Berharap Terobosan Baru Pemberantasan Korupsi

Korupsi bisa dilakukan oleh siapa pun dalam suatu lingkungan sosial yang buruk.

Jajaran kepemimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah terpilih. Publik berharap mereka bukan orang-orang yang salah menyandang tanggung jawab membersihkan Indonesia dari tikus-tikus koruptor yang kian hari kian banyak bergentayangan. Publik berharap mereka bukanlah orang-orang yang bernyali kecil dalam pemberantasan korupsi di negeri ini.

Suka tidak suka, KPK masih menjadi satu-satunya institusi yang diharapkan untuk menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan. Kendati kritik atas kinerja dan keberhasilannya masih terdengar di mana-mana, semua itu diharapkan bisa mempertegas KPK untuk bersikap tegas kepada semua kasus korupsi, bukan hanya yang dilakukan orang yang sudah tidak berkuasa, melainkan juga justru kepada mereka yang masih kuat dalam kekuasaan.

Makin Membudaya

Kritik dan masukan memang perlu terus disuarakan dengan tujuan agar perbaikan dan kualitas kinerja bisa ditingkatkan. Terhadap usul pembubarannya pun sekiranya belum tepat, mengingat fakta kasus korupsi yang semakin banyak dan justru berkembang ke arah modus-modus baru yang tak terbayangkan.

Korupsi yang sudah makin membudaya dan “biasa” ini bisa dilawan dengan ditumbuhkannya budaya baru. Bukan saja dengan kebencian dan kemuakan massal atas korupsi, tapi juga dengan memperketat pengawasan di seluruh aspek kehidupan dan “menghukum” yang tegas dan berat. Korupsi merupakan tindak pidana. Pihak yang dirugikan bukan satu-dua orang. Seperti sebuah penyakit kronis, pelan-pelan ia akan menggerogoti seluruh sendi kehidupan berbangsa ini. Indonesia akan menjadi negara sangat terbelakang tanpa adanya pemikiran dan tindakan luar biasa untuk menangani penyakit ini. Di sisi lain, penyakit ini sudah sedemikian kronis dan berbahaya. Kehidupan berbangsa selama berpuluh tahun rasanya berjalan di tempat. Indonesia masih menjadi negara tertinggal dalam hal apa pun, dan korupsi menjadi kontributor utama ketertinggalan ini.

Tanpa adanya tindakan yang tegas, akurat, dan bervisi, tinggal sejengkal lagi negara kita terjerumus dalam lubang kegelapan. Ketika harkat dan martabat hukum sudah tak dihargai dan semua bisa dibeli dengan uang, hanya mereka yang kaya–yang jumlahnya sedikit itu– yang mampu memiliki negeri ini. Kemiskinan dan keterbelakangan hanya menjadi mainan dari penguasa yang bisa diperalat untuk meemperkaya diri sendiri. Publik menunggu terobosan-terobosan baru pemberantasan korupsi di negeri ini. Sudah waktunya KPK semaksimal mungkin merealisasikan semua impian itu. Pada siapa pun yang berjuang untuk membersihkan Indonesia dari korupsi, rakyat pasti memberikan dukungan sepenuhnya.

Menjangkiti Generasi Muda

Bahaya terbesar lain tanpa disadari, kegiatan korupsi ini secara sistemik diturunkan dalam generasi baru Indonesia. Mereka terjebak dalam sistem dan budaya politik yang busuk, yang hanya memikirkan bagaimana merampok uang negara yang dianggapnya tak bertuan. Ironis karena pada generasi baru Indonesia sudah tumbuh cara berpikir, “Bila bukan saya yang melakukan, yang lain juga akan melakukan.” Selain itu tumbuh sikap saling melindungi dan permisif terhadap seluruh kegiatan yang berbau korupsi, baik korupsi skala kecil maupun kelas kakap. Generasi muda sebetulnya titian harapan kita untuk memangkas korupsi. Namun bila mereka dibiarkan dalam sistem dan budaya kekuasaan yang buruk, begitu mudah mereka terjerumus dalam lembah korupsi ini.

Kasus akhir-akhir ini membuktikan generasi muda ternyata sudah mulai dijangkiti berbagai kasus dan skandal. Korupsi bisa dilakukan siapa pun dalam suatu lingkungan sosial yang buruk dan sikap hidup yang permisif. Ironisme ini perlu menjadi catatan bagi kepemimpinan baru KPK ini. Ketegasan untuk menghukum tanpa pandang bulu akan mengundang simpati masyarakat untuk memberikan dukungan maksimal. Namun bila KPK juga tidak bisa menguasai diri hidup dalam lingkungan politik kekuasaan yang buruk, harapan hidup bangsa ini sudah tidak bisa ditolong lagi. Bila deal politik lebih menguasai dibandingkan upaya sungguh-sungguh menegakkan keadilan, pemberantasan korupsi pun mempertegas asumsi masyarakat sejauh ini: semuanya hanya pura-pura belaka.

Demokrasi dan keterbukaan hanyalah isapan jempol dan tidak bermakna, karena itu semua hanya dilakukan demi citra diri politik kekuasaan. Bila tidak demikian, pemberantasan korupsi hanya mampu menangkap mereka yang lemah dan tidak berkekuatan. Atas itu semua, KPK hadir untuk memberikan bukti kesungguhan mereka dalam memberantas tikus-tikus koruptor ini. Bukan sekadar untuk deal politik, apalagi sekadar membangun citra sebagai lembaga antikorupsi.

Di masa yang akan datang, kita semua berharap semakin kecil ruang bagi siapa pun untuk melakukan korupsi. KPK perlu mewujudkan impian masyarakat yang ditampilkan dalam beragam kemuakan dan kebencian terhadap tindakan korupsi. Kemuakan terhadap para koruptor yang kadang tersenyum manis mencibir dan melecehkan penegakan hukum Indonesia.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s