Memelihara Kedamaian Melalui Dialog

paus fransiskus

Source: satuharapan.com

Oleh : Romo Agustinus Ulahayanan, Pr*)

Kedamaian merupakan suatu kebutuhan yang hakiki dari setiap komunitas manusia yang merupakan makhluk sosial. Maka kedamaian harus selalu dipelihara oleh setiap insan manusia. Untuk itu, senantiasa perlu diupayakan pencegahan, penghentian serta pemulihan konflik, disertai perwujudan, pelestarian dan pengembangan kedamaian. Dialog merupakan suatu cara terbaik untuk pemeliharaan kedamaian. Tulisan singkat ini merupakan suatu sumbangan pemikiran tentang dialog, dan dimaksudkan untuk mengajak, memotivasi serta membekali pelbagai pihak agar dapat mengembangkan budaya dialog secara terus-menerus demi terpeliharanya kedamaian.

Pengertian Dialog

Pada umumnya, dialog dimengerti sebagai percakapan antara dua pihak atau lebih untuk membahas, mendalami, dan menyepakati sesuatu, atau pun untuk menyelesaikan suatu masalah, misalnya konflik. Sesungguhnya dialog mempunyai pengertian yang lebih luas dan mendalam dari pengertian umum ini.

Dialog merupakan semangat dan cara hidup manusia, meliputi pola berpikir, merasa, berbicara, bersikap, dan berbuat, dalam mewujudkan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, berbudaya, beriman dan beragama, sebagai makhluk hidup sosial yang beradab. Dialog dalam arti ini mencakup, mendasari, dan mewarnai semua bentuk relasi yang positif dan konstruktif antara dua pihak atau lebih, baik secara individual mau pun komunal kategorial dan komunal teritorial.

Dialog merupakan konsekuensi serentak tanda dan sarana perwujudan hakikat dan eksistensi manusia, khususnya kehidupan bersama sebagai masyarakat majemuk, yang para anggotanya, baik secara individual mau pun komunal, berbeda satu dengan yang lain dari segi eksistensi atau ekspresi identitas personal, sosial, kultural dan religius, namun sama dari segi esensi atau hakikat dari apa yang terekspresi.

Selanjutny patut ditegaskan bahwa dialog adalah suatu spiritualitas, yakni suatu corak hidup rohani yang berkaitan erat dengan orang-orang yang hidup karena daya, kehendak dan karya Allah. Esensi setiap agama adalah hubungan dialogis antara Allah dengan manusia yang terwujud dan tercermin dalam hubungan antara manusia dengan manusia. Maka dialog merupakan perwujudan serentak tuntunan perilaku serta ciri khas identitas diri dan kehidupan setiap individu mau pun setiap komunitas manusia yang percaya dan bertakwa kepada Allah, berbudaya, dan bernegara.

Beberapa bentuk dialog

Pertama, dialog pengetahuan, yakni aneka macam aktivitas pendalaman dan sharing pengetahuan secara ilmiah, konseptual dan teoritis. Misalnya analisa sosial, refleksi etis dan moral, berteologi lintas agama, berantropologi lintas budaya. Kedua, dialog penghayatan, yaitu sharing kesadaran, perasaan, pengalaman dan tanggapan iman, hati, batin sehubungan dengan kenyataan hidup yang dihadapi, sesuai dengan nilai-nilai yang dianut. Ketiga, dialog pengamalan atau dialog aksi, yakni aneka macam kegiatan nyata sebagai upaya pemberdayaan, pemotivasian, pendalaman, dan ungkapan kepedulian publik akan aneka masalah kehidupan, misalnya keadilan sosial, gender, HAM, dan lingkungan hidup, entah berupa afirmasi atau konfrontasi untuk transformasi. Keempat, dialog kehidupan, yakni pelbagai tata cara hidup sehari-hari, mencakup cara berpikir, merasa, berkata-kata, bersikap, dan berbuat.

Beberapa manfaat dialog

Melalui dialog, orang ditantang dan termotivasi untuk mendalami, memahami, dan peduli akan kenyataan hidup sehari-hari, berintrospeksi dan membaharui diri, mengkritisi, memurnikan dan mendayagunakan nilai-nilai  yang dianutnya, serta dapat mengambil pilihan dan sikap yang berguna bagi pihaknya mau pun pihak lain.

Juga dengan dialog, orang-orang yang berbeda dalam hal tertentu, misalnya asal, agama, dan kebudayaan, dapat saling belajar, membagi, dan memperkaya pengetahuan iman dan kasih, saling memahami, menghargai, toleran dan solider, sehingga terciptalah kehidupan bersama yang rukun, aman dan damai.

Karena itu, dialog merupakan cara yang paling tepat dan efektif untuk mencegah mau pun menghentikan konflik, untuk menciptakan perdamaian dan memulihkan akibat konflik, serta untuk melestarikan dan mengembangkan kedamaian.

Dasar dan prinsip dialog

Ada empat macam dasar utama dialog, yang patut disadari dan dipatuhi sebagai alasan, pegangan serta motivasi bagi setiap insan manusia, yang hidup bersama dan membutuhkan kedamaian. Pertama, dasar kemanusiaan, yakni nilai-nilai kemanusiaan yang universal, hakikat dan eksistensi, kewajiban dan hak, kebutuhan dan potensi manusia. Kedua, dasar kultural, yakni nilai-nilai budaya atau kearifan lokal yang khas dari suatu kelompok masyarakat adat atau suku tertentu mau pun nilai-nilai budaya bangsa yang umum secara nasional. Patut dibanggakan bahwa secara socio-cultural, dialog merupakan ciri identitas bangsa Indonesia, baik secara lokal mau pun nasional.

Ketiga, dasar religius, yakni nilai-nilai kepercayaan atau keimanan dan keagamaan yang bersifat rohani dan merupakan tuntunan perilaku serta ciri identitas diri dan kehidupan para penganutnya. Keempat, dasar konstitusional, yaitu konstitusi atau komitmen sosial suatu negara sebagai landasan serta norma penuntun hidup bersama, yang dipatuhi semua warga. Norma konstitusional pada umumnya berupa Ideologi, Undang-Undang Dasar, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. Misalnya Negara Kesatuan Republik Indonesia mempunyai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD ’45, serta aneka macam Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah.

Selain dasar-dasar tersebut, ada pula sejumlah prinsip dialog dengan sukses. Prinsip-prinsip tersebut antara lain adalah: kemajemukan yang merupakan konsekuensi dari hakikat dan eksistensi manusia sebagai makhluk sosial; mutuality atau interaksi timbal balik para pihak satu sama lain sebagai subyek penentu dialog; kemitraan dan kesetaraan; persaudaraan universal atas dasar kemanusiaan; keseimbangan atau keadilan secara proporsional; kepercayaan yang diboboti dengan positive thinking dan praduga bukan negatif; dan dinamika yang mengutamakan proses kebersamaan.

Hambatan dialog dan solusinya

Dialog sering terhambat karena tidak ada kemauan dan keberanian untuk berjumpa, bertatap muka serta berwawan hati, karena ada aneka macam pemahaman, sifat, sikap, dan tindakan negatif. Misalnya, primordialisme, sektarianisme, diskriminasi, fanatisme sempit, radikalisme, akuisme, negative thinking, prasangka buruk, tidak percaya, culas, menutup diri, dan lain-lain. Apalagi bila ada pihak tertentu yang melihat dan menjalani dialog lebih sebagai “sidang pertarungan kebenaran” daripada sebagai proses pengembangan hubungan baik. Juga karena kurangnya kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan, tidak ada perekat yang kuat, dan mudah termakan hasutan dan provokasi buruk.

Setiap hambatan dapat diatasi dengan cara semua pihak berkomitmen dan berusaha untuk mengembangkan dan berpegang teguh pada hal yang positif yang merupakan kebalikan dari hambatan yang ada. Perjumpaan persaudaraan, penghargaan, kepercayaan, kejujuran, dan ketulusan satu sama lain adalah pintu utama memasuki dialog yang sejati dan sukses.

Kesimpulan

Dialog merupakan konsekuensi serta tanda dan sarana perwujudan hakikat dan eksistensi manusia. Karena itu dialog merupakan ciri, kebutuhan, hak, dan kewajiban seluruh manusia. Maka setiap insan manusia, termasuk setiap warga negara Indonesia, mutlak perlu mengembangkan budaya dialog dalam hidup setiap orang, keluarga, komunitas masyarakat, bangsa dan dunia. Setiap perilaku yang menghambat, bertentangan dengan atau merusakkan dialog berdampak buruk bagi kemanusiaan, konstitusi, budaya, dan agama, maka mutlak perlu dihindari dan diatasi. Pelakunya patut ditindak sesuai ketentuan yang berlaku.

*) Penulis adalah Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan, Konferensi Waligereja Indonesia

Konsili Vatikan II dan Islam

Oleh : Justinus Prastowo

Islam adalah realitas baru yang dihadapi Gereja saat ini. Hampir sepanjang sejarah, Gereja memiliki perhatian dan hubungan khusus dengan Yahudi. Kini, Islam dipandang sebagai mitra baru dalam dialog dan kehidupan sehari-hari. Lalu, bagaimana Konsili Vatikan II (KV II) memandang Islam?

Islam dan Dunia Baru

Tak dipungkiri kristianitas memiliki relasi khusus dengan Yudaisme. Akar tradisi yang sama merupakan titik temu sekaligus titik tengkar. Hubungan benci tapi rindu mewarnai sejarah hubungan Kristen-Yahudi. Pasang surut hubungan ini membawa keprihatinan besar bagi Paus Yohanes XXIII. Sejak awal ia menghendaki suatu pernyataan khusus yang ditujukan bagi bangsa Yahudi. Sudah saatnya babak baru diretas. Pertikaian dan kesalahpahaman masa lalu dilupakan; dan kesadaran baru ditumbuhkan. Di tengah ikhtiar memperbaiki hubungan dengan Yahudi inilah kesadaran para Bapa Konsili mekar dan cukup menggembirakan; keinginan untuk membuat suatu pernyataan lebih luas bagi agama-agama non-Kristen, tak hanya Yahudi melainkan juga Hinduisme dan Islam. Bahkan Islam mendapat tempat khusus di seksi 3 Nostra Aetate. Fakta mutakhir, jumlah pemeluk Islam kini mencapai 19 persen dari penduduk dunia dan akan terus bertambah.

Konsili mengakui, Islam punya kedekatan sejarah dan ajaran dengan Kristen. Mereka menyembah Allah yang hidup dan berdaulat, penuh belaskasihan dan mahakuasa. Umat Islam pun menyandarkan diri sepenuhnya pada ketetapan Allah seturut iman Abraham, menghormati Yesus sebagai nabi dan menghargai keperawanan Maria. Namun, Konsili juga mengakui sering timbulnya pertikaian dan permusuhan antara umat kristiani dan muslim. Dengan jujur dan tulus, Konsili mendorong kedua pihak mengubur masa lalu yang kelam dan membuka pemahaman baru bagi misi kemanusiaan yang hakiki.

Pertikaian Teologis ke Imperatif Etis

Lantas apa yang baru dalam KV II? Konsili tampak ingin menghindari perselisihan teologis dan justru menjadikan perbedaan sebagai titik pijak dialog dan kerjasama. Alih-alih dimensi teologis, KV II justru menekankan imperatif etis: pentingnya Kristen dan Islam bekerjasama memajukan kemanusiaan dan keadilan sosial. Meski menghindari pembahasan soal anggaran, Konsili jelas tak hendak mengaburkan ajaran sebagai titik tolak. Justru kesahihan klaim kebenaran kini tidak diletakkan pada pendakuan subyekktif yang kerapkali membawa perselisihan, melainkan pada sejauh mana praksis dijadikan tolok ukur, dari orthodoksi ke orthopraksis.

Perhatian Gereja pasca-Konsili juga kian jelas. Paus Paulus VI membentuk Sekretariat -kini menjadi Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. Berbagai dokumen yang memperjelas maksud Konsili dan memberi pendasaran aksi diterbitkan. Paus Yohanes Paulus II adalah perwujudan semangat KV II dalam arti otentik. Seluruh masa kepausannya diabdikan untuk menunjukkan dan mengajak dunia berdialog sebagai saudara dan mengangkat martabat kemanusiaan yang dikoyak kebencian dan egoisme. Perjumpaan antariman lantas menemukan momen terbaiknya. Sejak pertemuan Tripoli tahun 1976, digelarlah Doa bagi Perdamaian di Assisi pada 1986, 1993m dan 2002, Sidang Antaragama di Vatikan tahun 1999, serta Kongres Agama-agama Dunia di Kazakhstan pada 2003. Paus Benediktus XVI pun menyambangi Turki sebagai bagian penting hubungan Islam-Kristen. Paus Fransiskus aktif menyerukan perdamaian di Suriah hingga perhatian besar bagi para pengungsi di Eropa.

Tantangan Baru

Jelas cita-cita Nostra Aetate tak mudah diwujudkan. Fundamentalisme agama masih saja kuat. Tendensi persaingan berebut pengikut tetap tak terhindarkan, terlebih dalam tata ekonomi-politik yang dipenuhi syakwasangka. Tapi aneka tantangan itulah yang justru seharusnya memacu dialog dan kerjasama yang kian erat. Kristen dan Islam ditantang untuk membuktikan klaimnya sebagai agama yang membawa damai-sejahtera melalui karya nyata. Ini hanya bisa diwujudkan melalui kerjasama di dunia yang makin terhubung erat ini. Mencintai sesama lalu menjadi ajakan yang sederhana sekaligus menantang siapa saja. Dalam terang KV II, kita paham: ini tak mudah, tapi bukanlah hal mustahil.

 

Sumber : Majalah HIDUP, Tahun ke-68, 26 Januari 2014, hlm. 13

Forum Kristiani untuk Pengkaji Islam

Para Pemrakarsa ASAKKIA berfoto bersama Karel A. Steenbrink di UKAW Kupang. Dok.: ASAKKIA

Para Pemrakarsa ASAKKIA berfoto bersama Karel A. Steenbrink di UKAW Kupang.
Dok.: ASAKKIA

Dua belas pastor dan pendeta rekoleksi di Kupang, membentuk Asosiasi Sarjana Kristiani untuk Kajian Islam Indonesia. Visinya mewujudkan masyarakat Indonesia yang setara, penuh kasih, dan sejahtera.

Selasa pagi, 10 Desember 2013, Kupang, kota tepi pantai ujung Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, masih menyengatkan udara panasnya. Sebanyak 12 pastor Gereja Katolik Roma dan Pendeta Kristen Protestan dari berbagai denominasi berkumpul di salah satu ruangan di Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang. Mereka datang dari pelbagai tempat: Jakarta, Yogyakarta, Makassar hingga Papua; dan tentu saja Kupang sebagai tuan rumahnya. Para pastor dan pendeta tersebut memiliki latar belakang pendidikan dan profesi yang agak langka di negeri ini. Mereka dibekali dengan basis pendidikan teologi Katolik dan Kristen, tetapi kemudian melengkapi diri dengan training pengetahuan Islam; pemuka Gereja yang mempelajari dan bergumul dengan isu-isu Islam akademis.

Berduabelas, pada tanggal yang ‘historis’ (11-12-13), mereka mengesahkan berdirinya Asosiasi Sarjana Kristiani untuk Kajian Islam Indonesia (ASAKKIA). ASAKKIA didirikan pada 11 Desember 2013 dan berkedudukan di Pascasarjana Teologi UKAW Kupang, Jalan Adisucipto, Oesapa, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Selama dua hari, para ‘rasul’ Gereja yang menggeluti dunia Islam akademis itu menggelar rekoleksi. Dalam terang rohani dan pemahaman konteks pergumulan profesi serta panggilannya, mereka merumuskan butir-butir yang melandasi ASAKKIA. “Atas dasar iman kita kepada Allah yang Mahakasih yang mewujud dalam peristiwa Inkarnasi yang di dalamnya Allah berkenan membangun relasi dengan manusia melalui Yesus Kristus, kita pun diundang untuk membangun relasi dalam perjumpaan dengan saudara-saudari yang hidup bersama kita, dalam konteks Indonesia, khususnya umat Muslim. Hal ini sekaligus memenuhi panggilan eklesiologis yang mengajak kita untuk membangun refleksi iman secara kontekstual di tengah realitas keseharian kita, terutama di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Untuk itu, dibentuklah sebuah asosiasi sebagai wadah bagi para sarjana kristiani yang mau belajar dan menekuni kajian tentang Islam Indonesia. Dalam hal ini, sumber dan mitra belajar adalah tokoh intelektual, akademisi, pemuka agama umat Islam Indonesia.”

ASAKKIA mewujud sebagai sebuah asosiasi mandiri yang menjadi wadah para sarjana kristiani yang menekuni kajian Islam demi Indonesia yang damai, adil, dan rukun. Wadah ini menggantung visi: “Menjadi asosiasi yang melakukan kajian Islam untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang setara, penuh kasih, dan sejahtera.” Visi ini dijabarkan dalam tiga misi dasar. Pertama, memberdayakan para sarjana kristiani sebagai pengkaji Islam yang berkualitas. Kedua, melakukan kajian Islam yang kritis, komprehensif dan konstruktif. Ketiga, mengupayakan relasi dengan pemuka dan pemeluk agama lain.

Asosiasi ini diharapkan mampu menjadi forum kajian dan kerjasama untuk memenuhi panggilan demi terbangunnya relasi antara umat Kristiani dan Muslim dalam konteks Indonesia. Sasaran ASAKKIA adalah sebagai wadah para sarjana kristiani untuk mengaktualisasikan diri lewat studi dan kajian Islam sebagai pengajar, peneliti, dan pengabdi masyarakat.

Dalam pertemuan dua hari itu, dibentuk antara lain Pengurus Inti. Pendeta Fredrik Y. A. Doeka (Kupang) didaulat sebagai Ketua; Wakil Ketua Pastor Heru Prakosa SJ (Yogyakarta); Sekretaris Pastor Bartolomeus Bolong OCD (Kupang); Wakil Sekretaris Pastor Greg Soetomo SJ (Jakarta); dan Bendahara Pendeta Ruth Wangkai (Tomohon).

Greg Soetomo SJ

Sumber : Majalah HIDUP Tahun ke-68, 26 Januari 2014, hlm. 12

Karel A. Steenbrink; Ngajinya Islam, Imannya Katolik

Setelah undur dari dari biara, KArel A. Steenbrink belajar bahasa Arab dan Islam, hingga akhirnya tinggal beberapa bulan di Pondok modern Gontor; dan ikut sholat berjamaah. Ia mengisahkan peziarahannya.

Setelah undur dari dari biara, Karel A. Steenbrink belajar bahasa Arab dan Islam, hingga akhirnya tinggal beberapa bulan di Pondok modern Gontor; dan ikut sholat berjamaah. Ia mengisahkan peziarahannya.

Pada 16 Januari 1942, saya lahir dalam keluarga ‘ultra-Katolik’ di lingkungan masyarakat yang juga sangat Katolik di Breda, Belanda. Tak heran, di tengah-tengah suasana Katolik pra-Konsili Vatikan II, yang sangat mengagung-agungkan kuantitas dan banyak anak itu, saya terlahir sebagai anak ke-10 dari 12 bersaudara.

Usai sekolah menengah seminari, sebagai seorang frater SSCC (Congregatio Sacrocum Cordium Iesu et Mariae Necnon Adorationis Perpetuae Sanctissimi Sacramenti Altaris atau Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria), saya belajar teologi. Hanya beberapa tahun saja saya menjadi biarawan SSCC, kemudian berubah status menjadi awam dan mulai menekuni studi bahasa Arab dan Islam. Salah satu dosen kami yang memiliki reputasi tinggi ialah seorang guru besar yang juga Pastor Jesuit, Jean Houben, SJ (1904-1973) – ahli pemikiran filsafat Islam Klasik, khususnya Ibn Sina (980-1037) dan Ibn Rushd (1126-1198). Ia pernah mengajar di Beirut, Lebanon, dan Baghdad, Irak. Posisi keyakinan orang intelek ini sangat menarik. Menurutnya, orang Kristen Katolik maupun Protestan akan bersatu kokoh dan tak perlu ada perpisahan, jika keduanya berpegang dan setia pada ajaran Thomas Aquinas (1125-1274). Pararel untuk komunitas Muslim, hal yang sama akan berlangsung. Semua umat Muslim, baik Sunni atau Shi’a, maupun ahli fiqih atau penghayat tasawuf, akan bersatu jika berpegang pada ajaran Ibn Sina dan Ibn Rushd.

Perlu diketahui, Aquinas mengutip Rushd ratusan kali dalam karya-karya tulisnya. Ia menyebut Rushd sebagai musafir, yakni orang yang memiliki kejelian dalam menjelaskan dan menafsirkan. Siapa yang menjadi obyek interpretasi dua pemikir agung dari dua agama ini? Tiada lain ialah Aristoteles, sang filsuf klasik Yunani yang hidup tahun 350 SM.

Profesor Houben selalu memulai kuliahnya dengan beberapa uraian mengenai Aristoteles dan tak lupa memberikan kutipan bahasa Yunaninya. Dengan penuh kekaguman, Houben mendemonstrasikan bagaimana Ibn Sina dan Ibn Rushd  dengan penuh kebijaksanaan dan keberanian, bereksperimen dengan mengawinkan pemikiran Arab dengan Yunani. Hasil perkawinan inilah yang digunakan dan dikembangkan oleh para teolog Kristen abad XIII, salah satunya Thomas Aquinas. Setidaknya ada satu hal yang membuat saya terkesan, yakni kesimpulan intelektual Houben yang menggarisbawahi bahwa Aristoteles, bukan Abraham, yang menjadi titik kontak pertemuan antara Kristen dan Islam.

Demikianlah awal perjumpaan saya dengan Islam. Perjumpaan intelektual yang menjadi benih karier akademis yang saya tekuni hingga 40 tahun berikutnya.

Pada Maret 1970

Saya mengalami perjumpaan langsung dengan umat Islam yang konkret dan sungguh hidup. Ini terjadi di Indonesia. Saya mendapat beasiswa untuk tinggal enam bulan di pondok pesantren. Saking murahnya biaya hidup di pondok, jatah enam bulan bisa saya gunakan untuk satu tahun. Kota pertama yang saya datangi adalah Bandung, Jawa Barat. Untuk memperlancar bahasa Indonesia, tiap pagi saya ikut kuliah subuh pukul 05.00 di Masjid Mujahidin Bandung. Saya ikut duduk bersila dengan beberapa gelintir jamaah dan santri. Bandung kala itu terasa sangat sejuk dan tenang.

Rencana awal penelitian saya ialah studi tafsir Al-Qur’an di Indonesia. Lalu saya melihat, bahwa studi semacam itu melulu pekerjaan di perpustakaan dan membaca buku. Saya segera berbalik untuk mencari bentuk penelitian yang memungkinkan saya bertemu dan mengalami perjumpaan dengan orang-orang secara konkret. Pertanyaan pokok penelitian saya adalah bagaimana dunia pesantren memiliki kemampuan dan kelenturan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan pendidikan modern di Indonesia.

Saya berkeliling ke beberapa pesantren di Jawa dan Sumatera. Saya gunakan ‘metode bidan’ untuk penelitian ini. Metode ini ditanda dengan proses bertanya dan menunggu hingga realitas menampakkan diri. Kehadiran yang panjang saya alami di Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur. Posisi saya tinggal dan hidup di sana ialah sebagai orang Katolik dan tetap mau menjadi Katolik, tetapi ingin sungguh menghidupi seluruh cara hidup sehari-hari para santri itu.

Saya pun menghadap K.H. Imam Zarkasyi, pimpinan dan salah seorang pendiri pondok pesantren modern Gontor, agar diperbolehkan ikut sholat berjamaah. Kyai Zarkasyi merasa terkejut mendengar ide ini. Saya mengatakan, Allah yang menjadi kepercayaan orang Kristen itu sungguh satu, dan mengakui bahwa Muhammad sungguh nabi. Bagi saya, lebih mudah dan terasa nyaman di hati untuk membuat wudu dan shalat daripada ikut dia satu kelompok Kristen yang memiliki tatacara melambai-lambaikan tangan sambil beseru ‘Haleluya’. Tujuh kata al-Fatiha juga sangat dekat dengan doa Bapa Kami. Keduanya dimulai dengan pujian pada Pencipta alam semesta, harapan untuk berada di jalan yang lurus, dan mengakui bahwa manusia itu lemah dan bisa berdosa. Akhirnya, saya diperbolehkan untuk ikut shalat juga.

Pada acara perpisahan, sebelum saya pulang ke Belanda, Kyai Zarkasyi bertanya apakah ia diperbolehkan mendoakan saya agar menjadi seorang Muslim yang tulen dan penuh. Karena ‘Muslim’ itu artinya ‘berserah diri pada kehendak Tuhan’, saya pun tak berkeberatan. Bahkan, saya anggap ini merupakan gesture yang baik juga.

Sejak Tahun 1981

Saya diundang untuk mengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dan Yogyakarta, masing-masing sekitar tiga dan empat tahun. Pengalaman sekitar tujuh tahun ini tentu penuh dengan warna. Posisi saya sebagai seorang non-Islam yang mengajar Islam tentu perkara yang tak mudah. Di satu pihak, saya harus jujur dan setia pada keyakinan sendiri; dan di lain pihak, juga harus hati-hati agar tidak diberhentikan dari tugas atau hilangnya visum izin tinggal di negeri ini.

Akhir September 2001, hanya dua atau tiga minggu setelah tragedi World Trade Center (WTC), di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, secara tidak sengaja saya bertemu dengan seorang tokoh Islam di negeri ini. Ia menyandang posisi-posisi penting dalam peta organisasi Islam di sini. Awal 1980-an ketika saya mengajar di IAIN Ciputat, Jakarta, ia menjadi mahasiswa saya. Saya bimbing penulisan skripsinya dengan konsentrasi Irenologi, yaitu studi tentang isu-isu perdamaian. Ia membuat kesimpulan bahwa perang dalam sejarahnya lahir karena perbedaan dan pertentangan antara yang kaya dan miskin; masyarakat kaya menaklukkan masyarakat miskin. Hanya dengan mengurangi kesenjangan antara yang kaya dan miskin, perdamaian dunia menjadi lebih mungkin.

Pada saat pertemuan tak sengaja di bandara itu, ia sudah menjabat sebagai salah satu pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Baru saja MUI merumuskan sebuah fatwa untuk menanggapi ancaman Amerika Serikat menyerang Afghanistan yang memberikan perlindungan pada Osama bin Laden. Dalam suasana panas minggu-minggu itu, ia bercerita bahwa MUI sudah membuat draft fatwa.  Andaikata masyarakat Islam di Afghanistan diserang oleh kaum kafir Amerika, atas dasar ukhuwa islamiya, umat Muslim Indonesia akan membela mereka dengan panggilan al-jihad fi sabilillah. Saya mencoba menjelaskan padanya sikap Gereja Katolik lewat upaya Paus waktu itu. Meski dalam suasana konflik panas saat itu, Paus tetap pergi ke Kazahkstan dan menyerukan bahwa krisis Islam dan Kristen (Barat) hendaknya diselesaikan lewat dialog dan jalan damai.

Tokoh Islam ini tidak setuju dengan jalan yang diusulkan itu dengan dua alasan. Pertama, begitulah ajaran Islam mengenai perang atau jihad sebagai aksi bela diri, andaikata ada serangan dari pihak musuh. Kedua, ia sudah kerap melakukan dialog dengan pimpinan Gereja, tetapi tidak ada hasilnya. Kristenisasi dengan mengandalkan uang berjalan terus. Dialog hanya cocok untuk para akademisi dan aktivis perdamaian. Para ilmuwan kerap tidak paham dengan kerasnya kenyataan di lapangan.

Jadi, jangan membayangkan atau berpikir bahwa ahli agama bisa mengubah dunia …

 

Sumber : Majalah HIDUP, Edisi 04 Tahun ke-68, 26 Januari 2014, hlm. 8-11

Surat Gembala Konferensi Waligereja Indonesia Menyambut Pemilu Legislatif 2014 : Jadilah Pemilih yang Cerdas dengan Berpegang pada Hati Nurani

presisiumSaudara-saudari, segenap umat Katolik Indonesia yang terkasih,

Bangsa kita sedang bersiap diri menyambut Pemilu legislatif untuk memilih DPR, DPD, dan DPRD yang akan diselenggarakan tanggal 9 April 2014. Sebagai negara yang menganut sistem demokrasi, Pemilu menjadi peristiwa penting dan strategis karena merupakan kesempatan memilih calon legislatif dan perwakilan daerah yang akan menjadi wakil rakyat.

Hak dan panggilan ikut serta pemilu

Warga negara yang telah memenuhi syarat berhak ikut menentukan siapa yang akan mengemban kedaulatan rakyat melalui Pemilu. Mereka yang terpilih akan menempati posisi yang menentukan arah dan kebijakan negeri ini menuju cita-cita bersama, yaitu kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, selain merupakan hak, ikut memilih dalam Pemilu merupakan panggilan sebagai warga negara. Dengan ikut memilih berarti Anda ambil bagian dalam menentukan arah perjalanan bangsa ke depan. Penting disadari bagi para pemilih untuk tidak saja datang dan memberikan suara, melainkan menentukan pilihannya dengan cerdas dan sesuai dengan hati nurani. Dengan demikian, pemilihan dilakukan tidak asal menggunakan hak pilih, apalagi sekadar ikut-ikutan. Siapa pun calon dan partai apa pun pilihan Anda, hendaknya dipilih dengan keyakinan bahwa calon tersebut dan partainya akan mewakili rakyat dengan berjuang bersama seluruh komponen masyarakat mewujudkan cita-cita bersama bangsa Indonesia. Pertanyaannya adalah calon legislatif macam apa yang mesti dipilih dan partai mana yang mesti menjadi pilihan kita.

Kriteria calon legislatif

Tidak mudah bagi Anda untuk menjatuhkan pilihan atas para calon legislatif. Selain karena banyak jumlahnya, mungkin juga tidak cukup Anda kenal karena tidak pernah bertemu muka. Para calon legislatif yang akan Anda pilih, harus dipastikan bahwa mereka itu memang orang baik, menghayati nilai-nilai agama dengan baik dan jujur, peduli terhadap sesama, berpihak kepada rakyat kecil, cinta damai, dan anti kekerasan. Calon legislatif yang jelas-jelas berwawasan sempit, mementingkan kelompok, dikenal tidak jujur, korupsi, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kedudukan tidak layak dipilih. Hati-hatilah dengan sikap ramah-tamah dan kebaikan yang ditampilkan calon legislatif hanya ketika berkampanye, seperti membantu secara material atau memberi uang. Hendaklah Anda tidak terjebak atau ikut dalam politik uang yang dilakukan para caleg untuk mendapatkan dukungan suara. Perlulah Anda mencari informasi mengenai para calon yang tidak Anda kenal dengan pelbagai cara. Demi terjaga dan tegaknya bangsa ini, perlulah kita memperhitungkan calon legislatif yang mau berjuang untuk mengembangkan sikap toleran dalam kehidupan antar-umat beragama dan peduli pada pelestarian lingkungan hidup. Pilihan kepada calon legislatif perempuan yang berkualitas untuk DPR, DPD, dan DPRD merupakan salah satu tindakan nyata mengakui kesamaan martabat dalam kehidupan politik antara laki-laki dan perempuan, serta mendukung peran serta perempuan dalam menentukan kebijakan dan mengambil keputusan.

Kriteria Partai Politik

Kita bersyukur atas empat kesepakatan dasar dalam berbangsa dan bernegara yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 195, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Kita percaya bahwa hanya dengan mewujudkan keempat kesepakatan tersebut, bangsa ini akan mampu mewujudkan cita-citanya. Oleh karena itu, dalam memilih partai, perlu memperhatikan sikap dan perjuangan mereka dalam menjaga keempat kesepakatan tersebut. Hal yang penting untuk menjadi pertimbangan kita adalah partai yang memiliki calon legislatif dengan kemampuan memadai dan wawasan kebangsaan yang benar. Partai yang memperjuangkan kepentingan kelompoknya apalagi tidak berwawasan kebangsaan, hendaknya tidak dipilih.

Pengawasan atas Jalannya Pemilu

Setiap warga negara diharapkan ikut memantau dan mengawasi proses dan jalannya Pemilu. Pengawasan itu bukan hanya pada saat penghitungan suara, melainkan selama proses Pemilu berlangsung demi terlaksananya Pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Luber Jurdil). Kita perlu mendorong dan memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok dalam masyarakat yang dengan cermat mengikuti dan mengkritisi proses jalannya Pemilu. Hendaknya Anda mengikuti secara cermat proses penghitungan suara bahkan harus terus mengawasi pengumpulan suara dari tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS) sampai ke tingkat kecamatan dan kabupaten agar tidak terjadi rekayasa dan kecurangan.

Pemilu yang Aman dan Damai

Amat penting bagi semua warga masyarakat untuk menjaga pemilu berjalan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, damai, dan berkualitas. Jangan sampai terjadi kekerasan dalam bentuk apapun, baik secara terbuka mau pun terselubung, karena bila sampai terjadi kekerasan maka damai dan rasa aman tidak akan mudah dipulihkan. Perlu tetap waspada terhadap usaha-usaha memecah belah atau mengadu domba yang dilakukan demi tercapainya suatu target politik. Bila ada sesuatu yang bisa menimbulkan kerawanan, khususnya dalam hal keamanan dan persatuan ini, partisipasi segenap warga masyarakat untuk menangkalnya sangat diharapkan.

Calon Legislatif

Para calon legislatif, kami hargai Anda karena tertarik dan terpanggil terjun dalam dunia politik. Keputusan Anda untuk mempersembahkan diri kepada Ibu Pertiwi melalui jalan itu akan menjadi kesempatan untuk berkontribusi secara berarti bahkan maksimal bagi tercapainya cita-cita bangsa Indonesia. Karena itu, tetaplah memegang nilai-nilai luhur kemanusiaan, serta tetap berjuang untuk kepentingan umum dengan integritas moral dan spiritualitas yang dalam. Anda dipanggil dan diutus menjadi garam dan terang!

Saudara-saudari terkasih,

Ikutlah memilih. Dengan demikian, Anda ikut serta dalam menentukan masa depan bangsa. Sebagai umat beriman, marilah kita mengiringi proses pelaksanaan pemilu dengan doa memohon berkat Tuhan, semoga pemilu berlangsung dengan damai dan berkualitas serta menghasilkan wakil-wakil rakyat yang benar-benar memperhatikan rakyat dan berjuang untuk keutuhan Indonesia. Dengan demikian, cita-cita bersama, yaitu kebaikan dan kesejahteraan bersama semakin mewujud nyata.

Semoga Bunda Maria, Ibu segala bangsa, senantiasa melindungi bangsa dan negara kita dengan doa-d0anya.

 

Jakarta, Januari 2014

KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA

 

Mgr. Ignatius Suharyo                         Mgr. Johannes Pujasumarta

              Ketua                                                                         Sekretaris Jenderal

Surat Gembala Konferensi Waligereja Indonesia tentang Narkoba : Jadilah Pembawa Kehidupan! Lawanlah Penyalahgunaan Narkoba!

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan,

1. Setelah mengadakan studi mengenai narkoba dengan tema “Komitmen dan Peran Nyata Gereja Katolik Indonesia dalam Menyikapi Masalah Narkoba”, kami para uskup yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak seluruh umat untuk membela dan mencintai kehidupan dengan memerangi narkoba. Hari studi tersebut kami adakan karena keprihatinan kami yang mendalam atas semakin luasnya penggunaan narkoba di negeri kita ini. Penyalahgunaan narkoba merupakan kejahatan dan masalah sosial yang merusak sendi-sendi kehidupan baik bagi pengguna, keluarga, mau pun masyarakat. Terhadap kejahatan dan masalah sosial ini Gereja tidak boleh diam. Diteguhkan oleh sabtu Tuhan, “Aku datang, agar mereka semua mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10b), kami mengajak seluruh umat melawan kejahatan sosial tersebut.

Penyalahgunaan Narkoba

2. Istilah “narkoba” merupakan kependekan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

3. Pada saat ini ancaman penyalahgunaan narkoba sudah sampai taraf yang sangat mengkhawatirkan dan menunjukkan peningkatan yang serius, bahkan telah berkembang menjadi kejahatan yang terkait dengan kejahatan lainnya. Juga karena penyebarannya yang hampir merata di seluruh Indonesia dengan tidak mengenal status, golongan, profesi, latar belakang, agama, suku, ras, penduduk desa maupun kota dan lain-lain. Semua orang bisa menjadi sasaran kejahatan penyalahgunaan narkoba.

4. Pihak-pihak yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba adalah produsen, pengedar, dan, korban. Peranan mereka berbeda-beda, maka sikap kita dalam menghadapinya pun harus berbeda. Memproduksi narkoba secara tidak sah adalah kejahatan yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun. Mengedarkan narkoba secara ilegal juga merupakan kejahatan karena pengedar menebarkan bahaya bagi kehidupan sesama manusia. korban adalah pihak yang harus diberi empati dan pertolongan, agar mampu keluar dari situasinya.

Akibat

5. Penyalahgunaan narkoba dapat mengakibatkan gangguan perilaku, emosi, dan cara berpikir karena yang diserang oleh narkoba adalah susunan saraf pusat. kerusakan ini permanen atau bersifat tetap, tidak bisa disembuhkan dan hanya bisa dipulihkan. Karena itu, pengguna akan mengalami kerusakan fisik, psikis, dan spiritual. Kerusakan fisik yang ditimbulkan oleh narkoba menjadikan pengguna rentan terhadap banyak penyakit dan kelemahan fisik lainnya, yang tidak bisa dipulihkan seperti semula. Kerusakan psikis menjadikan pengguna tidak mampu bernalar secara baik dan bertingkah laku secara wajar. Kerusakan spiritual menjadikan pengguna tidak mempunyai pegangan hidup, tidak otonom dalam menentukan pilihan moral, dan mudah dipermainkan oleh keinginan-keinginan untuk mengkonsumsi narkoba.

6. Narkoba merusak relasi antar-anggota keluarga, kerukunan dan kebahagiaannya serta merusak ekonomi keluarga. Bila keluarga rusak, rusak pula masyarakat. Dalam masyarakat yang rusak itu tindak kejahatan meningkat, kekerasan dan kerusakan moral serta gangguan keamanan merajalela. Biaya penanggulangan dan rehabilitasi korban yang diperlukan sangat besar sehingga menggerogoti anggaran dan negara.

7. Penyalahgunaan narkoba adalah pelanggaran serius terhadap harkat dan martabat manusia. Narkoba merusak pribadi yang diciptakan Allah menurut citra-Nya, “menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). Kita menyadari, bahwa manusia itu mempunyai hak dan kewajiban untuk memelihara, mengembangkan, mencintai, dan membela kehidupan yang adalah anugerah Allah.

Pencegahan

8. Berhadapan dengan penyalahgunaan narkoba ini, kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus pro-aktif bergerak bersama warga masyarakat lainnya untuk mengatasi masalah ini. Sekuat mungkin kita harus mencegah penyalahgunaan narkoba, jangan sampai seorang pun jatuh menjadi korban narkoba. Dalam keluarga, para orangtua hendaknya sungguh-sungguh mencintai, mengenal, dan memperhatikan anak secara cermat. Jangan sampai anak merasa tidak diperhatikan dan tidak dicintai oleh orangtuanya yang sibuk dengan urusan sendiri. Pengalaman tidak diperhatikan, kesepian karena kurang cinta kasih dapat menjadi pintu masuk narkoba dalam hati dan pikiran anak, untuk mencoba obat-obat berbahaya itu. Di sekolah-sekolah (Kelompok Belajar, SD, SMP, SMA/SMK, dan Perguruan Tinggi) para guru dan dosen hendaknya memperhatikan secara teliti para peserta didik dan teman-teman pergaulan mereka, sehingga terlindung dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Kerjasama terpadu antara orangtua dan guru sangat penting bagi kehidupan generasi muda agar terhindar dari bahaya narkoba. Di samping keluarga dan sekolah, lingkungan kerja dan komunitas-komunitas pergaulan harus memperhatikan bahaya narkoba ini.

Rehabilitasi

9. Terhadap korban penyalahgunaan narkoba harus kita usahakan, agar mereka dirawat sehingga pulih dan sehat kembali. Menjebloskan para korban ke dalam penjara bukan penyelesaian masalah narkoba. Pada umumnya mereka adalah korban dari para produsen dan pengedar narkoba. Sedangkan di dalam penjara, keadaan mereka semakin diperparah. Ada baiknya agar para korban narkoba tidak dihukum penjara melainkan diwajibkan menjalani terapi rehabilitasi. Mereka yang berada dalam penjara perlu mendapat perhatian dan kunjungan yang menyembuhkan. Sedangkan para produsen dan pengedar narkoba seharusnya dihukum berat. Untuk memulihkan korban perlu diadakan rumah rehabilitasi yang dikelola secara benar dan bertanggungjawab dengan pendampingan media, psikologis dan rohani. Untuk itu, Rumah Sakit Katolik hendaknya secara pro-aktif ambil bagian dalam menolong korban penyalahgunaan narkoba.

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan,

Marilah kita bergerak bersama menjadi pembela dan pencinta kehidupan dengan melawan penyalahgunaan narkoba melalui kerjasama terpadu. Gerakan anti-narkoba harus kita mulai dari dalam Gereja sendiri dengan melibatkan pribadi-pribadi, keluarga, sekolah, kelompok, tim kerja, serta komisi-komisi pada tingkat paroki, keuskupan, maupun nasional menurut tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Kerjasama terpadu dengan pihak-pihak mana pun, baik Pemerintah (misalnya Badan Narkotika Nasional) mau pun swasta, harus kita lakukan untuk memperkuat gerakan anti-narkoba.

Korban penyalahgunaan narkoba adalah pribadi-pribadi yang telah kehilangan masa lalu dan masa kini, maka jangan sampai mereka juga kehilangan masa depannya. Selamatkan korban dan pulihkan kembali martabatnya.

Seraya memohon bantuan Bunda Maria, ibu kehidupan, semoga tekad kita menjadi pembela kehidupan dengan memerangi penyalahgunaan narkoba dilindungi dan diberkati oleh Allah yang mahakuasa dan mahapenyayang. Amin.

 

Jakarta, 15 November 2013

KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,

Mgr. Ignatius Suharyo                               Mgr. Johannes Pujasumarta

Ketua                                                                            Sekretaris

Militansi Kaum Muda Katolik

Oleh : Markus Marlon, MSC

Ketika menjelang Paskah atau Natal, setiap paroki menggelar Persiapan Rapat Panitia. “Para pemain” semuanya adalah orang-orang lama (stock lama) dan tak pelak lagi, Orang Muda Katolik (OMK) “hanya” kebagian sebagai “tukang parkir kendaraan” dengan kata-kata indahnya, “untuk pencarian dana”. Itulah kaum muda harapan masa depan Gereja.

Apa itu militansi?

Kalau kita mendengar kata militansi, maka yang muncul dalam benak kita adalah militer yang penuh dengan disiplin, aturan dan latihan perang. Militer juga bisa disamakan dengan fighting, contending, dan combating. Kita bisa menyimak pepatah-pepatah Latin berikut ini. “Militia est vita hominis super terram” – hidup manusia di dunia ini merupakan sebuah perjuangan (Ayb 7:1). Ada lagi, “Militae species amor est” yang berarti cinta itu adalah sejenis pertempuran (kata-kata dari Ovidius, penyair Romawi Kuno).

Memang, hidup itu adalah berjuang – vivere militare. Hal ini berarti secara implisit, orang yang tidak berjuang akan “ketinggalan sepur” – ketinggalan kereta. Para pemuda pada masa mudanya menggunakan energinya untuk berjuang semaksimal mungkin. Untuk itulah Soekarno (1901-1970) pernah berkata, “Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada tanah air dan aku akan menggoncang dunia.” Maka tidak mengherankan jika kaum muda Katolik sering berteriak “Pro ecclesia et patria.” – Demi Gereja dan Negara.

Melirik kiprah pemuda tempo dulu

Apakah terbayang dalam benak kita bahwa pahlawan nasional kita sudah menelorkan ide-ide yang cemerlang di kala mudanya. Kartini (1879-1904) – meski kini disebut sebagai “Ibu Kita Kartini” – meninggal pada usia sangat muda. Bayangkan, betapa mudanya ketika ia berangkat ke dalam ide-ide besar, dengan masterpiece-nya “Door Duisternis Tot Licht” – Dari Gelap Terbitlah Terang. Bung Hatta (1902-1980), belum berumur 30 tahun ketika ia menjadi tokoh perjuangan merintis kemerdekaan. Masa pertempuran untuk kemerdekaan berkecamuk juga menyediakan momentum untuk anak-anak muda. Di tahun 1946, Panglima Divisi Siliwangi adalah seorang pemuda bernama A. H. Nasution (1918-2000), umurnya 28 tahun. Sewaktu Yogyakarta diduduki tentara Belanda, seorang perwira yang berumur 28 tahun juga memimpin serangan umum untuk merebut kota itu. Namanya Soeharto (1921-2006).

Tetapi kita juga harus berbangga sebab para perintis kemerdekaan dan pecinta tanah air adalah “OMK” pada zamannya. Ignatius Slamet Rijadi (1927-1950) sang penggagas berdirinya KOPASSUS; Mgr. Soegijapranata, SJ (1896-1963) penggagas 100% Katolik 100% Indonesia; IJ Kasimo (1900-1986) penggagas program pembangunan pertama sesudah Republik Indonesia merdeka (Kasimo’s plan); Komodor Yos Sudarso (1925-1962); dan Alb. Adi Sucipto (1916-1947).

Bagaimana dengan kita?

Zaman sekarang ini, para pemuda Katolik tidak memiliki “musuh nyata” yakni penjajah (imperialis) seperti yang dialami oleh para perintis kemerdekaan. Namun, perjuangan pemuda Katolik zaman sekarang adalah melawan neo-imperalisme, yakni bentuk-bentuk baru imperalisme yang muncul dalam politik ekonomi dan praktiknya dalam politik kebudayaan. Melalui kebudayaan, maka pengaruh sebuah negara terhadap negara lain akan semakin kuat dan itu menyebabkan negara yang dipengaruhi itu akan semakin lemah dan selanjutnya tidak memiliki kepribadian nasional yang dapat dibanggakan untuk pembangunan kebudayaan sendiri (Yapi Tambayong dalam bukunya yang berjudul Kamus Isme-Isme dalam entri “Imperialisme”).

Sungguh berat tanggungjawab para pemuda Katolik zaman ini. Peribahasa “Dunia tidak selebar daun kelor” kini menjadi kenyataan. Dunia bisa dilipat, bahkan dunia ada dalam genggaman tangan. Perkembangan teknologi tidak terbendung dan para pemuda seolah-olah kemblegan (kejatuhan) informasi yang simpang-siur. Pergaulan menjadi dangkal dan persahabatan semu bisa dilakukan secara virtual atau dunia maya. Dan ini secara tidak langsung memengaruhi kehidupan para pemuda Katolik itu sendiri. Sebagai contoh, OMK mengadakan latihan koor. TIba-tiba ada SMS yang diterima oleh ketua pemuda yang mengatakan bahwa salah satu teman terlambat 30 menit karena ada acara di rumah om-nya. Dengan SMS “keterlambatan” maka seseorang merasa diri dimaafkan oleh komunitasnya dan lain kali boleh berbuat hal yang sama. Inilah yang menjadikan pemuda Katolik easy going dan tidak perlu berjuang dengan kejadian-kejadian yang sepele. Dan masih banyak lagi contoh-contoh serupa dari hal yang sepele hingga hal-hal besar.

Budaya atau kadang-kadang disebut “penyakit” instant atau shortcut, kini banyak dialami oleh pemuda kita. Pemuda Katolik perlu untuk digembleng di kawah candradimuka dengan melewati proses yang panjang dan berliku (the long and winding road). Orang-orang Romawi Kuno telah memberikan kata-kata indah serta motivasi untuk kemajuan para pemuda. Ovidius (43 SM – 17 SM) nama lengkapnya Publius Ovidius Naso, pernah berkata, “Dulcia non meruit, qui non gustavit amara” – yang tidak pernah mengecap kepahitan tidak akan dapat pula menikmati kemanisan. Peribahasa Indonesia yang berbunyi “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” dan “Per ardua ad astra” – bersusah payah untuk sampai bintang, memberi motivasi kepada para pemuda Katolik untuk berani berjuang dan bermental baja. Pemuda Katolik diharapkan menjadi garam dan terang dunia (Mat 5:13). Kebijaksanaan-kebijaksanaan lokal haruslah ditanam sejak dini, yakni cinta kepada budaya sendiri. Dari sana pula, mereka akan mengenal tokoh Gatotkaca yang memiliki “otot kawat, balung wesi” – otot dari kawat dan tulang dari besi.

Goenawan Mohammad dalam catatan pinggirnya mengutip ajran Konghucu atau Confusius (551-479 SM). “Pada umur 15 tahun, aku mengamalkan diri untuk belajar kebijaksanaan. Pada umur 40 tahun, aku tidak lagi punya rasa ragu. Pada umur 60 tahun, tak ada suatu pun di atas bumi yang bisa mengguncangkanku. Pada umur 70 tahun, aku dapat mengikuti imlak hatiku tanpa mengikuti hukum moral.” Usia tua memberikan kesempatan untuk kearifan, begitu Konghucu mengajarkan.

Peran Pemuda dalam Membangun Bangsa

YouthGroupOleh : Yayan M. Royani*

Soekarno berkata, “Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Pidato proklamator pada saat itu tentunya bukanlah pepesan kosong. Dalam sejarah revolusi bangsa ini, pemuda selalu berada di garda depan perubahan sosial. Hal tersebut tidak lepas dari hakikat pemuda dengan seluruh idealismenya. Pemuda merupakan simbol semangat, pantang menyerah, perlawanan, dan patriotisme.

Menengok lebih jauh, selain dengan mengangkat senjata, mereka pun berjuang dengan pena dan diplomasi. Bisa dilihat dari peran mereka dalam mendirikan organisasi-organisasi kemasyarakatan modern pada saat itu. Sebut saja Organisasu Budi Utomo (1908), Jong Sumatera Bons, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, Jong Indonesia, Indonesia Muda, Organisasi Perkumpulan Daerah, dan lain-lain. Dengan semangat membara mereka melakukan perubahan, sehingga memberikan pengaruh kuat bagi terdorongnya seluruh elemen bangsa untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan negeri ini.

Selain simbol inspirasi dan perjuangan pada masanya, para kaum muda juga telah menjadi pelopor persatuan dan kesatuan NKRI. Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 merupakan momentum tidak terbantahkan dari usaha mereka dalam menyatukan bangsa ini. Dengan penuh kesadaran dan kerelaan hati, mereka bersumpah untuk satu hati, satu tujuan mewujudkan mimpi melepaskan diri dari penjajahan dan kolonialisme.

Setelah kemerdekaan diraih, selanjutnya kaum muda tidak lantas berpangku tangan begitu saja. Mereka terus berusaha dengan gigih mempertahankan dan mengisinya dengan berbagai aksi nyata demi kemajuan negara. Peran mereka diperhitungkan tidak hanya dalam dunia perpolitikan praktis, lebih dari itu sejak tahun 1945, bahkan sebelum itu, telah berdiri berbagai komunitas studi di asrama-asrama mahasiswa. Oleh karenanya, tidak mengherankan apabila kritik-kritik cerdas lewat tulisan yang menghiasi berbagai media, merupakan buah karya kaum muda.

Sampai pada masa Orde Baru, di tengah cengkeraman penguasa yang otoriter, kaum muda terus berjuang melepaskan diri dari kolonialisme jilid dua dengan seluruh kesungguhan dan pengorbanan. Berbagai aksi yang dilakukan kaum muda, khususnya mahasiswa, menginspirasi seluruh elemen masyarakat untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang dirampas penguasa korup dan penindas. Sayangnya, fenomena heroisme kaum muda, ternyata harus berakhir seiring dengan runtuhnya rezim diktator tersebut. Di saat kaum muda dihadapkan dengan era reformasi dengan segala perubahan dan kebebasan, mereka berada di persimpangan jalan.

Disorientasi Kaum Muda Masa Kini

Melihat perkembangan saat ini, di mana kemerdekaan dan kebebasan telah diraih, justru kaum muda seakan kehilangan arah dan tujuan. Pesatnya perkembangan dalam segala bidang, khususnya teknologi dan informasi telah memanjakan mereka, sehingga “galau” dalam menentukan apa yang harus mereka capai. Teringat dengan segala keterbatasan yang dimiliki pemuda di masa lalu, toh mereka tetap semangat dan pantang menyerah. Mereka tidak pernah mengalami disorientasi untuk menggapai cita-cita yang mereka impikan.

Dengan telah diraihnya seluruh tujuan besar perjuangan nasional, kaum muda saat ini seakan tidak memiliki motivasi cukup kuat untuk melakukan perubahan yang berarti bagi Indonesia. Pemikiran tersebut tentunya sangat keliru, mengingat permasalahan dan tantangan yang dihadapi bangsa ini jauh lebih kompleks dan berat dibanding era memperjuangkan kemerdekaan.

Tidak hanya tuntutan peran dalam menyikapi permasalahan politik yang bobrok, hukum yang amburadul dan sistem ekonomi yang memiskinkan rakyat, lebih dari itu adalah tugas kaum muda untuk mendewasakan pemikiran dan membangun moral serta mental masyarakat. Dengan kata lain, sesungguhnya mempertahankan dan mengisi kemerdekaan lebih membutuhkan motivasi, semangat dan pengorbanan lebih besar, dibanding saat meraihnya.

Kesalahan dalam mengartikan perjuangan nasional hanya mencapai kemerdekaan dari penjajah secara kasat mata, telah berdampak kepada disorientasi kaum muda dalam mencari bentuk perjuangan/pengabdian untuk bangsanya. Seakan tidak ada common enemy, mereka terlena dengan stabilitas semu, padahal semakin hari problem kebangsaan semakin akut dan sudah berada di ujung tanduk kehancuran. Keadaan tersebut diperparah dengan pola pikir kaum muda yang lebih mementingkan pragmatisme sektoral daripada memikirkan kemaslahatan umum yang lebih luas, akibatnya rasa persatuan dan kesatuan semakin hari semakin terkikis dari hati sanubari mereka.

Kaitannya dengan hal tersebut di atas, terjawab sudah pertanyaan mengapa saat ini kaum muda lebih membutuhkan semangat dan motivasi lebih besar dibanding masa lalu? Oleh karena mereka hidup di zaman yang penuh dengan ketidakpastian, sudah saatnya kaum muda memastikan kehidupan dengan bangkit dan mengambil peran. Dalam upayanya tentu dibutuhkan keyakinan dan usaha besar untuk memastikan bahwa sosok mereka cukup bisa diandalkan untuk melakukan perubahan.

Mencari Stimulus

Secara umum, tantangan yang dihadapi kaum muda saat ini meliputi faktor eksternal dan internal. Kedua faktor tersebut bisa berupa tantangan-tantangan yang berasal dari luar maupun dalam diri kaum muda, termasuk tantangan kaum muda untuk bisa survive dalam ketatnya persaingan dan untuk bisa mempunyai bargaining position sebagai sosok perubahan yang diharapkan. Sementara yang lainnya berkaitan dengan permasalahan mental kaum muda yang saat ini telah mengalami dekadansi moral.

Lebih dalam lagi, faktor eksternal menitikberatkan kepada faktor yang menyebabkan kaum muda teralineasi dari definisi dirinya sendiri. Semakin deras arus globalisasi, semakin kaum muda tidak lagi mengenal identitas pribadi, keluarga, bahkan bangsa dan negaranya. Wujud alineasi tersebut adalah egoisme kaum muda yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dengan dilandaskan pada paham hedonisme yang mengusung filsafat kenikmatan, sehingga keberadaan mereka tidak mempunyai nilai sama sekali bahkan tidak jarang justru menjadi beban masyarakat.

Berdasarkan fakta kekinian, maka tidak banyak ditemukan kaum muda yang masih peduli dengan problem-problem sosial. Mereka lebih banyak disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya pemenuhan kebutuhan personal. Sudah jarang terlihat kaum muda melakukan aktivitas pendampingan, sebagai contoh, advokasi buruh, membela rakyat yang tertindas, dan kegiatan sosial lainnya. Sensitive minority mereka telah hilang seiring dengan lunturnya idealisme pengabdian mereka terhadap masyarakat.

Apabila kondisi seperti di atas tetap dibiarkan, maka kita tinggal menunggu masa suram depan suram negeri ini. Kaum muda terdidik yang mewakili masyarakat menengah (middle class), merupakan penyeimbang dari kebijakan-kebijakan penguasa yang tidak memihak kepada rakyat. Posisinya sebagai agen perubahan, mempunyai tugas berupa pemberdayaan civil society yang dapat terwujud apabila mereka terjun langsung dan berbaur dengan akar rumput. Dalam hal ini, kaum muda bukanlah seorang intelektual yang berada di menara gading.

Tidak lepas dari tanggungjawab terhadap masyarakat dan negara, kaum muda harus mempunyai kapasitas diri yang mumpuni. Mengingat beratnya tantangan pembangunan Indonesia di berbagai bidang, sebut saja ekonomi, sosial dan budaya, maka kemampuan mereka mutlak dibutuhkan. Sehingga apabila kaum muda tidak mendapatkan stimulus untuk secara profesional disiapkan sebagai pengganti generasi tua, niscaya tidak akan ada kesejahteraan di masa yang akan datang. Sebaliknya, harapan bagi bangsa yang gemah ripah loh jinawi menjadi hal yang mustahil terwujud.

Melihat kenyataan tersebut, dibutuhkan peran seluruh elemen untuk membangun kembali kepercayaan generasi muda akan potensinya yang terpendam. Berilah kesempatan kepada mereka untuk bisa menjalankan tugas dan wewenang. Lain dari itu, pembangunan kapasitas diri seorang pemuda merupakan hal yang tidak terpisahkan dari bagaimana masyarakat mempercayai kaum muda. Dalam hal ini, harus terjadi hubungan timbal balik antara pemuda dan generasi sebelumnya berupa proses pengkaderan dan pembekalan yang berkelanjutan. Para pendahulu diharapkan dapat terus mendampingi dan mengarahkan para generasi penerus untuk terus meningkatkan diri, sehingga di masa yang akan datang, mereka lebih baik dari generasi sebelumnya.

Adapun kaitannya dengan faktor internal, maka hal tersebut berhubungan dengan merosotnya mental kaum muda saat ini. Tidak jarang kita melihat berbagai bentuk problem sosial kemasyarakatan diakibatkan oleh perilaku kaum muda yang menyimpang. Dengan potensi yang besar untuk melakukan hal yang negatif, maka dapat menjadi sebaliknya ketika diarahkan kepada hal yang positif. Oleh karenanya, sedapat mungkin kaum muda dapat melampiaskan potensinya kepada hal-hal yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Selanjutnya pemerintah dapat memfasilitasi penyerapan potensi besar tersebut dengan memberinya ruang di berbagai segmen usaha, mau pun yang lain.

Menumbuhkan mental yang sehat tentunya tidak hanya dengan penyaluran potensi dan bimbingan praktis saja, lebih dari itu memerlukan sentuhan spiritual yang baik. Yaitu dengan menumbuhkan kesadaran akan keesaan Tuhan berlandaskan ajaran agama maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Usaha tersebut diharapkan dapat menjadi pondasi yang kokoh bagi terbentuknya mental pemuda yang bersih dan baik. Selanjutnya adalah menumbuhkan kembali rasa nasionalisme kaum muda, dengan harapan patriotisme perjuangan mereka dapat mewarnai kembali semangat persatuan dan kesatuan bangsa ini untuk terus menjadi lebih baik.

 

*Penulis adalah pegiat Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang.

 

Upaya Paus Fransiskus Menghentikan Serangan terhadap Suriah

Vatican PopeLima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB bertemu di New York untuk membahas usulan resolusi PBB untuk Suriah yang diusulkan negara-negara Barat, terutama Prancis. Namun, Rusia tetap bersikeras menentang resolusi yang dianggap sebagai provokasi terhadap sekutunya itu. Pembicaraan selama satu jam berakhir buntu.
Kelima negara anggota DK PBB dijadwalkan bertemu lagi pada Rabu (18/9). Prancis bersikeras agar kesepakatan penyerahan senjata kimia Suriah disertai tindakan kekuatan militer seperti pada Bab VII Piagam PBB.
Rusia menolak mentah-mentah usulan Prancis itu. Dunia berharap agar cara damai dan diplomasi politik dalam menyelesaikan persoalan Suriah. Perang akan menghancurkan keadaban kemanusiaan dan menimbulkan trauma sejarah yang panjang.
Jutaan manusia akan menjadi korban sia-sia maka dibutuhkan sebuah kesadaran bersama bagaimana pun perang bukan cara terbaik. Dalam hal ini, Paus Fransiskus berupaya mencari cara damai bagi Suriah. Lewat upaya–upaya diplomasi untuk melobi negara Eropa dan Amerika Serikat tidak menggunakan senjata menyelesaikan konflik Suriah.
Paus Fransiskus menulis surat kepada para pemimpin G-20 yang saat ini mengadakan KTT di kota St Petersburg, Rusia, menegaskan bahwa intervensi militer untuk mengatasi konflik di Suriah akan “sia-sia”. Paus mendesak mereka untuk mencari solusi diplomatik sebagai ganti dari rencana aksi militer itu.
Dalam surat terbukanya tersebut Paus Fransiskus menulis, “Kepada para pemimpin saat ini, kepada setiap (dari mereka) dan siapa saja, saya mengimbau mereka dengan hati yang tulus untuk membantu mencari cara-cara mengatasi konflik dan mengesampingkan solusi militer yang sia-sia.”
Paus Fransiskus juga mengecam masyarakat internasional karena membiarkan “kepentingan sepihak” telah mencegah mereka untuk mencari solusi. Walau prihatin dengan “pembantaian yang sedang berlangsung” di Suriah, Paus menolak seruan serangan militer terhadap pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Konferensi Waligereja Amerika Serikat juga telah mendesak Presiden Obama dan Kongres untuk tidak menggunakan kekuatan militer di Suriah. “Sebuah pertanyaan moral mendasar adalah akan lebih banyak atau lebih sedikit nyawa dan mata pencaharian yang dihancurkan intervensi militer itu?” tulis Timothy Kardinal Dolan dari New York dan Uskup Richard Pates, yang mewakili para uskup itu, kepada Kongres AS pada Kamis.
Gerakan masyarakat internasional menghentikan Perang sebagai solusi harus dilihat sebagai bentuk solidaritas internasional untuk menciptakan perdamaian sejati.
Hal ini ditegaskan dalam Pacem in Terris Paus Yohanes XXIII yang mengemukakan masalah perdamaian bukan hanya perkara tidak ada perang, melainkan erat terkait keadilan. Apabila masalah kemiskinan dan ketidakadilan tidak diatasi, mustahillah dunia ini dapat mengalami hidup secara damai.
Atas dasar hukum kodrat yang tertulis dalam hati manusia, Paus Yohanes XXIII memikirkan dan mengembangkan tatanan moral untuk menuntun kehidupan manusia menuju perdamaian dalam empat segmen, yakni ketertiban antara manusia, hubungan antarindividu dan negara, hubungan antarnegara, dan komunitas dunia.
Secara progresif, Paus Yohanes XXIII menempatkan hak-hak asasi manusia sebagai yang utama dalam mewujudkan perdamaian di dunia. Beliau juga membuat distingsi antara ajaran ideologi yang palsu dan gerakan-gerakan sejati yang menanggapi masalah sosial dan ekonomi.
Paus Yohanes XXIII menegaskan, ”tidak pernah dunia akan menjadi kediaman damai, selama damai belum menetap di hati semua dan setiap orang, selama tiap orang belum memelihara dalam dirinya tata-tertib yang oleh Allah dikehendaki supaya dilestarikan.” (PT 165).
Pada bagian terakhir beliau berharap dan berdoa, ”Semoga Kristus mengobarkan keinginan semua orang untuk mendobrak palang-perintang yang menceraikan mereka, untuk meneguhkan ikatan-ikatan cinta kasih timbal-balik, untuk belajar saling memahami, dan mengampuni siapa pun yang bersalah kepada mereka. Supaya turunlah damai atas kawanan yang dipercayakan kepada penggembalaan anda, demi kesejahteraan khas mereka yang paling jelata dan paling membutuhkan bantuan serta pembelaan…” (PT 171, 172).
Sikap menjadi dasar Gereja Katolik mengupayakan perdamaian dunia menjadi bagian integral keberimanan. Hal ini selaras dengan konsitusi kita memberikan kewajiban bagi negara untuk mengupayakan perdamaian dunia. Semoga perang bukan lagi cara dilakukan, melainkan bagaimana upaya–upaya di plomasi menciptakan solusi terhadap persoalan yang terjadi di Suriah
*Penulis adalah budayawan.

Setia Bersama Domba

yesus-gembala-domba

Kisah iman ini masih terkait dengan kisah iman yang lalu. Peristiwanya adalah “kecelakaan” yang menimpa rombongan Timin itu. Karena tiga ban bus sebelah kanan, depan, dan belakang pecah, otomatis bus juga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Bus yang kami tumpangi tak cukup hanya mengganti tiga ban, tetapi juga harus mengganti velg yang peyok. Karena itu, rombongan terpaksa menunggu bus pengganti yang akan menjemput ke TKP.

Saat Timin bersama rombongan sedang menunggu bus yang mereka tumpangi diganti bannya, tiba-tiba seorang bapak mendekati Timin. Dia adalah Pak Martin, salah satu umat Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang. Tampaknya, Pak Martin melihat Timin yang sedang berdiri di tepi jalan di dekat bus yang mengalami kecelakaan tunggal tersebut.

“Romo mau ke mana?” Ayo bersama saya?!” sapa Pak Martin. “Saya mau ke Ganjuran bersama rombongan ini,” jawab Timin. “Ayo ikut saya, nanti saya antar ke Ganjuran!”. “Terima kasih, Pak! Saya harus bersama mereka (yakni rombongan perjalanan yang akan pergi ke Ganjuran untuk merayakan Pesta HUT Imamat beberapa Pastor yang telah disebutkan sebelumnya).”

Pak Harsono dan Pak Alamsyah mendesak agar Timin menerima tawaran Pak Martin. “Supaya Romo tidak terlambat mengikuti perayaannya.” Timin tak bergeming. Prinsip yang dipegang Timin sederhana saja. Ia belajar setia menyertai kawanan dombanya yang sedang diserahkan kepadanya untuk disertai, termasuk yang ikut dalam rombongan itu. Maka, ia menolak tawaran Pak Martin dan desakan Pak Harsono dan Pak Alamsyah. “Saya berangkat bersama kalian. Maka, saya akan tetap bersama kalian dalam suka maupun duka!” sahut Timin.

Tawaran untuk bareng dengan rombongan lain juga diterima Timin. Namun, sekali lagi, Timin menolak, dengan alasan dan prinsip yang sama. Biarlah, sebagai seorang imam yang juga disebut pastor, yang artinya gembala, ia belajar setia menyertai domba-dombanya. Mana tega, membiarkan mereka terlantar tanpa gembala dalam keadaan yang tidak pasti menunggu kendaraan lain.

Timin tetap belajar setia bersama dengan umat yang berada dalam rombongan tersebut. Maka, Timin pun tetap setia menunggu bus lain yang akan datang menjemput mereka dan membawa mereka menuju Ganjuran. Meski cukup lama meunggu, semua harus tetap sabar dan setia.

Dalam keadaan itu, yang terngiang dalam benak Timin adalah sabda Sang Gembala, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya untuk domba-dombanya. Orang upahan yang bukan gembala dan bukan juga pemilik domba-domba itu, akan lari meninggalkan domba-domba kalau ia melihat sergala datang.” (Yohanes 10:11-12). Yang dihadapi Timin dan domba-dombanya memang bukan sergala. Dalam situasi itu, Timin belajar setia menyertai domba-dombanya. (Timin)

 

Sumber: Majalah INSPIRASI, Nomor 109 Tahun X September 2013, halaman 3.