Disorientasi Politik

Romo Benny Susetyo*

Terkuaknya berbagai kasus korupsi di negeri ini menunjukkan wajah politik kita yang semakin memburuk. Berbagai mega-skandal korupsi menunjukkan bahwa pemerintahan yang selama ini mencitrakan diri sebagai “bersih” dan “pemberantas koruptor” sama sekali tak terbukti.

Wajah peradaban politik semakin suram karena korupsi yang tampak dibiarkan dan tidak dianggap sebagai masalah serius. Terutama ketika bagian utama kekuasaan justru berada sangat dekat dengan skandal tersebut.

Semua serba-ditutupi, dipolitisasi, direkasaya, dan bahkan masih dicitrakan sedemikian rupa agar tampak baik-baik saja. Seperti yang terjadi di era Orde Baru, korupsi yang berada dekat di areal kekuasaan tak bisa disentuh hukum. Keadilan pun perlahan-lahan mati.

Sungguh aneh, masalah korupsi di negeri ini sudah begitu mendarah daging sehingga orang yang bersih bisa tersangkut melakukan korupsi karena berada dalam sistem dan budaya yang korup. Masalah ini sangat serius karena menyangkut masa depan gelap negeri ini.

Namun para politikus dan penyelenggara negara masih belum menganggap sebagai sesuatu yang serius. Dapat dilihat dari perilaku politikus kita yang tidak bisa keluar dari pola politik pragmatis untuk keuntungan dirinya sendiri. Kepentingan masa depan bangsa sudah tak lagi menjadi bagian dari perilaku kehidupan politik mereka.

Yang dipikirkan hanyalah jabatan dan uang. Dalam merancang dan menjalankan beragam kebijakan, yang diutamakan adalah dirinya “mendapat apa”, bukan bagaimana rakyat mendapat tempat yang adil di negeri ini.

Politik kita benar-benar telah kehilangan keberadabannya. Para politikusnya cenderung buas, terutama ketika hasrat untuk meraih kedudukan dilakukan tanpa memperhatikan etika dan keutamaan publik.

Inilah wajah masa depan politik Indonesia yang dapat kita lihat hari ini. Perebutan jabatan dan permainan uang menjadi roh utamanya. Etika dan paham keutamaan publik hanya menjadi pemanis mulut belaka.

Uang menjadi faktor paling penting dibandingkan dengan gagasan dan ideologi. Partai politik telah menjadi alat untuk memenuhi hasrat pribadi-pribadi alih-alih merupakan persemaian gagasan dan perjuangan ideologi. Semua demi uang dan jabatan. Rakyat hanyalah kamuflase dalam pidato-pidato politikusnya.

Inilah yang membuat negeri ini semakin hari tidak semakin kuat, malah semakin rapuh dan keropos. Bangunan politik hanya dilandasi kepentingan material. Akibatnya, politik menjadi sandera para pemodal.

Karena yang dipikirkan adalah kepentingan pribadi, politik sudah tak lagi sanggup memikirkan kepentingan kemanusiaan. Tidak ada lagi kepedulian yang nyata untuk melindungi rakyat kecil, semua itu hanya sandiwara media saja.

Melayani “Yang Punya Uang”

Kekuasaan pun cenderung digunakan untuk melayani “yang punya uang”. Lingkaran setan itu sulit untuk didobrak. Rakyat adalah konsumen yang bila ia tak memiliki uang maka tak mendapatkan pelayanan. Kekuasaan cenderung menginjak yang miskin.

Politik lalu bukan menjadi tempat nyaman untuk memperjuangkan kepentingan publik. Politik ada untuk memenuhi hasrat material pribadi, atau golongan-golongan. Politik kita mengalami disorientasi yang sangat fatal, dan parahnya itu sudah membudaya ke segala aspek kehidupan.

Samar-samar dapat kita lihat betapa kekuasaan politik digunakan secara sewenang-wenang untuk melayani kepentingan pribadi, golongan, dan kroni-kroni. Suka tidak suka itulah yang terjadi di era Reformasi ini. Lalu apa gunanya masyarakat bersukacita merayakan tumbangnya Orde Baru tanpa diikuti perubahan mendasar pada tingkat mental dan moral?

Kita membutuhkan perubahan secepat-cepatnya, atau semua ini akan mewarnai wajah gelap masa depan kita. Kita membutuhkan momentum untuk berubah sebelum semuanya terlambat. Indonesia bukanlah milik generasi hari ini saja, melainkan akan diwariskan pada generasi mendatang. Apakah kita akan mewariskan segala kebobrokan ini untuk anak cucu Indonesia nanti?

Kita harus menegaskan kembali makna berpolitik dan berkekuasaan, mengembalikan makna berpolitik untuk kepentingan perjuangan semesta, untuk membangun Indonesia menjadi negara yang makmur dan luhur. Berpolitik bukan jurus aji mumpung untuk sekadar meraih kekuasaan, berpolitik adalah seni untuk membangun kemajuan bangsa.

Disorientasi politik akan membawa bangsa ini ke jurang kesengsaraan yang amat dalam. Pada tataran ini kita harus belajar dari para pendahulu negeri ini, di mana mereka bisa mewarnai politik dengan gagasan-gagasan besar Indonesia masa depan.

Politik tanpa visi kebangsaan yang mendasar hanya akan menghasilkan koruptor-koruptor baru, bahkan dari kalangan muda. Mereka yang didambakan bisa mewarnai politik Indonesia yang lebih beradab nyatanya justru meneruskan tradisi korupsi.

Politik bukan bisnis, di mana segala transaksi bermotifkan nilai ekonomis. Berpolitik adalah untuk membangun bangsa ini dengan penguasa yang berpihak pada rakyat, bukan pada mereka yang memiliki uang semata.

Kebusukan politik dewasa ini terlihat ketika semua transaksinya sudah tidak ada bedanya dengan transaksi bisnis. Akibatnya, apa yang dipikirkan oleh politikusnya adalah berapa banyak ia akan mendapatkan keuntungan ekonomis.

Semua komponen bangsa ini bertanggung jawab mengingatkan agar politikus kita berjalan sesuai koridor dan etika. Ini penting agar mereka tidak salah sarah dalam menuntun bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s