Gereja (Yang) Berdialog

Oleh : Aloys Budi Purnomo, Pr

Yang dimaksud dengan “Gereja” dalam konteks ini adalah Gereja Katolik Roma. Dengan siapa Gereja berdialog?

Secara teori, sekurang-kurangnya tiga level bisa disebut. Pertama, Gereja berdialog dengan agama-agama lain, termasuk di dalamnya agama-agama asli atau sering disebut aliran Kepercayaan. Inilah yang disebut dengan dialog interreligius.

Kedua, Gereja berdialog dengan Gereja-Gereja Reformasi, atau sering kita sebut Gereja-Gereja Kristen Protestan, dengan segala denominasinya, entah yang masuh dalam arus main-stream; entah yang masuk dalam kelompok Pentakostal. Inilah yang disebut dengan dialog ekumenis. Termasuk di dalamnya adalah dialog dengan Gereja-Gereja Ortodoks dan Anglikan.

Ketiga, Gereja berdialog dengan kebudayaan-kebudayaan dan realitas kemiskinan yang mewarnai kehidupan umat manusia. Ada beragam dan begitu banyak kebudayaan yang terbentang di seluas dunia sepanjang masa. Demikian pula dengan realitas kemiskinan!

Secara teologis, ketiganya disebut sebagai “trianggel dialog” atau “dialog tiga sayap” atau “dialog tiga matra”. Masing-masing menggunakan metode dan pendekatannya sendiri sesuai dengan “intentio dantis” (=maksud dan tujuannya)-nya.

Ketiganya mempunyai landasan dalam dokumen Konsili Vatikan II. Pertama-tama adalah Lumen Gentium sebagai landasan dogmatis. Kedua, Orientalium Ecclesiarum (Gereja-Gereja Timur) dan Unitatis Redintegratio (Gereja-Gereja Kristen Protestan) dalam rangka dialog ekumenis serta Nostra Aetate (Dialog dengan Agama-Agama Non-Kristiani) dalam rangka dialog interreligius. Akhirnya, Gaudium et Spes dalam rangka dialog dengan dunia serta realitas kemiskinan yang terdapat di dalamnya.

Untuk apa Gereja berdialog? Pertama-tama, dialog dan kerjasama dilakukan dalam rangka saling menghargai dan menghormati indahnya keberagaman sebagai realitas yang tak terbantahkan! Menurut ajaran para Bapa Konsili Vatikan II, Gereja tidak menolak apa pun yang baik, benar, dan suci yang ada dalam agama-agama dan kebudayaan lain. Gereja juga mengakui bahwa meskipun dalam banyak hal terdapat perbedaan, namun dalam agama-agama dan kebudayaan itu terdapat kebenaran yang menyinari semua orang (lihat Lumen Gentium 16 dan Nostra Aetate 2).

Kedua, dialog bertujuan untuk menyatakan kesetiakawanan Gereja bagi mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Kegembiraan dan harapan dunia adalah kegembiraan dan harapan Gereja juga (bdk. Gaudium et Spes 1).

Ketiga, dialog merupakan kesempatan untuk memberikan kesaksian tentang perihidup Krstiani! Maka dialog tidak dalam rangka “mempertobatkan”, melainkan dalam rangka “menghadirkan” wajah Gereja di tengah kebersamaan dan keberagaman.

Jadi, tujuan utama Gereja berdialog adalah untuk merajut kehidupan yang lebih bersaudara, harmonis, adil, dan sejahtera! Dan Gereja yang berdialog itu tidak lain adalah kita, seluruh orang beriman Katolik, mulai dari Paus, Uskup, Imam, Diakon, Biarawan-Biarawati, dan Umat Awam! Singkatnya, Gereja yang berdialog adalah saya dan Anda, baik secara pribadi (individual) maupun bersama (eklesial)! Selamat berdialog!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s