islam dan Yahudi.
  • Meski sama-sama dijadikan rekan atau pasangan dialog, namun kedudukan umat yang beriman kristiani lain dengan kedudukan umat beriman bukan kristiani. Sifat dan isi dialognya banyak berbeda. Ketika Gereja Indonesia pada suatu kunjungan resmi ke Vatikan melaporkan bahwa di Indonesia (waktu itu) ada lima agama yang diakui pemerintah yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha, kami ungkapkan kebanggaan kami bahwa kami memiliki Komisi HAK KWI yang menjamin adanya usaha-usaha dialog antaragama dan kepercayaan. Saat itu kami diberi catatan agar tidak menyamakan kedudukan Gereja-gereja Kristen dengan agama-agama lainnya. Memang benar, dialog kita dengan saudara-saudara dari Gereja Kristen adalah dialog ekumenis, dialog antara Gereja serumpunlah, karena memiliki asal-usul sama, yaitu Gereja pada jaman para rasul. Bahkan dapat dikatakan dialog antar-sesama sudara yang sama-sama mengimani Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dan memiliki Kitab Suci yang sama. Meskipun demikian, KWI tidak membuat struktur baru membedakan dua kegiatan ekumenis dan interreligius (agama-agama dan keyakinan bukan kristiani). Komisi HAK sendiri sadar, tahu dan dalam kegiatannya sudah membedakan mana yang menjadi kegiatan ekumenis dan yang interreligius. Di Assisi, Paus Yohanes Paulus II telah mempelopori mengadakan doa bersama dengan semua tokoh agama pada tanggal 28 Oktober 1986 dan diulangi oleh Paus Benedictus XVI dalam memperingati 25 tahun peristiwa penuh makna tersebut. Semoga kita makin bersatu dan bersaudara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s