Membangun Komunitas Kolaboratif: Memperkuat Civil Society dalam Membangun Perdamaian dan Mencegah Konflik, Aksi Nyata Hubungan Antaragama dan Kepercayaan

 Berikut adalah sambutan Mgr. Johannes Pujasumarta* pada saat Dialog Umat Antaragama dan Kepercayaan Tingkat Regional IV, 12 Maret 2012 di Semarang.

85746

Para tamu yang saya hormati,

Pertama-tama saya ingin memperkenalkan diri saya. Saya Johannes Pujasumarta, Uskup Agung Semarang yang kelima. Saya dan segenap staf saya merasa terhormat mendapat kunjungan Anda semua dari berbagai negara tetangga di wilayah Asia. Perjumpaan ini merupakan suatu hal yang penting untuk menyadarkan kita bahwa dialog antaragama dan kepercayaan bukanlah suatu pilihan, namun merupakan suatu kebutuhan untuk membangun dunia yang lebih baik. Maka sudilah kiranya menikmati waktu selama tinggal di Semarang untuk melakukan dialog antaragama dan kepercayaan kita.

 

Beberapa catatan tentang Keuskupan Agung Semarang

Keuskupan Agung Semarang mencakup 4 Kevikepan, yaitu, Semarang, Kedu, Surakarta, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tiga Kevikepan, yaitu Semarang, Kedu, dan Surakarta, terletak di Provinsi Jawa Tengah. Setelah 100 tahun menjalankan misinya, pada akhir tahun 2010, Keuskupan Agung Semarang menaungi 400.000 umat Katolik yang dibaptis yang tersebar di lebih dari 90 paroki. Angka tersebut merupakan 2.05% dari jumlah penduduk yang ada.

Untuk memberikan cakrawala yang ideal tentang Keuskupan Agung Semarang, saya ingin menampilkan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2011-2015. Arah Dasar ini pertama kali dirumuskan pada tahun 1984 yang kemudian diperbarui setiap lima tahun sekali. Arah dasar ini diperuntukkan untuk seluruh Keuskupan Agung untuk didiskusikan dan diterjemahkan ke dalam program-program pastoral. Umat Allah Keuskupan Agung Semarang, sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus, dalam bimbingan Roh Kudus, berupaya menghadirkan Kerajaan Allah sehingga semakin siginifikan dan relevan bagi warganya dan masyarakat.

Dalam masyarakat Indonesia yang sedang berjuang menuju tatanan hidup baru yang adil, damai, sejahtera, dan demokratis, umat Allah berperan secara aktif mengembangkan habitus baru berdasarkan semangat Injil dengan beriman mendalam dan tangguh serta ambil bagian mewujudkan kesejahteraan umum.

Langkah pastoral yang ditempuh adalah pengembangan umat Allah, terutama optimalisasi peran kaum awam, secara kesinambungan dan terpadu dalam mewujudkan iman di tengah masyarakat; pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskinm tersingkir, dan difabel; serta pelestarian keutuhan ciptaan. Langkah tersebut didukung oleh tata penggembalaan yang sinergis, mencerdaskan, dan memberdayakan umat beriman, serta memberikan peran pada berbagai karisma yang hidup dalam diri pribadi maupun kelompok.

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang, dengan tulus, setia, dan rendah hati bertekad bulat melaksanakan upaya tersebut, serta mempercayakan diri pada penyelenggaraan ilahi seturut teladan Maria, hamba Allah dan Bunda Gereja.

Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6)

Dialog Antaragama dan Kepercayaan merupakan sebuah kebutuhan

Terinspirasi oleh isi yang diajarkan di dalam Konsili Vatikan II (1962-1965), kami memiliki misi untuk menjadikan Gereja tampil di dalam dialog dengan realitas yang ada di Indonesia. Kami menggiatkan apa yang kami sebut dialog tiga tingkat, yaitu, dialog dengan berbagai latar belakang budaya melalui inkulturasi; dialog dengan berbagai agama melalui dialog antaragama dan kepercayaan, dan dialog dengan kaum miskin melalui pemberdayaan di dalam pilihan-pilihan yang diambil dengan dan bagi kaum miskin. Sehingga, merupakan keharusan bahwa kita bekerja sama dengan semua pihak yang berkehendak baik. Kami melihat bahwa dialog merupakan sebuah cara yang baru sebagai orang Indonesia, karena menjadi religius di Indonesia di dalam tatanan masyarakat yang bersifat plural, perlu untuk menjadi orang yang interreligius.

Dicerahkan oleh Deklarasi Mengenai Hubungan Gereja dengan Agama-agama non Kristiani NOSTRA AETATE, yang diserukan oleh Bapa Suci Paus Paulus VI tanggal 28 Oktober 1965, kami diarahkan untuk menggiatkan dialog antaragama dan kepercayaan sebagaimana yang dinyatakan di dalam dokumen tersebut, “Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerjasama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara, dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka” (Nostra Aetate 2).

Di tingkat keuskupan, kami bekerjasama dengan Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang untuk mendorong umat Katolik proaktif dalam berdialog dengan umat agama yang lain dalam berbagai tingkatan. Bersama dengan semua orang yang berkehendak baik, kami bekerja untuk menggiatkan penyelesaian dan pencegahan konflik. Kunjungan silaturahmi merupakan cara yang umum yang kami lakukan untuk membangun persaudaraan antarumat  beragama yang kami selenggarakan tidak pada saat sedang terjadi konflik. Untuk menyegarkan umat Katolik agar sadar tentang arti penting dialog ini, kami meluangkan waktu khusus setahun sekali di hari Minggu bulan Januari, tanggal 18-25 sebagai Hari Dialog Antaragama dan Kepercayaan. Kami ingin hidup bersama dengan umat lain dengan harmonis.

Musyawarah (sila ke-4 dari Pancasila) merupakan cara kami untuk menimbang segala sesuatu yang terjadi di antara kami. Kami mempertimbangkan musyawarah sebagai pertimbangan komunitas. Kami sadar bahwa kekerasan bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan masyarakat. Masa depan dunia yang lebih baik tegantung pada keinginan kita untuk melakukan dialog antaragama dan kepercayaan.

 

*Uskup Keuskupan Agung Semarang

Advertisements

Membaca Tanda Zaman

oleh : Romo Benny Susetyo*

membaca tanda zaman

Di masa depan dibutuhkan pemimpin yang memiliki komitmen untuk menegakkan nilai konstitusi.
Fenomena  kemenangan  Jokowi dan Ahok dalam pemilihan kepala daerah di DKI Jakarta telah membuka kesadaran bahwa rakyat kini akan  memilih pemimpin yang mengutamakan kepentingan bersama. Pemilih akan mendukung calon yang berorientasi  politik kesejahteran dan bukan politik identitas. Ketika rakyat semakin rasional dalam berpolitik, dibutuhkan sebuah proses untuk menyadarkan rakyat bahwa di masa depan dibutuhkan pemimpin yang memiliki komitmen untuk menegakkan nilai–nilai konstitusi dalam menata keadaban bangsa. Bila kesadaran bangkit maka akan lahir pula optimisme publik bahwa rakyat membutuhkan stok pemimpin yang memiliki karakter kuat dan berkomitmen melayani rakyat. Gejala ini melahirkan sebuah gerakan Indonesia mencari pemimpin.

Sejumlah tokoh intelektual bersepakat membentuk Gerakan Indonesia Memilih (GIM). Tujuannya menyadarkan masyarakat akan pentingnya arti demokrasi. Gerakan ini dilatarbelakangi keprihatinan semakin meningkatnya apatisme masyarakat terhadap pemilihan umum dengan ditunjukkan pada peningkatan angka golput di berbagai tempat.

GIM lahir dan dilatarbelakangi upaya untuk memulihkan kepercayaan terhadap demokrasi sebagai solusi kehidupan berbangsa. Gerakan ini menyadari sepenuhnya bahwa meningkatnya apatisme memang bukan faktor tunggal yang berdiri sendiri, namun secara umum disebabkan semakin sulitnya mencari figur pemimpin yang bisa membawa perubahan lebih baik.

Dewasa ini terlalu banyak pemimpin yang lahir dari proses transaksional, dan rakyat paham hal itu. Politik transaksional diyakini tidak akan melahirkan pemimpin yang memiliki pathos terhadap rakyatnya. Rakyat Indonesia kehilangan pemimpin yang berjiwa negarawan. Itu karena yang dominan sekarang adalah pemimpin berjiwa pedagang, yang hanya pandai memasarkan dan menerima upeti, pandai memoles citra serta kepalsuan. Itu semua adalah buah dari perselingkuhan antara penguasa dengan pemilik modal. Khususnya di partai politik yang justru memelihara tradisi buruk dan berdampak amat buruk dalam melahirkan pemimpin negarawan.

Bangsa dan negara ini memerlukan pencerahan akal dan budi agar tidak semakin sulit mendapatkan pemimpin yang benar-benar disegani dan diterima oleh semua lapisan masyarakat. Hak memilih adalah hak yang amat mahal dan tak ternilai harganya. Kalau rakyat dibiasakan menukar hak demokratisnya itu dengan hanya beberapa lembar uang, hal itu merupakan tindakan yang amat merusak masa depan demokrasi. Karena itu, GIM mengajak masyarakat agar menggunakan hak pilihnya dengan benar untuk menentukan nasib bangsa.

Hak memilih sedikitnya mencegah negara ini dari salah urus oleh pemimpin pedagang, yang hanya ada transaksi di otaknya. Salah urus dalam pengelolaan negara telah menimbulkan krisis berkepanjangan sehingga masyarakat jadi kehilangan harapan. Solusinya adalah mencari pemimpin-pemimpin yang visioner, berkarakter, pemberani, dan mampu menentukan arah Indonesia ke depan menjadi lebih baik lagi. Masyarakat harus bisa memilih pemimpin yang sungguh-sungguh memiliki kemampuan berpikir yang mendalam untuk kepentingan umum, bukan kepentingan golongan saja.

Terobosan Baru
Tentu dibutuhkan terobosan untuk melahirkan pemimpin baru yang mampu menata keadaban publik ini ke arah lebih baik. Keraguan terhadap kemampuan partai politik untuk melahirkan pemimpin, harusnya ditanggapi partai politik dengan membuat koreksi diri secara mendalam. Bagaimanapun, partai politik merupakan ciri dari eksistensi demokrasi. Itu sebabnya elite politik harus belajar dari fenomena bahwa rakyat sudah hilang kepercayaan terhadap partai. Bahkan para tokoh panutan di partai pun sudah ditinggalkan rakyat.

Hal itu merupakan manifestasi dari kekecewaan rakyat, wujud akumulasi kekecewaan terhadap tindakan elit politik yang nyaris tidak pernah memenuhi harapan akan terciptanya tata keadilan. Keadilan selama ini hanya dimiliki mereka yang memiliki kekuatan ekonomi dan akses kekuasaan. Jumlah mereka sangat sedikit, tapi mereka inilah yang mampu mengendalikan republik ini. Tangan mereka sangat berkuasa untuk mengatur kebijakan-kebijakan yang kerap merugikan rakyat luas. Golongan kecil ini mengatur dan mengintervensi kebijakan negara, dan tanpa disadarinya terus-menerus memerosokkan rakyat ke dalam kubangan kemiskinan. Kaum miskin terpola sebagai kaum tak berdaya, kebijakan negara kerap membuat mereka tidak punya daya tawar.

Kegagalan partai politik menjalankan fungsinya secara maksimal mengakibatkan citra partai politik semakin buruk di era reformasi ini. Ciri elitisme yang diperankan oleh partai politik membuat apatisme rakyat. Antipati itu bukan tanpa sebab, partai politik dinilai lebih banyak peduli kepada kepentingan kekuasaan daripada untuk memediasi kepentingan rakyat.

Kini saatnya masyarakat sipil digerakkan sebagai kekuatan untuk melahirkan regenerasi kepemimpinan yang memiliki gugus insting memengaruhi cara berpikir, bertindak, bernalar, dan berelasi demi  menegakkan nilai konstitusi. Nilai itu diaktualisasikan dalam kebijakan publik yang berorientasi pada pemekaran nilai-nilai kemanusian dan keadilan. Kita berharap melalui prakarsa seperti Gerakan Indonesia Memilih bisa muncul alternatif bagi rakyat untuk menemukan karakter pemimpin ideal bagi bangsa ini, sekaligus memberikan pendidikan politik masyarakat akan pentingnya hak memilih bagi demokrasi.

Pemimpin ideal adalah mereka yang mampu memberikan harapan sekaligus merealisasikannya. Sahabat saya almarhum Franky Sahilatua hingga akhir hayatnya terus berkampanye agar mencari jalan baru untuk melahirkan pemimpin yang baru. Semoga partai politik di Indonesia mampu membaca tanda zaman menyangkut ruh perubahan yang sekarang sedang menggerakkan batin rakyat. (*)

*Penulis adalah anggota Gerakan Indonesia Memilih.

Melawan Kaum Nekrofilia

oleh: Romo Benny Susetyo

 

stop-terrorism_banner_400-4001

Terorisme merupakan sebuah paham yang mencintai kematian, kerusakan, kehancuran atau apa yang sering kita dengar sebagai nekrofilia. Kaum teroris membenci kehidupan (biofilia) yang tidak sesuai dengan harapannya dan merasa hanya memiliki satu cara untuk menghadapinya, yakni menghancurkan segala sesuatu.

Paham nekrofilia

Seperti pernah dikatakan F Budi Hardiman, teror adalah sebuah politik kematian. Ketakutan akan mati tidak hanya bisa dilenyapkan, tetapi juga bisa diperbesar. Teknik ini yang disebut sebagai teror. Semakin membesarnya paham-paham terorisme, sama halnya dengan membesarnya paham penghancuran atau nekrofilia.

Mereka ingin merebut sebuah citra kehancuran dengan menyebarkan segala ketakutan terhadap kehancuran itu sendiri. Citra yang mengerikan terhadap bayang-bayang kematian direproduksi sedemikian rupa sehingga menumbuhkan perasaan takut yang sulit dilukiskan, dan itulah tujuan utama aksi teror.

Kehancuran itulah ide utama terorisme. Karena itu, orang yang masih memendam cinta terhadap keberlangsungan hidup secara damai mengutuk keras terorisme. Ia tidak bisa dibenarkan dengan ide agama mana pun dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kaum teroris akan selalu mengintai dan berusaha mencari kelemahan untuk terus membumihanguskan. Karena itu, menghadapi kaum teroris tidak hanya membutuhkan kewaspadaan aparat keamanan dan masyarakat, tetapi juga mawas diri. Untuk menghentikan pemahaman yang menghancurkan, seharusnya diimbangi upaya memperbaiki ketidakimbangan yang terjadi dalam kehidupan dalam ranah sosial, ekonomi, politik.

Terorisme dilakukan berlandaskan sebuah pemikiran. Karena itu, menghadapi terorisme tidak bisa hanya dengan langkah fisik semata. Menangkap pelaku terorisme memang penting sebagai shock terapy bagi teroris lain, tetapi menangkap orangnya tidak sama dengan menghentikan pemikirannya. Penanganan terorisme yang masih sporadis dan monumental akan sering mengalami kegagalan, dan kaum teroris terus berusaha mengincar kelengahan kita.

Kata kunci dari terorisme adalah penyebaran ketakutan atas kehancuran yang dicitrakan oleh tindakan dengan penggunaan instrumen-instrumen kekerasan, baik bom, sabotase, intimidasi, penyiksaan, dan sebagainya. Efek ketakutan yang ditimbulkan dari aksi teror menggemakan rasa takut dan cemas kolektif, ketidaknyamanan, dan perasaan selalu terancam keselamatannya.

Penggunaan instrumen-instrumen kekerasan dalam aksi teror sebenarnya lebih disebabkan besarnya gema ketakutan yang dapat dimunculkan dari aksi kekerasan.

Kekerasan selalu menjadi awal dari kematian, bahkan kematian itu sendiri merupakan bentuk lain, sekaligus akhir, dari kekerasan. Ketika kematian masih menjadi momok nomor satu dalam kehidupan manusia, maka dengan demikian telah melanggengkan ketakutan manusia untuk menerima bentuk-bentuk kekerasan selama hidupnya. Signifikansi antara ketakutan akan kematian dan kekerasan inilah yang menjadikan aksi teror menemukan media tumbuhnya sebagai cara terpintas meraih tujuan-tujuan tertentu.

Spiral kekerasan

Fenomena kekerasan dalam masyarakat merupakan fenomena dengan realitas ganda, ditolak secara moral tetapi lazim terjadi dalam realitas sosial. Arendt dalam On Violence (1970) menggarisbawahi betapa masyarakat telah menjustifikasi perilaku kekerasan dalam kebudayaannya.

Baginya, kekerasan adalah sebuah instrumen sebagai bagian dari kekuatan yang penggunaannya dapat melipatgandakan kekuatan manusia. Kekerasan sebagai instrumen utama terorisme ternyata merupakan fitrah manusia. Thomas Hobbes bahkan mengklaim, manusia adalah seperti serigala yang memangsa sesamanya (Homo homini lupus).

Perang melawan terorisme menjadi agenda mendesak untuk membangun kualitas peradaban dunia yang bermartabat. Kehancuran peradaban ini jelas di depan mata sebab yang berbicara sering bukan pikiran waras.

Kini dalam diri umat manusia tersimpan tanda tanya besar, masihkah ada damai di bumi? Masih adakah keinginan menciptakan perdamaian? Maukah mereka menciptakan perdamaian bukan dengan kekerasan, bukan dengan dendam serta prasangka?

Dom Helder Camara mengurai apa yang disebut ”spiral kekerasan”. Katanya tak satu pun perdamaian di muka bumi ini yang bisa diciptakan melalui kekerasan. Johan Galtung juga menyatakan, kekerasan hanya menghasilkan kekerasan. Katanya, menghentikan kekerasan hanya bisa dilakukan dengan membangun komitmen perdamaian.

Hanya dengan perdamaian, manusia membangun peradaban bermartabat. Ada dua dimensi perdamaian: dalam konteks spirit dan manifestasi, keduanya saling terkait. Menghadapi dunia yang kian tercekam peperangan, kita mempertanyakan masih adakah dua dimensi itu.

Jika spirit perdamaian sudah ditelan angkara murka kesombongan, di mana manifestasi perdamaian bisa diciptakan? Spirit perdamaian kian mengecil, menyusut, dan mengkristal menjadi spirit kebencian. Maka, awal mula kehancuran adalah matinya spirit perdamaian, yang lantas disusul matinya perdamaian itu sendiri di muka bumi ini.

Kekerasan terorisme telah membutakan mata hati kemanusiaan. Kekerasan yang digunakan oleh mereka yang antiterorisme juga mengakibatkan hal yang sama. Intinya kekerasan menutup pintu dialog sebagai cara terbaik menyelesaikan persoalan. Kekerasan akan menimbulkan soal baru yang lebih berat bobot penyelesaiannya. Kekerasan akan mengembalikan manusia kepada kejayaan kaum barbar masa lalu, yang mencintai penghancuran khas kaum nekrofilia.

Melihat dinamika global yang semakin rumit, amat perlu diingatkan kepada semua pihak bahwa jalan kekerasan tidak pernah memecahkan masalah dan pasti menciptakan masalah baru. Kekerasan yang dilakukan dengan cara menghancurkan barang-barang publik dan nyawa masyarakat sipil adalah cermin tindakan yang amat bodoh dan biadab.
*Penulis adalah Sekretaris Dewan Nasional SETARA Institute

 

Surat Gembala Hari Minggu HAK 2013 Keuskupan Agung Semarang

Beriman Mendalam dan Tangguh Melalui Dialog Ekumenis dan Interreligius

 Mgr. Johannes Pujasumarta*

Image

Saudara-saudariku yang terkasih,

Sudah lebih dari satu abad, setiap tahun, pada tanggal 18-25 Januari, bersama seluruh umat Kristiani sedunia, kita berdoa untuk Kesatuan Umat Kristiani. Selama satu pekan itu, kita mengalami dan menghayati yang disebut Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani. Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani merupakan buah kerja sama antara Dewan Kepausan untuk Kesatuan Umat Kristiani (Gereja Kristen Katolik Roma di Vatikan) dan Komisi Iman dan Hukum Dewan Gereja-Gereja Sedunia (Gereja Kristen Protestan di Geneva). Ikut serta dalam gerakan ini juga Gereja-Gereja Ortodoks.

Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani mempunyai landasan alkitabiah dari doa Yesus kepada Bapa, “Semoga mereka semua menjadi satu sehingga dunia percaya” (Yoh. 17:21). Yang dimaksud dengan “mereka” dalam doa Yesus adalah setiap orang yang percaya kepada-Nya berkat pemberitaan Injil oleh para rasul. Maka, yang dimaksud dengan “mereka” tidak lain adalah “kita” semua, umat Kristiani, dan siapapun yang di masa mendatang akan menerima dan mengimani Yesus Kristus. Dalam rentang Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani, diharapkan umat mendaraskan doa, mendalami renungan, dan menghayati seruan-seruan tema harian sebagaimana ditawarkan oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang. Bahan-bahan itu dapat direnungkan atau didaraskan setiap hari di gereja maupun di komunitas dan lingkungan-lingkungan sejauh dimungkinkan.

Dalam satu pekan selama Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani, selalu ada Hari Minggu. Sejak tahun 2011 yang lalu, Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, sebagai bagian dari Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang, memulai gerakan yang disebut Hari Minggu HAK Keuskupan Agung Semarang. Diharapkan, pada Hari Minggu HAK KAS tersebut, umat Katolik, khususnya di paroki-paroki dan komunitas-komunitas, merajut hubungan antaragama dan kepercayaan melalui praksis dialog sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Tema Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani 2013 adalah “Apa Yang Dituntut Tuhan dari Kita?” Tema ini terinspirasi dari Kitab Nabi Mikha 6:6-8. Dengan tema itu, selama Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani, kita diajak untuk menghayati iman yang mendalam dan tangguh dalam rangka membela kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD) serta merawat lingkungan yang rusak dan hancur. Dalam situasi itu, kita diajak menghayati iman mendalam dan tangguh bersama dengan komunitas-komunitas lain, baik secara ekumenis (dialog antargereja) maupun secara interreligius (dialog antaragama dan kepercayaan) dengan cara menegakkan kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan serta menjaga keutuhan lingkungan hidup. Selama satu Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani, kita semua diajak untuk merenungkan tema-tema itu.

Iman mendalam dan tangguh yang dihayati secara ekumenis dan intereligius bisa diwujudkan dalam upaya bersama memberdayakan kelompok KLMTD dan melestarikan keutuhan ciptaan. Itulah wujud keselamatan sebagai kebenaran yang harus “bersinar seperti cahaya dan menyala seperti suluh” (Yesaya 62:1) sebagaimana disebut dalam bacaan pertama hari ini. Iman mendalam dan tangguh yang dihayati secara ekumenis dan interreligius juga tampak dalam upaya saling menghargai berbagai-bagai karunia yang dianugerahkan Tuhan dalam diri kita, komunitas-komunitas, dan agama-agama lain, yang bersumber dari Roh Suci yang sama (bdk. 1 Korintus 12:4-11, bacaan II).

Iman mendalam dan tangguh yang dihayati secara ekumenis dan interreligius selalu bersumber dan berpusat pada Yesus Kristus. Dia hadir di tengah masyarakat dengan memberikan pertolongan di saat yang tepat sebagaimana dikisahkan dalam Injil Yohanes 2:1-11, saat Yesus mengubah air menjadi anggur dalam pesta pernikahan di Kana. Saat Yesus mengubah aor menjadi anggur, Dia menyatakan tanda kemuliaan-Nya yang membuat para murid percaya kepada-Nya. Sebagai persekutuan paguyuban murid-murid Yesus Kristus, kita pun dipanggil untuk menghadirkan tanda-tanda kemuliaan dan keselamatan itu dengan mengubah kebencian dan dendam menjadi kasih dan perhatian, perpecahan diubah menjadi persatuan, ketidakadilan menjadi keadilan, kekurangan menjadi kesejahteraan, kehancuran menjadi keutuhan. Dengan demikian, kita menjadi tanda perdamaian dan sarana persaudaraan yang sejati dengan semua orang.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Kita menghayati Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani dan Hari Minggu HAK Keuskupan Agung Semarang juga dalam rangka Tahun Iman. Dalam Tahun Iman ini, Paus Benedictus XVI mengajak kita menimba sumber iman dari dokumen-dokumen Konsili Vatikan II. Salah satu dokumen Konsili Vatikan yang penting dalam rangka menghayati iman mendalam dan tangguh secara ekumenis dan interreligius adalah Nostra Aetate, yakni Pernyataan tentang Hubungan Gereja (Katolik) dengan Agama-Agama Bukan Kristiani. Dikatakan dalam Nostra Aetate artikel kedua, “Gereja Katolik tidak menolak apapun yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Maka Gereja mendorong para puteri-puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerjasama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup Kristiani, mengakui, memelihara, dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.”

Itulah landasan penting bagi kita untuk menghayati iman mendalam dan tangguh secara ekumenis dan interreligius dalam hidup sehari-hari. Marilah, dalam rangka Minggu HAK-KAS ini, kita secara pribadi, kelompok, komunitas, maupun paroki-paroki, mempraktikkan gerakan dialog karya dan budaya bersama dengan semua orang yang berkehendak baik di sekitar kita. Semoga dengan cara-cara yang sederhana itu, kita kian menghayati iman mendalam dan tangguh secara ekumenis dan interreligius dalam kehidupan sehari-hari.

Allah telah memulai pekerjaan-pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6).

Salam, doa, dan Berkah Dalem,

Semarang, Hari Perdamaian Sedunia,

1 Januari 2013

*Uskup Keuskupan Agung Semarang

Gereja yang Berdialog dengan Umat Beriman Lainnya

Oleh : Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ

Image

Pengantar

  • Harian Kompas tanggal 16 Januari 2013, halaman 5 menurunkan tulisan berjudul “Hargai Perbedaan”. Yang dimaksudkan ialah agar kita menghargai perbedaan agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia. Abdul Mu’ti, sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam diskusi bersama tokoh-tokoh lintas agama yang mengangkat tema “Menggugat Peran Negara dalam Menjamin Kemerdekaan Beragama” pada tanggal 15 Januari 2013 di Jakarta menegaskan bahwa Indonesia berwajah dua dalam masalah agama. Dari satu pihak ada wajah kerukunan antarumat beragama yang cukup baik didukung oleh dialog antar tokoh-tokoh lintas agama dan kepercayaan; di lain pihak, belakangan ini diwarnai oleh pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan lain. Lebih mengejutkan bahwa aktor kekerasan itu justru melibatkan aparatur negara seperti kepolisian, pemerintah daerah dan camat. Abdul Mu’ti menarik kesimpulan bahwa mengembangkan kehidupan yang harmonis di tengah kemajemukan masyarakat tidak cukup dengan mengandalkan peraturan. Penghargaan atas suku, etnis, atau agama harus benar-benar diterapkan secara nyata dengan basis masyarakat sehingga menumbuhkan wawasan teologi, politik, kepribadian, dan perilaku sehari-hari.

Dialog kehidupan sebagai awal

  • Yang ingin diberi bobot dalam usaha membangun kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat majemuk, bukan peraturan-peraturan pemerintah yang makin diperbanyak. Peraturan yang ada, bahkan ideologi Pancasila yang menjadi dasar hidup bermasyarakat dan bernegara saja kurang ditaati bahkan oleh mereka yang seharusnya menjamin pelaksanaan cita-cita luhur tersebut. Pendekatan dari atas tidak dapat diandalkan dan tidak cukup. Sangat penting membangun dari bawah.
  • Anjuran ini mirip dengan apa yang di lingkungan Gereja kita, disebut dengan nama “dialog kehidupan”, berbasis kehidupan nyata di tengah masyarakat. Dialog macam ini yang dapat menumbuhkan pandangan atau wawasan hidup yang mendasari sikap dan perilaku sehari-hari, perilaku sosial, ekonomi, dan politik. Pendekatan dari bawah ini mendukung berhasilnya pendekatan dari atas dan menjamin kualitasnya. Nilai-nilai kebersamaan dalam hidup nyata itulah yang sebaiknya diangkat dan diberikan lewat pendidikan sekolah bersama dengan nilai-nilai universal yang dapat dikumpulkan dari ajaran agama manapun, tak terkecuali nilai-nilai hidup yang dijunjung tinggi oleh budaya setempat untuk membangun budi pekerti yang luhur, yang akan mempengaruhi perilaku sosial, ekonomi, dan politik. Dari basis masyarakat yang sama hendaknya dikembangkan oleh tokoh-tokoh agama berwawasan teologis yang mempengaruhi sikap dan perilaku yang sedang dikembangkan dalam masyarakat tersebut. Sekolah menyumbang bagi tumbuhnya pribadi yang religius (bukan beragama), bersaudara, memiliki rasa tanggungjawab tinggi bagi kesejahteraan sesama. Soal pengetahuan agama dapat diberikan dalam taraf pengetahuan, tetapi penghayatan agama yang khas sesuai ajaran agamanya terpulang pada tanggungjawab orangtua dan komunitas serta pimpinan agama masing-masing.

Dialog berbasis saudara sewarga

  • Dalam hidup bersama semacam itu, Gereja yang dalam dialog kehidupan, diharapkan sungguh menyatu dengan  masyarakatnya yang tentu terdiri dari mereka yang berkeyakinan lain; demikian pula masyarakat diusahakan bersama menyatu dengan semua warga Gereja tanpa kecuali, karena sama-sama warga masyarakat. Dengan kata lain, Gereja “manjing ajur-ajer” tanpa kehilangan identitasnya. Demikian pula mereka yang berkeyakinan lain. Di situ Gereja bersama dengan mereka yang berkeyakinan lain sama-sama menjadi garam yang mengasinkan dan terang yang menerangi kegelapan masyarakat, karena baik dari Gereja maupun dari umat beriman lain menyumbangkan cara hidup yang baik, jujur, dan adil, sesuai iman mereka. Dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat yang terdiri dari macam-macam umat beriman lainnya tersebut, setiap orang Katolik diharapkan mengusahakan diri untuk mencintai dan dicintai, menjalin persaudaraan dengan tetangga-tetangga dekat dan lingkungannya sampai kehadirannya dihargai dan kalau ada apa-apa selalu dilibatkan. Ciri keberhasilan antara lain: Kalau tidak dapat hadir disayangkan dan dirindukan, ditanyakan mengapa tidak dapat hadir. Kehadirannya membawa kegembiraan dan semangat. Tidak hanya awam Katolik, tetapi para pastor, bruder, dan suster hendaknya mengembangkan diri menjadi tokoh masyarakat setempat yang dicintai. Sebaliknya, orang Katolik menjadikan peristiwa yang menyangkut keluarga: pernikahan, kelahiran anak, kematian, dan lain-lain menjadi peristiwa masyarakat setempat dan mengundang keterlibatan mereka.
  • Dari dialog kehidupan yang tidak memperhitungkan perbedaan iman dan kepercayaan, tetapi melulu berbasis pada kesamaan hidup sebagai warga masyarakat macam ini, dapat dengan mudah dan subur dikembangkan menjadi dialog-dialog yang lebih mendalam, yaitu berdasarkan perbedaan iman. Dialog semacam ini akan berhasil kalau dasarnya tetap, yaitu sikap bersaudara sebagai sesama warga masyarakat, saling menghormati dan dalam dialog melulu terdorong oleh kasih ingin tahu lebih lanjut mengenai penghayatan hidup saudara-saudarinya sewarga RT/RW yang beriman lain tadi. Tak ada perdebatan, yang ada adalah pertanyaan untuk memahami lebih lanjut. Kalau ini berhasil, maka terjadilah relasi kasih yang mendalam antar umat beriman yang berbeda ini. Dimungkinkan pula yang satu belajar dan menerima apa yang memang baik, benar, dan suci. (Bdk. NA 2). Kita mengimani bahwa Roh Kudus berkarya dalam masyarakat lewat hati nurani umat beriman dan berkeyakinan lain, agar peziarahan hidup kita bersama menuju tujuan akhir menjadi makin sempurna.

Berdialog sifat hakiki Gereja

  • Gereja hasil Konsili Vatikan II memang menyadari diri sebagai Gereja yang berdialog dengan umat manusia, berdialog dengan dunia dalam berbagai permasalahan hidupnya. Itulah sebabnya dalam Konstitusi Dogmatis “Gaudium et Spes” Gereja menampilkan diri sebagai Gereja yang menyatu dengan suka duka umat manusia, karena tak ada sesuatu yang sungguh manusiawi yang tak bergema di hati (bdk. GS 1). Maka Gereja adalah Gereja yang berdialog dengan semua kenyataan yang ada di dunia, baik itu tatanan sosial, ekonomi dan politik maupun kebudayaan, tradisi-tradisi cara hidup, agama, dan aliran kepercayaan. Tentu saja, secara khusus berdialog dengan Gereja-Gereja untuk memulihkan kesatuan umat Kristiani sendiri. Gerakan ini disebut gerakan Ekumenis. Tujuan berdialog yang menyeluruh tadi antara lain untuk memperkokoh persaudaraan seluruh umat manusia. Gereja menyadari diri diutus untuk menjadi “tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia.” (LG 1)

Dialog dengan umat beriman lain

  • Menyadari pentingnya dialog dengan umat beragama dan kepercayaan lain, yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) hanya memiliki sati Komisi saja, yaitu Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (Komisi HAK KWI). Ini juga memudahkan dalam kerja sama dengan pemerintah yang mengakui 6 agama secara sejajar, yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Kegiatan khusus dengan Gereja-Gereja Kristen (umpama mebuat Surat Gembala Natal setiap tahun), tidak diwadahi dalam komisi tersendiri dengan nama sendiri, umpama Ekumene. Kegiatannya dilaksanakan oleh Komisi HAK.
  • Keuskupan Agung Semarang telah menyampaikan Surat Gembala Hari minggu HAK 2013 dengan tema “Beriman Mendalam dan Tangguh Melalui Dialog Ekumenis dan Interreligius”. Komisi HAK Keuskupan Agung Semarang telah memberikan panduan-panduannya. Kita diharapkan berdialog dengan umat Kristen (ekumenis) dan umat beragama dan berkeyakinan lainnya (interreligius) yakni umat Islam, Hindu, Budhha, Konghucu, dan aliran kepercayaan lainnya, untuk “memberdayakan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD), serta merawat lingkungan yang rusak dan hancur.” (bdk. Surat Gembala). Gerakan Ekumenis yang sudah lama terwujud dalam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani, sekaligus dijadikan kesempatan mengajak umat Katolik berdialog dengan umat beragama dan kepercayaan lainnya pada Hari Minggunya. Sehingga Surat Gembala berjudul Surat Gembala Hari Minggu HAK, tetapi temanya tentang “Doa untuk Persatuan Umat Kristiani” dan dialog interreligius, dengan sasaran sama, yaitu “memberdayakan” kaum KLMTD.
  • Kalau ini akan dijadikan gerakan yang berkesinambungan dan disegarkan lagi setiap ada acara Pekan Doa Sedunia tanggal 18-25 Januari, dengan Hari Minggu HAK, dapat dipikirkan pelaksanaan sebagai berikut. Kita dapat bersama semua pihak yang memakai gerakan “dialog kehidupan” seperti telah diuraikan sebelumnya, dengan program bersama, bagaimana mengentaskan kaum KLMTD. Untuk mendukung usaha tersebut, umat Katolik, Kristen dan Ortodoks dapat mengadakan “dialog ekumenis” dari Pekan Doa Sedunia, dalam rangka menyinari kegiatan bersama sesuai iman kristiani. Dalam kebersamaan dengan umat beragama lainnya (Bdk. Surat Gembala Hari Minggu HAK), umat Katolik bersama dengan umat yang berkeyakinan lain meneguhkan usaha memberdayakan KLMTD, mengangkat nilai-nilai luhur dari sisi keyakinan masing-masing. Umat Katolik sendiri tentu diperdalam oleh semangat Nostra Aetate (bdk. Surat Gembala Hari Minggu HAK).

Dialog ekumenis dan interreligius

  • Dengan demikian, “Dialog dengan umat beriman lainnya” dapat dibagi dua besar, yaitu satu: dialog dengan umat Kristen atau dialog ekumenis. Untuk dialog ekumenis ini, Konsili Vatikan mengeluarkan dua dokumen, yaitu Dekrit tentang Gereja-GerejaTimur Katolik, 21 November 1964 dan Dekrit tentang Ekumenisme bernama “Unitatis Redintegratio” dengan tanggal sama: 21 November 1964. Secara khusus, baik kita memberikan perhatian khusus kepada Gereja Timur Katolik atau Gereja Ortodoks yang terpisah dari Roma tahun 1054 ini. Mereka yang berasal dari cabang Yunani sudah hadir di Indonesia, yaitu di jakarta, Solo, Boyolali, Yogyakarta, Cilacap, dan Mojokerto (Bdk. Kompendium Konsili Vatikan II, oleh Komisi Teologi KWI (2012), hal. 250. Yang kedua, dialog dengan umat bukan kristiani dengan Pernyataan “Nostra Aetate” (28 Oktober 1965) tentang hubungan Gereja Katolik dengan umat beragama lain. Kecuali disebut mengenai hubungannya dengan umat Hindu dan Buddha, secara khusus disebut dengan nomor tersendiri: yaitu hubungannya dengan umat Islam dan Yahudi.
  • Meski sama-sama dijadikan rekan atau pasangan dialog, namun kedudukan umat yang beriman kristiani lain dengan kedudukan umat beriman bukan kristiani. Sifat dan isi dialognya banyak berbeda. Ketika Gereja Indonesia pada suatu kunjungan resmi ke Vatikan melaporkan bahwa di Indonesia (waktu itu) ada lima agama yang diakui pemerintah yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha, kami ungkapkan kebanggaan kami bahwa kami memiliki Komisi HAK KWI yang menjamin adanya usaha-usaha dialog antaragama dan kepercayaan. Saat itu kami diberi catatan agar tidak menyamakan kedudukan Gereja-gereja Kristen dengan agama-agama lainnya. Memang benar, dialog kita dengan saudara-saudara dari Gereja Kristen adalah dialog ekumenis, dialog antara Gereja serumpunlah, karena memiliki asal-usul sama, yaitu Gereja pada jaman para rasul. Bahkan dapat dikatakan dialog antar-sesama sudara yang sama-sama mengimani Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dan memiliki Kitab Suci yang sama. Meskipun demikian, KWI tidak membuat struktur baru membedakan dua kegiatan ekumenis dan interreligius (agama-agama dan keyakinan bukan kristiani). Komisi HAK sendiri sadar, tahu dan dalam kegiatannya sudah membedakan mana yang menjadi kegiatan ekumenis dan yang interreligius. Di Assisi, Paus Yohanes Paulus II telah mempelopori mengadakan doa bersama dengan semua tokoh agama pada tanggal 28 Oktober 1986 dan diulangi oleh Paus Benedictus XVI dalam memperingati 25 tahun peristiwa penuh makna tersebut. Semoga kita makin bersatu dan bersaudara.

Saatnya Kita Selamatkan Bumi Ini: Refleksi Hari Bumi

oleh Romo Benny Susetyo*

earth-day-5Rs

Menurut perkiraan World Bank, kerusakan  hutan  di  Indonesia  antara 700.000 sampai 1.200.000 ha per tahun, di mana deforestasi yang dilakukan oleh peladang berpindah ditaksir mencapai separuhnya. Namun, World Bank mengakui bahwa taksiran laju deforestasi didasarkan pada data yang lemah. Sedangkan menurut FAO, menyebutkan laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 1.315.000 ha per tahun atau setiap tahunnya luas areal hutan berkurang sebesar satu persen (1%). Berbagai LSM peduli lingkungan mengungkapkan kerusakan hutan mencapai 1.600.000 – 2.000.000 ha per tahun dan lebih tinggi lagi data yang diungkapkan oleh Greenpeace, bahwa kerusakan hutan di Indonesia mencapai 3.800.000 ha per tahun yang sebagian besar adalah penebangan liar atau illegal logging. Sedangkan ada ahli kehutanan yang mengungkapkan laju kerusakan hutan di Indonesia adalah 1.080.000 ha per tahun. Data menunjukkan pelestarian  hutan  menjadi amat penting  untuk menjaga paru  dunia. Realitas perilaku kita kurang menyadari pentingnya melesatrikan lingkungan sebagai  bentuk  kepedulian kita  bagi kelangsungan eksistensi  bumi ini.

Menyadari  hal ini,  Konferensi Waligereja  Indonesia  mengeluarkan  sebuah Nota Pastoral yang berjudul “Keterlibatan Gereja dalam melestarikan keutuhan ciptaan”. Seruan ini  mengajak semua orang beriman untuk terlibat secara aktif  menyelamatkan  alam cipta  dengan gerakan pelestarian lingkungan hidup. Atas dasar itu maka perhatian terhadap keselamatan lingkungan dan menanamkan sejak dini kesadaran lingkungan sangat perlu dilakukan. Hal itu yang dilakukan dalam sidang para uskup dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan menegaskan kembali komitmen Gereja Katolik untuk terlibat dan bertanggung jawab dalam penyelamatan lingkungan hidup. KWI menyatakan keprihatinan atas kerusakan lingkungan hidup yang makin parah dewasa ini.

Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2013  berjudul: Keterlibatan Gereja dalam Melestarikan Keutuhan Ciptaan. Dengan memilih judul tersebut, Gereja ingin mengajak seluruh umat Katolik untuk memberi perhatian, meningkatkan kepedulian dan tindakan partisipatif dalam menjaga, memperbaiki, melindungi dan melestarikan keutuhan ciptaan dari berbagai macam kerusakan. Nota Pastoral ini dimaksudkan sebagai bahan pembelajaran pribadi atau bersama bagi seluruh umat dan siapapun yang mempunyai kepedulian terhadap masalah-masalah lingkungan hidup dan usaha-usaha untuk menjaga, memperbaiki, melindungi dan memulihkannya.

KWI melihat tata kelola keadaban lingkungan merupakan persoalan besar bangsa ini. Setiap hari kita menyaksikan hutan, bumi serta alam semesta dirusak dan diekspolitasi. Hutan dan sumberdaya alam lainnya di kawasan Kalimantan, Sumatera, dan Papua menjadi saksi sebuah tata kelola lingkungan yang tidak menyentuh harkat dan martabat manusia. Gereja menyadari rusaknya keadaban lingkungan ini sebagai sebuah cermin nilai kemanusiaan yang makin merosot. Berbagai bencana alam terjadi karena seringnya kesalahan cara pandang manusia terhadap alam. Dalam melihat dan memperlakukan alam kita sering menggunakan cara pandang antroposentris. Pandangan antroposentris menempatkan manusia sebagai pusat dari alam, bahkan dipahami sebagai penguasa atas alam yang boleh melakukan apapun.

Sejauh ini Gereja sudah lama menaruh keprihatinan atas masalah lingkungan yang berakibat buruk pada manusia. Paus Paulus VI dalam Ensiklik Populorum Progressio (1967, No. 12) sudah mengingatkan semua pihak bahwa masyarakat setempat harus dilindungi dari kerakusan pendatang. Begitu pula Paus Yohanes II dalam Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis (1987, No. 34) yang menekankan alam ciptaan sebagai kosmos tidak boleh digunakan semaunya dan pengelolaannya harus tunduk pada tuntunan moral. Dampak pengelolaan yang tidak bermoral tidak hanya dirasakan manusia saat ini, juga generasi mendatang. Lalu selanjutnya Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Caritas in Veritate (2009, No. 48) juga menyadarkan bahwa alam adalah anugerah Allah untuk semua orang. Karenanya harus dikelola secara bertanggung jawab bagi seluruh umat manusia.

Dalam pesan pastoral tahun ini, kepada kalangan pebisnis, KWI berpesan tidak hanya mengejar keuntungan ekonomis, tetapi juga keuntungan sosial. Manfaat sosial itu berupa terpenuhinya hak hidup masyarakat setempat dan adanya jaminan bahwa sumber daya alam akan tetap cukup tersedia untuk generasi yang akan datang. Gereja berharap agar gerakan ekopastoral ini menjadi bagian penting untuk memperbaiki sikap manusia terhadap alam. Gereja Katolik Indonesia menaruh perhatian besar pada masalah lingkungan. Gereja melakukan banyak usaha seperti edukasi, advokasi dan negosiasi dalam mengatasi perusakan lingkungan yang masih berlangsung.

Batas Keseimbangan Alam

Alam memiliki batas-batasnya sendiri. Ketidakseimbangan alam yang ditandai dengan berbagai bencana di berbagai tempat menjadi refleksi serius Gereja tahun ini. Gereja menyadari kehancuran lingkungan hidup merupakan buah dari sistem ekonomi yang dijalankan dalam semangat penuh keserakahan. Tuhan menciptakan alam semesta untuk diolah demi terciptanya kesejahteraan bersama. Alam perlu diolah dan dimanfaatkan dalam batas-batas kewajarannya. Namun kenyataannya watak rakus penguasa dan pengusaha justru sering mengabaikan keseimbangannya.

Mereka menghabiskan kekayaan alam hanya untuk memperkaya dirinya sendiri. Dampaknya, manusia bukan hanya mudah terkena bencana, melainkan juga karena mereka sedikit demi sedikit mulai terasing dari alam semesta.Kini manusia mulai kehilangan dayanya untuk mengembalikan alam sesuai dengan keseimbangannya. Alam telah dirusak oleh watak manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri serta generasinya sendiri tanpa memikirkan yang akan datang. Di negeri ini, begitu jelas batas kewajaran alam sering dirusak pula melalui upaya sistematis kebijakan publik yang hanya berpikir jangka pendek. Negara tak lagi memikirkan untuk apa semua dilakukan kecuali hanya untuk kepentingan politik jangka pendek. Hutan Indonesia yang menjadi tumpuan dunia untuk bisa bertahan lebih lama semakin hari semakin keropos. Kenyataan ini didukung oleh lemahnya penegakan hukum atas setiap penyelewengan yang terjadi.

Alam tidak lagi bersahabat dengan manusia saat keseimbangannya diluluhlantakkan atas nama pertumbuhan ekonomi. Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi setiap saat, tidak pernah menjadi pengingat yang baik, bahwa hal tersebut terjadi karena satu-satunya alasan yang valid, yakni ketika alam tidak lagi dihargai keseimbangannya. Saat alam diperas kekayaannya hanya untuk kepentingan politik ekonomi kaum tertentu.

Saat ini kita sudah berkali-kali merasakan akibat atas murkanya alam ini. Tapi kita tidak pernah memahami dengan sungguh-sungguh. Beberapa tahun yang akan datang, dampak yang lebih hebat atas kemurkaan alam ini jelas akan datang bila tidak ada langkah kongkrit, reflektif dan menyadari sepenuh hati dalam bentuk kebijakan yang berwawasan lingkungan.

Gereja Katolik Indonesia telah melakukan berbagai upaya nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Upaya-upaya itu antara lain edukasi yaitu menyadarkan umat akan pentingnya lingkungan hidup untuk keberlangsungan hidup semua ciptaan termasuk manusia; advokasi yaitu membantu dan mendampingi para korban kerusakan lingkungan hidup agar mendapatkan kembali hak hidupnya secara utuh; negosiasi  yaitu menjadi penghubung antara masyarakat dengan pemerintah dan pelaku usaha, menyangkut kebijakan dan pemanfaatan sumber daya alam agar tidak memiskinkan masyarakat. Gereja telah berusaha melakukan berbagai gerakan di lingkup keuskupan, paroki, sekolah, biara, komunitas basis, kelompok kategorial  dan bersama dengan masyarakat umum lainnya. Namun kerusakan lingkungan hidup terus saja terjadi, bahkan dari waktu ke waktu semakin meningkat.

*Penulis adalah Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) KWI

Gereja (Yang) Berdialog

Oleh : Aloys Budi Purnomo, Pr

Yang dimaksud dengan “Gereja” dalam konteks ini adalah Gereja Katolik Roma. Dengan siapa Gereja berdialog?

Secara teori, sekurang-kurangnya tiga level bisa disebut. Pertama, Gereja berdialog dengan agama-agama lain, termasuk di dalamnya agama-agama asli atau sering disebut aliran Kepercayaan. Inilah yang disebut dengan dialog interreligius.

Kedua, Gereja berdialog dengan Gereja-Gereja Reformasi, atau sering kita sebut Gereja-Gereja Kristen Protestan, dengan segala denominasinya, entah yang masuh dalam arus main-stream; entah yang masuk dalam kelompok Pentakostal. Inilah yang disebut dengan dialog ekumenis. Termasuk di dalamnya adalah dialog dengan Gereja-Gereja Ortodoks dan Anglikan.

Ketiga, Gereja berdialog dengan kebudayaan-kebudayaan dan realitas kemiskinan yang mewarnai kehidupan umat manusia. Ada beragam dan begitu banyak kebudayaan yang terbentang di seluas dunia sepanjang masa. Demikian pula dengan realitas kemiskinan!

Secara teologis, ketiganya disebut sebagai “trianggel dialog” atau “dialog tiga sayap” atau “dialog tiga matra”. Masing-masing menggunakan metode dan pendekatannya sendiri sesuai dengan “intentio dantis” (=maksud dan tujuannya)-nya.

Ketiganya mempunyai landasan dalam dokumen Konsili Vatikan II. Pertama-tama adalah Lumen Gentium sebagai landasan dogmatis. Kedua, Orientalium Ecclesiarum (Gereja-Gereja Timur) dan Unitatis Redintegratio (Gereja-Gereja Kristen Protestan) dalam rangka dialog ekumenis serta Nostra Aetate (Dialog dengan Agama-Agama Non-Kristiani) dalam rangka dialog interreligius. Akhirnya, Gaudium et Spes dalam rangka dialog dengan dunia serta realitas kemiskinan yang terdapat di dalamnya.

Untuk apa Gereja berdialog? Pertama-tama, dialog dan kerjasama dilakukan dalam rangka saling menghargai dan menghormati indahnya keberagaman sebagai realitas yang tak terbantahkan! Menurut ajaran para Bapa Konsili Vatikan II, Gereja tidak menolak apa pun yang baik, benar, dan suci yang ada dalam agama-agama dan kebudayaan lain. Gereja juga mengakui bahwa meskipun dalam banyak hal terdapat perbedaan, namun dalam agama-agama dan kebudayaan itu terdapat kebenaran yang menyinari semua orang (lihat Lumen Gentium 16 dan Nostra Aetate 2).

Kedua, dialog bertujuan untuk menyatakan kesetiakawanan Gereja bagi mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Kegembiraan dan harapan dunia adalah kegembiraan dan harapan Gereja juga (bdk. Gaudium et Spes 1).

Ketiga, dialog merupakan kesempatan untuk memberikan kesaksian tentang perihidup Krstiani! Maka dialog tidak dalam rangka “mempertobatkan”, melainkan dalam rangka “menghadirkan” wajah Gereja di tengah kebersamaan dan keberagaman.

Jadi, tujuan utama Gereja berdialog adalah untuk merajut kehidupan yang lebih bersaudara, harmonis, adil, dan sejahtera! Dan Gereja yang berdialog itu tidak lain adalah kita, seluruh orang beriman Katolik, mulai dari Paus, Uskup, Imam, Diakon, Biarawan-Biarawati, dan Umat Awam! Singkatnya, Gereja yang berdialog adalah saya dan Anda, baik secara pribadi (individual) maupun bersama (eklesial)! Selamat berdialog!