“PANGLING…!”

Menjadi kebiasaan yang sederhana bagi Timin, setiap memasuki Masa Prapaskah, dia sengaja tak membersihkan kumis dan jenggotnya. Wajahnya dibiarkan kumuh! Ini tampaknya memang tak “Injili” (sesuatu dengan Injil). Injil mewartakan Sabda Tuhan, “Apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu” (Mateus 6:17). Dalam meminyaki kepala dan mencuci muka, itu memang dilakukan Timin. Namun, dalam hal mencukur jambang, kumis dan jenggot, itu tidak dilakukan. Justru itulah yang menjadi pantangnya, yaitu pantang “narsis” dengan tak mencukur jambang, jenggot, dan kumis!

Itulah sebabnya, sejak Rabu Abu hingga Rabu menjelang Kamis Putih, Timin tampak “digitek” alias “dhiwut-dhiwut nggilani dan lethek” (kalimat dalam bahasa Jawa itu berarti kumuh dan menjijikan). Ya, begitulah, setiap orang memang mempunyai cara masing-masing untuk menghayati Masa Prapaskah, masa pantang dan puasa. Ada yang selama Masa Prapaskah tidak makan kerupuk, tampaknya sederhana, tetapi begitulah yang bersangkutan mengalami perjuangan untuk tidak menikmati yang gurih dan enak, krupuk!

Timin lain. Dia menghayati masa padang gurun dengan membiarkan jambang, jenggot, dan kumisnya tumbuh liar seliar binatang-binatang di padang gurun. Apa ndak risih? Ya pastinya demikian! Risih, kelihatan jelek, item, dan kumuh!

Gara-gara itulah, terjadilah peristiwa ini. Sister Laura PI, yang sehari-harinya mengenali Timin dengan wajah bersih, karena baru pertama kali melihat Timin berwajah “digitek” tersebut, dia pun tak mengenali Timin. Bahasa Jawanya: Pangling! Saat melihat Timin, malah dikira orang asing, orang lain!

Pagi itu, rupanya, Suster laura PI melihat Timin sedang berdoa di sakristi mempersiapkan diri mempersembahkan Perayaan Ekaristi. Sr. Laura PI bermaksud meminta hosti kepada Pak Andreas, Koster Gereja Kebon Dalem. Melihat sekilas penampilan Timin, membuat Sr. Laura PI bertanya-tanya, “Siapakah gerangan Rama itu?” Maka, saat berjumpa Rm. Hantara Pr yang hendak memimpin Perayaan Ekaristi di Susteran, Sr. Laura PI bertanya, “Loh, Rama, yang pimpin Misa di gereja siapa?”

“Rama Timin….” Jawab Rm. Hantara. “Ah, ndak mungkin! Tadi saya lihat di sakristi yang sedang bersiap-siap Rama lain kok. Berjengkot, berkumis, kelihatannya seorang pertapa loh!” bantah Sr. Laura. “Lah itu Rama Timin, Suster…” jelas Rm. Hantara. “Ah, ndak mungkin! Rama Timin kan ndak berjenggot dan berkumis!” bantah Sr. Laura.

Perbantahan pun masih berlanjut hingga usai Misa saat mereka di ruang makan hendak sarapan! Para Suster lain hanya bisa ternganga. Apa boleh buat, namanya juga pangling! Itulah kemudian yang diceritakan oleh Rm. Hantara kepada Timin dan kemudian menjadi kisah ini.

Sesudah kebangkitan-Nya, para murid pun pangling saat berjumpa dengan Yesu! Ya kan? Dalam Lukas 24:35-48 Tuhan bahkan dikira hantu! (Timin)

Sumber : Majalah INSPIRASI, edisi No. 104 Tahun IX April 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s