“KIWI…, KIWI…!”

Adegan ini terjadi saat closing ceremony, upacara penutupan acara Regional Interfaith Dialogue (RID) di Grand Candi Hotel, Semarang, Kamis 15 Maret 2012. RID sendiri berlangsung sejak 11 Maret 2012. RID diikuti oleh 120 peserta dari 14 negara Asia-Pasifik, antara lain yang masih saya ingat, peserta datang dari Australia, Selandia Baru, Timor Leste, Singapura, Filipina, Vietnam, Kamboja, Myanmar, Brunei Darussalam, Thailand, Fiji, Laos, Papua New Guinea, dan Republik Indonesia. Ini merupakan RID ke-6.

Masing-masing negara datang dengan membawa emblem dan simbol masing-masing. Misalnya, dari Australia, para peserta mengenakan emlem Kanguru, yang merupakan ciri khas Australia. Demikian pula dengan Selandia Baru, para peserta mengenakan embkem Kiwi, yang merupakan salah satu jenis burung kecil yang dilindungi di Selandia Baru.

Saat kami berbincang-bincang di depan ruangan yang akan dipergunakan untuk upacara penutupan RID ke-6, seorang peserta dari Selandia Baru mengenakan emblem Kiwi di bajunya. Rama Agustinus Surya Nugraha Pr –salah satu delegasi Republik Indonesia bersama saya- bertanya kepadanya, “What is this? Is this Kanguru?” “No, this is Kiwi!” jawabnya. “Kiwi is a little protected bird in New Zealand!” lanjutnya.

“Oh, we have also Kiwi in Indonesia!” sahutku.

“Ya, di jalan-jalan sering terdengar suaranya… kiwi… kiwi…” sahut Prof. Dr. Ida Bagus Gunadha dari Bali sambil memoncongkan bibirnya, lalu mengatakan lebih lanjut, “Itu mah bukan kiwi… kiwi…, tapi kiri… kiri… Goblok!” Semua yang mendengarnya tertawa dengan plesetannya itu. Saya mencoba menerangkan kepada delegasi dari Selandia Baru bahwa itu sebuah joke. Dia tersenyum…

Sesampai di dalam ruangan, ternyata, para delegasi dari berbagai negara itu duduk dalam satu baris bangku yang tersedia. Salah satunya, rombongan peserta dari Selandia Baru. Nah, terjadi adegan lain. Melissa Lee, ketua rombongan dari Selandia Baru hendak memotret teman-temannya. Untuk memanggil teman-temannya agar memandang ke arah kamera yang dia pegang, Melissa berseru, “Kiwi… Kiwi…!” Dan spontan peserta dari Selandia Baru pun mulai bergaya sambil memandang kamera, lalu… klik! Mereka terpotret.

Lagi-lagi, Rm. Surya dan saya yang mendengar dan melihat itu tertawa. Rm. Surya sempat nyelethuk, “Ngawur…, manggil teman-temannya kok Kiwi…” Saya menjawab, “Itulah kode panggilan rombongan…. Buktinya, mereka langsung bersiap-siap untuk dipotret!”

Atas adegan itu, saya jadi teringat sabda Yesus, “Akulah gembala yang baik, Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku…” (Yohanes 10:14). Syukurlah kalau kita menjadi domba-domba yang mengenal suara-Nya… (Timin)

 

Sumber : Majalah INSPIRASI edisi No. 92 Tahun VIII April 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s